Sabtu, 17 Januari 2009

Israk dan Mikraj dalam Setiap Salat
PERISTIWA Israk dan Mikraj merupakan perintah salat Lima waktu yang diringkas dari 50 rekaat. Semenjak itulah sejarah salat berlangsung untuk umat Nabi Muhammad saw, tentu saja pelaksanaannya berbeda dengan para rasul sebelumnya.
Kejadian itu mendorong beberapa ahli untuk mendefinisikan kembali arti salat sesungguhnya. Salah satu buku yang membahas tentang salat itu banyak ragamnya namun dari sekian banyak itu belum ada satu pun yang setidaknya mewakili suatu kaum. Seperti misalnya buku tentang salat dalam sebuah perspektif kaum marginal yaitu kaum sufi yang terkadang tidak terlalu membutuhkan dunia, tapi lebih mementingkan akhirat.
Buku yang berjudul "Salat dalam Perspektif Sufi" mencoba untuk membagi pengalaman dan menggugah kembali arti sebenarnya yang ditulis oleh para ulama dan cendekiawan muslim seperti Nurcholish Madjid, Abdullah Gymnastiar, Azyumardi Azra, Sudharmono, Muchtar Adam, Ulil Abshar, Jalaluddin Rakhmat dan penulis lainnya. Mereka menafsirkan bahkan menjelaskan kembali bahwasanya tasauf itu bagian dari agama walaupun banyak orang beranggapan kaum sufi adalah "orang-orang gila".
Sebetulnya, kaum sufi itulah orang-orang pilihan yang tenang hati dan pikirannya. Dari uraian di atas, dapat dibuat kesimpulan bahwa salat, demikian pula bentuk-bentuk ibadat lainnya seperti puasa dan naik haji, bersangkut kuat sekali dengan keteguhan jiwa dan ketabahan hati menempuh hidup, karena adanya harapan kepada Tuhan. Sedangkan harapan kepada Tuhan itu sendiri sadalah salah satu makna daripada iman, yang antara lain melahirkan rasa aman (hlm 26). Iman dapat diartikan percaya, setidak-tidaknya, menduga lebih tinggi lagi dari iman adalah 'ainal yaqin dan haqqul yaqin. Termasuk juga dalam pengertian iman adalah optimis (hlm 38).
Arkanul Islam atau "Dasar-dasar pokok penyerahan" dalam agama Islam, sebagaimana kita ketahui ada lima, lima unsur pokok yang terhimpun menjadi satu urut itu di antaranya terdapat ungkapan penyerahan "fisik" sebagai bentuk lain dari unit ihsan, yang berwujud dalam pelaksanaan "salat". Ketika fisik kita menyerah dengan ruku, sujud dan lain-lain.(hlm 43).
Di sinilah kita dituntut untuk memahami perbedaan dalam berbagai agama. Dalam Islam aspek ini disebut aspek syari'at. Kedua, aspek batiniah (esoteris) yang berkaitan dengan nilai-niali luhur keagamaan. Inilah yang dinamakan tasauf atau suluk. Sudharmono sendiri mengakui bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia harus menggali nilai-nilai tawasuf tanpa menafikan pentingnya syari'at.(hlm 49)
Sosialisasi tasauf
Memperkenalkan tasauf secara terang-terangan kepada masyarakat awam sangatlah perlu sebab betapa banyak yang belum begitu memahami dunia tasauf dan mengenal dengan jelas hanyalah kajian literatur saja bukan kajian lapangan. Celah agama sangat diperlukan karena dapat memberikan makna kehidupan ini sendiri.
Modernitas dan proses menuju modern gagal menyingkirkan agama. Itulah pentingnya salat baik berdiri, sambil tidur bila sakit, sambil berbaring bila tak bisa bergerak atau kemungkinan akhir disalatkan.
Nabi Muhammad saw. adalah seorang sufi sejati. Dialah pioner lahirnya tasauf itu sendiri, yaitu ketika malaikat Jibril membawa wahyu untuk pertama kalinya, di Gua Hira, dengan turunnya surat Al-Alaq, "Iqra..." Seluruh ajaran yang dibawa Rasulullah dan dipraktikkan dalam kehidupan dunia adalah keteladanan akhlak seorang hamba Allah dengan Ilahi, akhlak lahir dan akhlak batin. Akhlak lahir diaktualisasikan melalui syariat. Sedangkan akhlak batin diwujudkan melaui tasauf Rasul saw. (hlm 65)
Rasulullah pernah bersabda, "Barang siapa yang mengikuti sunahku ia adalah golonganku, jika tidak melaksanakannya maka ia bukan golonganku". Dari sabda tersebut kiranya bisa terbaca makna tersirat bahwasanya Nabi Muhammad saw. melakukan segala macam hlm dalam kehidupan adanya balance antara dunia dan akhirat.
Termasuk soal salat, Rasul bersabda, "Salatlah sebagaimana engkau melihatku salat." Banyak hadis yang menyatakan tentang hakikat salat ini, misalnya, "Sesungguhnya salat itu tiang agama. Barang siapa menegakkannya, berarti dia menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya, berarti dia telah merobohkannya".
Tetapi salat bukan seperti itu, salat bukan hanya tindakan dan ucapan tertentu, tetapi juga harus disertai dengan kesadaran hati. Salat itu harus disertai dengan gerakan-gerakan, akan tetapi untuk mengetahui bagaimnana Nabi salat merupakan suatu kemusykilan. (hlm 77-79)
Menurut Imam Al-Ghazali, salat yang pertama kali adalah berdiri. Berdiri yang baik tidak merapatkan kedua kaki dan tidak terlalu melebarkannya. Kedua kaki hendaklah tegak lurus menghadap kiblat dan tenang. Apabila berdirinya telah lurus, demikian pula seluruh anggota tubuhnya telah tenang sambil menghadap arah kiblat, hendaklah kita membaca surat An-Nas (surat ke-114) untuk membentengi diri dari gangguan setan. (hlm 82)
Bagaimana menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah? Dalam bukunya, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah seakan mengajak kita semua agar ketika melaksanakan salat terbetik dalam hati kita sebuah keagungan akan sesuatu yag kita sembah. Dalam setiap bacaan salat seyogianya kita meresapi apa yang terkandung di dalamnya.
Misalnya pembacaan surat Al-Fatihah dalam salat, beliau menegaskan bahwa ketika seseorang dalam salatnya membaca "Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam", Tuhannya berkata, "Hamba-Ku telah memuji-Ku", dan ketika membaca, "Maha Pemurah lagi Maha Penyayang", Tuhannya berkata, "Hamba-ku menyanjung-Ku", dan ketika membaca, "Yang menguasai hari pembalasan", Tuhannya menjawab, "Hamba-Ku selalu memuliakan Aku".(hlm 113)
Hampir sama pendapatnya dengan Ayatullah Jawadi Amuli, salah seorang murid Imam Khomeni, ia mengambil kesimpulan bahwa rahasia-rahasia salat adalah tiang-tiang agama. Jika rahasia-rahasia salat tersingkap, maka seluruh rahasia ibadah akan tersingkap. Maka sudah sewajarnya para pesuluk bermujahadah untuk menyingkap tiang-tiang rahasia agama hingga menerima agama secara menyeluruh dan menyaksikan kesempurnaanya. (hlm 167)
Sayyid Haidar Amuli menuturkan, kita tidak dapat meloncat ke tarekat dan hakikat tanpa melewati syariat. Karena itu, pada seluruh pembahasan dalam bukunya, dari awal sampai akhir, baik masalah tauhid, kenabian, imamah, puasa maupun salat, ia membaginya dalam tiga dimensi: dimensi syariat, dimensi tarekat, dan dimensi hakekat. (hlm 94)
Salat sebagai media untuk mengomunikasikan diri dengan Tuhan. Ada orang-orang tertentu yang sudah putus kabel penghubungnya dengan cahaya Illahi. Allah tinggalkan mereka dalam kegelepan sehingga mereka tidak bisa melihat. Kalau itu sudah terjadi, akalnya menjadi tumpul. Apa pun yang terjadi di sekitarnya dan masyhud (terlihat), tidak akan menjadi pelajaran baginya; apalagi hlm-hlm masmu' atau yang ia dengar (hlm 135).
Salat bermakna intrinsik (makna dalam dirinya sendiri) ialah diisyaratkan dalam arti simbolik takbir pembukaan itu (takbirat al-ihram), yang melambangkan hubungan dengan Allah dan menghambakan diri kepada-Nya. Jika disebutkan bahwa tujuan penciptaan jin dan manusia itu penghambaan kepada-Nya, maka wujud simbolik terpenting penghambaan itu ialah salat yang dibuka dengan takbir sebagai ucapan pernyataan dimulainya sikap menghadap Allah (147-148).
Salat bermakna pula instrumental karena ia dapat dipandang sebagai sarana untuk mencapai sesuatu di luar dirinya sendiri. Sesungguhnya adanya merupakan makna intrinsiknya juga. Maksudnya, jika seseorang dengan penuh kesungguhan dan keinsyafan menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kesehariannya maka tentu dapat diharap bahwa keinsyafan itu akan memunyai dampak pada tingkah laku dan pekertinya, berupa kebaikan.
Meskipun pengalaman akan kehadiran Tuhan merupakan kebahagiaan tersendiri yang tak terlukiskan dalam kata-kata, tidak kurang pentingnya ialah perwujudan keluarnya dalam tindakan sehari-hari berupa perilaku berbudi pekerti luhur, sejiwa dalam perkenan atau rida Tuhan. Inilah makna insrumental salat; jika salat tidak menghasilkan budi pekerti luhur, maka -sebagai "instrumen"-ia akan sia-sia belaka. ((158-159)
Salat dan ibadah lainnya adalah sesuatu yang dijelaskan Alquran. Sesuatu yang dijelaskan Alquran memunyai takwil dan tafsir. Takwil berkenaan dengan makna-makna batin, sedangkan tafsir berkaitan dengan makna-makna lahiriah. Karena takwil merupakan perwujudan hakikat, bukan pemahaman, maka takwil akan tampak di hari tersingkapnya segala rahasia.
Dalil lain yang menjelaskan bahwa salat dan ibadah lainnya mempunyai rahasia adalah karena salat dan ibadah lainnya merupakan suatu eksistensi seperti eksistensi lainnya yang ada di bumi dan langit (hlm 170). Salat pun mempunyai rahasia-rahasianya baik rahasia niat bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala, rahasia takbirnya, dan rahasia-rahasia bacaannya. Dalam sebuah riwayat dikatakan, "Tidak ada salat tanpa membaca Al-Fatihah", rahasia berdiri, ruku dan sujud, rahasia qunut, tasyahud, dan taslim (176-191).
Setiap orang Islam bisa bahkan dianjurkan mengalami mikraj. Nabi sendiri pernah bersabda, "Ashsalatu mi'rajul mu'minin" (Salat adalah mikrajnya orang-orang beriman). Salat yang benar-benar salat adalah ritual yang menjadi sarana bagi orang beriman untuk "naik" melampaui keadaan-keadaan material dan duniawi yang mengungkungnya untuk kemudian "kembali" kepada Sumber Roh Kebenaran Murni, yaitu Allah (199).
Nilai dan kualitas ibadah salat seseorang bergantung pada kekhusyukannya. Semakin tinggi tingkat kekhusyukannnya, semakin besar kemungkinan diterimanya oleh Allah SWT. Karena khusyuk menjadi tolok ukur kualitas salat, maka orang yang menunaikan salat haruslah memahami khusyuk dan berbagai permasalahannya.
Untuk meraih tingkat khusyuk perlulah perjuangan, pertama, hudhurul qalbi (menghadirkan hati), kemampuan mengendalikan hati adalah kunci terpenting dalam permasalahan ini. Hati yang bermasalah terlihat dari kemampuannya melaksanakan tugas, sebagaimana sakitnya mata akan terlihat dari kemampuannya melihat.
Kedua tafahum, yaitu bersungguh-sungguh memahami makna setiap ucapan ibadah, terlebih dalam salat. Sebab di dalam salat itu terkandung beberapa unsur penting yang berpengaruh kepada beberapa unsur penting yang berpengaruh kepada kepribadian seseorang sekaligus memunyai konsekuensi amal.
Ketiga ta'dzim, yaitu pengagungan kepada Allah dan keyakinan akan ke-Mahabesaran-Nya. Sifat ini lahir lewat proses tafakur, yaitu perenungan terhadap ciptaan-Nya. Tafakur adalah aktivitas pencarian suatu hakikat, dalam hlm ini adalah Allah SWT. Aktivitas seperti ini haruslah melahirkan keyakinan sadar terhadap ke-mahabesaran Allah SWT, sekaligus sadar terhadap kelemahan diri atau yang diciptakan-Nya.
Keempat, haibah, yaitu ketakutan sekaligus pengagungan kepada-Nya, karena keserba mahaesa-an yang ada pada-Nya. Haibah ini meuncul karena pengetahuan tentang dirinya dan Allah SWT.
Kelima, raja', yaitu pengharapan yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT; semoga semua amalan itu diterima Allah SWT. Sifat penuh harap ini akan mendorong untuk meningkatkan nilai atau esensi ibadahnya, terutama salat.(203-207)
Salat khusyuk adalah sesuatu yang sangat dirindukan orang yang mau melaksanakan salat dengan baik. Salat khusyuk bukan hlm yang teramat sulit atau mustahil dilakukan, walaupun memang tidak semudah dikatakan. Bagi kita, yang terpentig adalah "berusaha sekuat tenaga untuk memperbaiki mutu salat", dengan harapan semoga kegighan kita dalam perjuangan tersebut berbuah karunia Allah, yaitu pertolongan-Nya agar kita dapat menikmati salat khusyuk dengan baik dan benar.(219-220).
Ada yang mengatakan bahwa khusyu dalam Alquran adalah sebagai berikut: (1) Khusyu dalam penglihatan (pandangan), sebagaimana dalam firman-Nya: "Dengan khusyuk penglihatan-penglihatan mereka" (Al-Qamar:7)
(2) Khusyuk hati, sebagaimana dalam firman-Nya: "Apakah belum datang waktunya untuk orang-orag yang beriman itu untuk mengkhusyukan hati mereka demi mengingat Allah" (Al-Haddid:16). (3) Khusyuk suara, sebagaimana dalam firman-nya, "Telah khusyuk suara-suara kepada Al-Rahman (Tuhan yang Maha Pemurah) hingga tidak engkau dengar selain bisikan." (Thaha:108) Kekhusyuan bisa diperolah lewat usaha disertai pula doa. Di bawah in adalah doanya Imam Ali Karamallahuwajhah:
Ya Allah,
Janganlah Engkau putuskan dariku kebaikan-Mu, Ampunan-Mu, dan kasihsayang-Mu. Wahai Zat yang kasih sayang-Nya meliputi segala sesuatu. Wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku hati yang khusyuk dan keyakinan yang tulus Jangan Kau buat aku lupa untuk berzikir kepada-Mu. Jangan Kau biarkan aku dikuasai oleh selain-Mu. Jadikan Engkau sahabat pada saat-saat ketakutanku. Jadikan Engkau benteng pada saat-saat ketakutanku. Selamatkan aku dari segala bencana dan kesalahan. Lindungilah aku dari segala ketergelinciran. Jagalah aku dari datangnya ancaman, palingkanlah dari diriku pedihnya azab-Mu dan muliakanlah aku dengan memelihara kitab suci-Mu yang mulia dan bereskanlah bagiku agamaku, duniaku, dan akhiratku. Semoga shlmawat dan salam disampaikan Kepada Muhammad saw. dan keluarganya yang suci.
Doa di atas adalah salah satu dari kumpulan doa yang disampaikan oleh Imam Ali k.w. dinukil dari sebuah buku yang berjudul Ad'iyatul Imam Ali1. (do'a Imam Ali). Salah satu kelebihan mazhab ahlul bait dibandingkan dengan mazhab-mazhab yang lain adalah perbendaharaan doanya.(246)
Titik kulminasinya dari salat ala sufi ini ialah berusaha untuk mencapai maqam tertinggi ialah menuju tingkat tuma'ninah, kedamaian hati ketika menghadap-Nya tidak ada lagi yang bisa menguasai kita selain Allah SWT sebagai pencipta.
Akhirul kalam buku ini sebagai pedoman wajib bagi siapa saja yang ingin tahu bahasan lebih memperdalam dan menambah wawasan atau menambah referensi dari referensi-referensi yang telah ada. Bisa dikatakan sebagai buku wajib bagi orang yang ingin memperbarui salatnya walaupun buku ini berisi tulisan-tulisan sederhana namun sangatlah penting diperlukan dalam kehidupan sehari terutama yang berkenaan dengan ibadah ritual semacam salat, setidaknya sebagai acuan menuju tercapainya cita-cita dalam salat yakni khusyuk.(Hikmat Nugraha Mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab IAIN Sunan Gunung Djati Bandung)***

Peta Kekuatan Teori Sosial
• Judul Buku : Teori-Teori Sosial-Observasi Kritis terhadap
• Para Filosof Terkemuka
• Penulis : Peter Beilharz
• Penerjemah : Sigit Jatmiko
• Penyunting : Kamdani
• Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
• Cetakan I : Juni, 2002
• Tebal Buku : xxxi + 403 halaman
PERUBAHAN sosial yang terjadi pasca keruntuhan komunis dan disusul oleh pergantian abad, telah menyadarkan para ilmuwan sosial bahwa dewasa ini, dunia membutuhkan konsepsi praktis dari teori-teri sosial. Daftar kebutuhan masyarakat terhadap berbagai pemecahan masalah di awal abad ini, memerlukan konsepsi baru dalam memahami realitas sosial yang telah berkembang dengan cepat dan sangat jauh. Pertanyaan yang sering muncul adalah sepenting apakah teori sosial bagi kita?
Teori sungguh bermanfaat. Ia memungkinkan dan membantu kita memahami lebih baik segala yang telah kita ketahui pada tahap pertama secara intuitif. Teori memberi jalan bagi setiap orang untuk memulai suatu tindakan. Namun, teori senantiasa bersifat majemuk dan multisentral. Inilah yang menyebabkan teori secara menyeluruh dikesani sulit karena ia memunyai tingkat pemahaman yang berstrata. Namun demikian cara kerja teori sosial, tergantung kepada kegairahan, semangat, kecurigaan, keragu-raguan, toleransi, kesabaran, dan keputusan penggunanya. Sikap teoritis adalah sikap yang senantiasa terbuka, karena teori adalah suatu kultur dan bukan sekadar alat.
Buku ini, dalam racikan Peter Beilharz, merupakan sebuah panduan untuk mengenal sejumlah teori sosial terkemuka. Sebagai panduan, buku ini bukan sekadar alat maupun kamus. Buku ini ditujukan bagi kalangan pelajar, mahasiswa, atau siapa saja, yang

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda