Sabtu, 17 Januari 2009

Kenangan untuk Sang Guru

Untuk para jundi dakwah ataupun saudara2ku yg masih di persimpangan
jalan..



Sebuah artikel yang dimuat oleh harian umum
al-Ahraam (Mesir, awal abad 20) telah membuat Sang Guru dan
murid-muridnya gelisah.

Bagaimana tidak, artikel yang ditulis oleh si Fulan
itu berisi pemikiran yang sangat bertentangan dengan
nilai-nilai masyarakat.

Si Fulan mengatakan bahwa tidak ada kewajiban bagi
manusia untuk menutup auratnya. Sebab secara fitrah,
tiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.
Maka
ia menyerukan agar budaya telanjang itu dilestarikan
di tengah masyarakat.

Maka para murid yang merasa marah, langsung membuat
artikel bantahan dan siap dikirim ke harian umum
yang
sama. Namun sebelum itu, mereka mengutus salah
seorang
murid bernama Mahmoud yang merupakan penulis artikel
bantahan itu, untuk meminta pendapat dan izin dari
Sang Guru.

"Ya, Guru. Bagaimana pendapat anda?" tanya Mahmoud
pada Sang Guru yang tampak terdiam lama setelah
membaca artikel bantahan itu.

"Ananda..." Sang Guru menatap Mahmuod. "Artikelmu
ini
sangat bagus dan penuh argumentasi yang jitu.
Tapi..."

"Tapi apa ya, Guru?" tanya Mahmoud heran. Wajah Sang
Guru yang teduh itu berubah galau. Ditatapnya
artikel
bantahan yang tergenggam di tangnnya.

"Dalam pikiranku, tergambar beberapa dampak dari
tulisanmu ini jika ia jadi dimuat," ujar Sang Guru
pelan sambil kembali menatap Mahmoud.

"Pertama, artikel yang ditulis si Fulan itu
sangatlah
tajam, menusuk hati kita semua. Sementara konsumen
pembaca harian al-Ahraam itu sendiri relatif sedikit
dibanding jumlah penduduk Mesir secara keseluruhan.
Dan rata-rata, mereka tidak membacanya dengan
serius."

Mahmoud menyimak uraian Sang Guru dengan hati
bertanya-tanya. Ia belum paham maksud gurunya itu.

"Jika kita menurunkan bantahan terhadap artikel
tersebut, maka akan timbul beberapa titik rawan.
Diantaranya, justru akan mengekspos artikel tersebut
dan memancing keingintahuan bagi mereka yang belum
membacanya. Sementara yang sudah membaca, akan
kembali
terpancing untuk membaca dengan serius.
Dengan demikian, tanpa sadar kita telah memicu
perhatian masyarakat kepada sesuatu yang buruk, yang
bisa saja mendatangkan ketidakbaikan bagi
orang-orang yang
berjiwa lemah. Kalau artikel si Fulan itu kita
diamkan
saja, insya Allah ia akan tenggelam dengan
sendirinya," tutur Sang Guru pelan.
Mahmoud masih tampak belum puas dengan penjelasan
itu,
meski ia mulai bisa meraba maksud gurunya.

"Ananda, BANTAHAN ADALAH SALAH SATU BENTUK TANTANGAN
YANG AKAN MEMANCING SIKAP KERAS KEPADA YANG
DIBANTAH. Dan sekalipun ia menyadari bahwa ia salah,
tapi BANTAHAN ITU AKAN MEMBUATNYA BERSIKUKUH PADA
KESALAHANNYA.
Ketahuilah, Anakku, si Fulan itu telah terpengaruh
oleh
sebuah lingkungan yang membuatnya berpikir seperti
itu. Dan aku melihat, TUJUANNYA MENULIS ARTIKEL ITU
BUKANLAH UNTUK MENGUNGKAPKAN APA YANG MENJADI
KEYAKINANNYA. MELAINKAN SEKEDAR MENCARI PERHATIAN
DENGAN CARA MENGHALALKAN SEGALA CARA."

Sang Guru diam sejenak. Sementara Mahmoud yang duduk
di hadapannya masih menunggu kelanjutan kalimatnya
dengan raut serius.

"Ananda, jika sampai si Fulan bersikukuh dalam
kesalahan
itu akibat bantahan yang kita sampaikan, maka secara
tidak langsung kita telah menghalangi pintu taubat
baginya. Si Fulan itu masih muda. MEMBUKAKAN PINTU
KEBENARAN BAGINYA JAUH LEBIH BAIK DARIPADA
MELEMPARKANNYA JAUH-JAUH DARI KEBENARAN YANG
SEBENARNYA MENJADI HAK DIA.

Justru kewajiban kitalah untuk membantunya meraih
kebenaran itu. Aku tidak ingin, emosi yang bermain
dalam dada kita membuat seseorang terhalang dari
hidayah Tuhan. Begitulah pemikiranku. Bagaimana
menurutmu, Anakku?" Sang Guru menutup penjelasannya.

Mahmoud yang sejak tadi diam menatapnya, perlahan
menunduk. Kini semakin disadarinya betapa Sang Guru
adalah manusia yang sangat bijak. Sosok yang penuh
kharisma dan telah melebur ke dalam kancah
perjuangan
secara jasad, ruh, akal, dan hartanya. Pengetahuan
yang dalam dan hubungannya yang erat dengan Tuhan
telah menjadikan pandangannya demikian luas,
nalurinya
peka, mata hatinya tajam, jauh menembus ke depan.
Ya,
ia telah dianugerahi pandangan ke depan, sesuatu
yang jarang
dimiliki oleh orang biasa.

Perlahan Mahmoud mengangkat kepalanya. Ditatapnya
wajah Sang Guru sambil tersenyum. "Anda benar sekali
ya, Guru. Saya setuju dengan pendapat anda."

Sang Guru pun tersenyum melihat muridnya mau
memahami
apa yang ada dalam pikirannya. Maka perlahan
dirobeknya artikel yang tergenggam di tangannya saat
itu.

Epilog

Waktu terus berlalu, dan artikel si Fulan yang
membahayakan itupun berlalu begitu saja. Masyarakat
sepertinya tidak terusik sama sekali. Namun, apakah
yang terjadi pada si Fulan sendiri? Sejarahlah
kemudian yang mencatat bahwa ia telah menjelma
menjadi
sosok paling heroik di masyarakat Mesir.

Ia telah tercatat sebagai salah seorang penulis
yang gagah berani, yang menyuarakan kebenaran dengan
suara lantang meski penjara mengurung jasadnya. Ia
telah menjadi orang terdepan dalam perjuangan
menegakkan kebenaran di Mesir dan menutup sejarah
hidupnya sebagai seorang pejuang di tiang gantungan.

Dialah... Sayyid Quthb!
Sedangkan sang Guru adalah Imam Hasan Al Banna

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda