Sabtu, 17 Januari 2009

Episode 1
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Hakim Mengajak Anah Berbulan Madu Ke Malaysia

Ke mana kuturut langkah pada-Mu
Di antara kepul debu lusuh hidupku
Ke mana kaki meraih misteri Zat-Mu
Menyeruak batin kumal sajadahku
Kulebur segala rasa dalam rindu suara-Mu
Rabbi, biarkan aku jadi milik-Mu!
Bandara Cengkareng yang jadi rebutan Banten, Jawa Barat dan Jakarta, hiruk-pikuk oleh suara orang-orang yang mengantar pergi hadai-taulan ke luar negeri atau ke luar Jawa, untuk mencari pengharapan hidup yang lebih baik. Atau mereka yang menyambut kedatangan kerabat dari shopping di Singapura, relasi bisnis yang kalah berjudi di Macau dan Las Vegas, bahkan penyelundup obat bius yang memporak-porandakan generasi muda Indonesia. Mereka berbaur menghiasi bandara udara yang sempat heboh karena hendak dijual ke pihak swasta!
Juga ada isak-tangis, ada doa dan harapan yang digantungkan pada para tenaga kerja wanita, yang berjalan satu-satu memasuki boarding pass. Mereka rata-rata berjilbab. Ada yang hendak ke Arab Saudi, Taiwan, Hongkong, dan Malaysia. Mereka tidak berani menoleh lagi karena takut tidak jadi berangkat nantinya! Buat mereka, jika menengok lagi, itu berarti melihat lagi keutuhan sebuah keluarga milik mereka! Suami dan anak! Bagaimanapun, berkumpul bersama keluarga tentu lebih nikmat daripada memeras keringat di negeri orang! Apa hendak dikata? Tuntutan ekonomi lebih mendesak ketimbang mengikuti kata hati! Tapi, mereka masih bisa merasakan doa-doa suami, anak, dan kerabat, yang berharap mereka akan terhindar dari majikan yang zalim! Yang suka memperkosa para pembantunya sendiri, kemudian mencampakkannya! Astaghfirullah……
Siti Nurkhasanah dan Hakim terselip di sana. Mereka mulai memasuki pintu boarding pass. Mereka menoleh dan melambaikan tangan kepada para pengantarnya; Pak Hari Natadiningrat, Natalia, Diana, Pak Hidayat dan istrinya, serta Bashir! Mereka pergi ke Malaysia bukan untuk mempertaruhkan jiwa dan raga demi sesuap nasi bagi orang di rumah seperti para TKW itu! Mereka justru hendak bersenang-senang. Berbulan madu!
Rencana bulan madu ke Malaysia itu muncul begitu saja dari mulut Hakim! Tanpa rencana! Bagi Anah, berbulan madu ke negeri jiran ini ibarat sebuah anugerah. Dirinya seperti terlepas dari rasa ketertekanan yang maha dahsyat.
Itu mulai terasa ketika Anah tahu, bahwa ayah kandungnya adalah Pak Hari Natadiningrat- pemilik perusahaan di mana dia bekerja sebagai dokter di klinik perusahaan, dan ibu kandungnya adalah Natalia, mantan model, artis, serta istri dari seorang menteri orde baru yang sudah almarhum. Baginya, mengetahui siapa orangtua kandungnya adalah kenyataan yang seperti sebuah batu besar yang menimpa jiwanya! Sangat dahsyat dampaknya! Menyesakkan hatinya!
Saat itu Anah tidak ingin berlama-lama melihat Pak Hari dan Natalia! Apalagi berada di dalam pelukan mereka! Terasa panas dan sangat menyiksa! Bayangan menakutkan. ketika mereka membuang dirinya yang masih bayi di stasiun kereta api Cilegon terus berkelebatan! Mengombang-ambingkan jiwanya! Ya, betul dia sudah memaafkan mereka! Terlebih.lebih ketika tahu, bahwa Natalia sudah bertobat dan masuk Islam. Tapi. tetap saja tidak mudah baginya untuk terus berlama-lama berkumpul bersama mereka, yang sudah menelantarkannya dalam hitungan seperempat abad! Apalagi ketika mereka merencanakan akan menikah secara Islam dan mengajak dirinya beserta Hakim berbulan madu ke Eropa, hal itu makin menyudutkan kalbunya! Bulan madu bersama mereka? Hal yang tidak pernah terpikirkan olehnya!
"Bapak dan mamamu banyak melakukan dosa, Anah." kata Pak Hari kala itu dengan perasaan tak terlukiskan. "Untuk menebus dosa, Bapak beserta mamamu akan menikah. Secara Islam di masjid….”
"Alhamdulillah ...semoga Bapak dan Mama berbahagia dan mendapat ridha Allah,” kata Anah, antara suka cita dan perasaan aneh lainnya. Mereka orangtua kandungku? Begitu batinnya masih bertanya-tanya dengan perasaan tidak menentu.
"Iya, Anah. Semoga dengan pernikahan ini, dosa Mama dan Bapak diampuni Allah Subhanahu Wata'ala….." Natalia juga ikut berbahagia
"Amien….." Anah memperlihatkan wajah bahagia pada mereka, walaupun hatinya merasa gundah gulana. Dia termenung di sebelah Hakim, yang sejak tadi memegangi lengannya. Jilbabnya yang menutupi sebagian kepalanya, semakin menyembunyikan penderitaannya.
"Itulah sebabnya, Bapak beserta mamamu mengajak kamu untuk berbulan madu ke Eropa," Pak Hari tersenyum penuh harap.
"Bulan madu ke Eropa?" Anah bingung menatap Hakim.
"Bapak yang menanggung semua biaya perjalanan kalian. Semoga dengan cara ini, kita bisa semakin mengenal satu sama lain," Pak Hari mengemukakan rencananya dengan harapan Anah dan Hakim menyetujuinya.
Episode 2
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
"Kamu mau kan, Anah?" Natalia memohon, ketika melihat di dalam sorot mata Anah ada keragu-raguan. "Iya kan, Hakim?" desaknya pada Hakim.
"Saya ...saya terserah Anah saja," Hakim gelagapan menatap Anah.
"Wah, kalau sampai nggak mau, keterlaluan, deh!" Diana yang sejak tadi diam, ikut nimbrung.
Begitu juga Bashir. "Saya mau jadi guidenya!" katanya tertawa.
Pak Hari dan Natalia tertawa. Tapi, Anah dan Hakim tampak tertekan sekali.
"Anah belum bisa menjawab sekarang. Semuanya harus dibicarakan dulu dengan suami,” Anah menatap Hakim, yang tampaknya juga kebingungan.
Pak Hari dan Natalia saling pandang. Sorot mata mereka tampak menahan gejolak antara kecewa dan kesabaran. Mereka ingin sekali mengatakan, bahwa bulan madu ini adalah sebuah perintah, bukan ajakan! Tapi mereka sadar, bahwa betapa mereka sudah menyia-nyiakan Anah sepanjang hidupnya! Rasanya mereka tidak pantas memaksakan kehendak mereka terhadap Anah! Biarlah Allah yang berkehendak!
"Baiklah. Anah ...kalau itu memang jawaban kamu," Pak Hari mencoba menguatkan perasaannya.
"Bapak dan Ibu kapan menikah?" Hakim mencoba mengganti topik.
"Rencananya ... kami akan menikah minggu depan,” Natalia tersenyum bahagia.
"Besoknya, kami akan langsung berbulan madu ke Eropa,” Pak Hari menjelaskan rencana besar hidupnya.
"Mama menunggu jawaban kamu secepatnya,” Natalia makin berharap. Malah cenderung memohon dengan sangat pada Anah. Itu tampak pada binar bola matanya yang biru.
"Insya Allah ...Anah akan secepatnya memberi kabar," kata Anah dengan perasaan tidak enak.
Saat itu Hakim makin erat menggenggam tangan Anah. Ada perasaan gelisah mengalir ke tubuh Anah!
Pak Hari dan Natalia berusaha untuk memahami kondisi yang sedang dihadapi Anah beserta Hakim. Akhirnya, mereka dengan lega hati pamitan pulang ke Jakarta. Di hati mereka masih tersimpan perasaan berdosa pada Anah, yang sudah mereka sia-sikan selama hidupnya!
"Kenapa kamu menolak ajakan orangtuamu, Anah?" Bashir tampak sangat kecewa.
"Aku tidak menolak!" Anah gusar. "Aku hanya belum menjawabnya saja!"
"Tapi, sorot matamu jelas menolak!" cecar Bashir.
"Bashir! Ini bukan urusan kamu!" Hakim menegur.
"Maafkan Bashir, Kak," Bashir tahu diri dan bergegas pergi meninggalkan Anah dan Hakim, yang dipagut gelisah.
Malam harinya, Anah berbaring dengan gelisah di tempat tidur. Hakim sedang shalat isya. Anah gelisah bukan hanya memikirkan ajakan Pak Hari dan Natalia, tapi juga memikirkan, apakah Hakim akan menyentuhnya atau tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Hakim melipat sajadah dan meletakkannya di kursi. Dia duduk di sisi pembaringan. Memunggungi Anah. Dia juga gelisah. Dia bingung harus mengatakan apa pada Anah, wanita yang terpaksa dinikahinya!
"Kak?" suara Anah memecah kesunyian.
Hakim menoleh.
Anah mengemukakan isi hatinya. "Kenapa, Kak? Sudah seminggu usia pernikahan kita, Kakak masih belum juga menyentuh Anah. Apakah Anah kurang berkenan di hati Kakak?" Anah terisak dan duduk menyender di tempat tidur. Matanya berkaca-kaca.
Episode 3
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Kurangkai tasbih pengharapan
Mengucurkan doa dalam zikir
Membungkus gelap malam
Di hening tahajjud dan istighfar
Ya, Allah, jadikan aku kekasih-Mu!
Siti Nurkhasanah masih duduk menyender di tempat tidur. Air matanya terus saja mengalir bagai sumber air di pegunungan, membentuk sungai kecil di pipinya. Ternyata cobaan dari Allah belum mau berhenti. Setelah dia dihadapkan pada kenyataan, bahwa Pak Hari dan Natalia adalah orangtua kandungnya, kini dia dihadapkan pula pada Hakim yang belum mau menyentuhnya di malam pertama mereka sebagai suami istri! Bahkan seminggu setelah itu, Hakim masih belum menyentuhnya juga!
Hakim menatap Anah dengan penuh kebimbangan. Dia punya alasan tersendiri, kenapa sudah selama seminggu ini tidak menggauli Anah, yang kini sudah sah menjadi istrinya. Dia tahu kalau tidak memberi kebutuhan batiniah terhadap istrinya adalah dosa. Tapi, dia betul-betul sedang berada di dalam sebuah dilema yang maha dahsyat! Di mana pemecahannya sendiri belum bisa terpikirkan olehnya! Kini dia seperti sedang berjalan tanpa arah. Ke kiri atau pun ke kanan, baginya tetap tidak akan memberi penyelesaian.
"Kakak tidak mau menjawab pertanyaan Anah?" tanyanya berharap sambil mengusap air matanya yang terasa hangat.
"Maafkan Kakak….."
"Kenapa Kakak tidak mau menggauli Anah?"
Hakim semakin gundah. Darahnya terasa panas. Dadanya seperti sedang ada gelombang tsunami, membuat seluruh organ tubuhnya porak-poranda! Semakin waktu bergulir, semakin menumpuk pula persoalan yang harus dia hadapi!
“Kak….?” Anah terisak.
"Maafkan Kakak ...," itu saja yang keluar dari mulut Hakim.
"Apakah ...apakah Kakak mengalami masalah seksual?" Anah menebak dengan hati-hati.
Hakim tertegun. Dia tidak pernah menyangka kalau Anah punya pikiran seperti itu. Masalah seksual? Pertanyaan istrinya itu menggelitik jiwanya. Tapi, dia tidak tahu harus menjawab apa!
"Anah seorang dokter, Kak. Bicaralah ...," dia memohon dengan suara sejuk.
"Belum bisa sekarang, Anah…."
"Siapa tahu Anah bisa membantu Kakak…."
Hakim menatapnya dengan perasaan bersalah.
Tapi kegoncangan di dalam jiwanya secara perlahan mulai surut, ketika melihat ada ketulusan di dalam sorot mata istrinya. "Anah ..., Kakak ..." Hakim merasa suaranya tersumbat di tenggorokan.
"Maafkan Anah, Kak, kalau terlalu lancang ...," suara Anah terdengar menyesal karena sudah mencampuri urusan suaminya.
"Tidak, Anah! " Hakim langsung meralatnya. "Kamu tidak lancang. Sebagai seorang istri, tidak salah jika kamu bermaksud membantu Kakak yang sedang mengalami kesulitan. Tapi ..., masalah Kakak bukan itu. Anah ...," dada Hakim makin terhimpit batu besar. Terasa menyesakkan dan membuatnya sulit untuk berpikir.
"Bukan itu?"
"Iya, bukan itu.”
"Jadi ..., Kakak tidak mengalami persoalan seksual?"
"Tidak."
"Tapi, kenapa?"
"Kakak belum bisa menjawabnya sekarang."
Anah menatapnya. Lagi-lagi, dia masih melihat ada sesuatu yang mengganjal di hati suaminya. Itu kelihatan di dalam bola mata suaminya, yang begitu mendung. "Kenapa tidak sekarang saja, Kak? Bukankah lebih cepat lebih baik? Supaya masalahnya cepat selesai?" pinta Anah
"Jangan memaksa, Anah…."
"Masalahnya apa, Kak?" Anah mendesak terus agar suaminya memberi penjelasan.
"Anah ...Kakak masih belum siap," Hakim menyembunyikan sesuatu. Ada perasaan bersalah dan perasaan tertekan, yang tergambar dengan gamblang di wajahnya.
"Tapi kenapa, Kak?” Anah terisak-isak. "Buat seorang wanita, hal ini sangat menyakitkan….”
Hakim memeluknya. "Maafkan Kakak, Anah... kamu harus memaklumi. Suasananya masih belum mendukung. Kamu kan tahu, pernikahan kita berlangsung sangat cepat. Padahal masalah-masalah masih menumpuk di mata Kakak. Persoalan Bashir, kepergian Bapak, orangtua kamu yang sesungguhnya, dan Dicky, yang ternyata dalang di balik terbunuhnya Bapak ...,” dia seperti melontarkan keluhannya.
Anah mencoba memahami penjelasan suaminya. Dia menatapnya, "Apakah itu berarti, rencana bulan madu ke Eropa bersama Pak Hari juga batal?”
“Apakah kamu sendiri mau berbulan madu bersama mereka, Anah?” Hakim malah balik bertanya, seolah membelokkan persoalan. Dan langsung dijawabnya sendiri, "Kakak yakin, kamu sendiri tidak menginginkannya. Betul begitu, Anah?”
Anah mengangguk. "Maafkan Anah, Kak Anah masih belum sanggup berlama-lama dengan mereka,” jawabnya tersedu-sedan.
"Pak Hari dan Bu Natalia adalah orangtua kandung kamu, Anah…."
"Justru karena mereka orangtua kandung Anah, Kak ...,” bibir Anah gemetar. "Anah masih belum sanggup berlama-lama dengan mereka.”
Hakim makin erat memeluknya. "Bagaimana kalau kita berbulan madu ke Malaysia saja?" Hakim memberikan jalan keluar yang lain.
“Bulan madu ke Malasyia?" Anah mendongak. Sorot matanya berbinar-binar.
“Iya! Ke Malasyia! Kita lupakan sejenak persoalan yang sedang kita hadapi! Tadinya Kakak ingin mengajak kamu berbulan madu ke Makkah. Sekalian beribadah umrah," kata Hakim.
“Buat Anah, berbulan madu ke Malasyia juga sudah cukup. Alhamdulillah, Kak. Seumur-umur, kapan Anah bermimpi bisa naik pesawat terbang?" Anah tersenyum.
“Ya ..., kamu harus maklum….. Selain dananya yang tidak ada, waktunya juga kurang tepat," nada Hakim kedengaran pasrah. "Kita baru saja kehilangan Bapak," tambahnya.
“Iya, Kak," Anah mengangguk. “Rasanya terlalu berlebihan kalau kita harus memaksakan kehendak kita untuk umrah. Walaupun sebenamya Anah bisa menjual perhiasan di kotak kayu itu…."
“Jangan, Anah. Perhiasan itu pemberian mamamu. Kamu harus menyimpannya."
“Sebetulnya bagi Anah, lebih menyenangkan jika perhiasan itu dikembalikan pada Mama. Atau tetap dijual dan hasilnya disedekahkan ke panti asuhan."
Hakim tampak senang mendengarnya. "Tapi, mamamu kan sudah bilang, bahwa perhiasan di kotak kayu itu memang milikmu. Sudahlah, jangan terlalu dicemaskan soal perhiasan di kotak kayu itu."
Anah mengangguk. Dia menatap Hakim dengan perasaan bahagia.
Hakim memeluknya lagi dengan erat! Dan selalu saja mengalir perasaan bersalah dalam tubuh Anah!
Episode 4
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Ingin kusudahi langkah salah
Menjauh segala pengganggu
Menyambut terbit matahari
Dalam dhuha dan gumam doa
Merintih memohon meminta
Seiring bergulir air mata
Tuhan, kuatkanlah aku!
Keberangkatan Anah dan Hakim ke Malaysia untuk berbulan madu, sebetulnya sangat mengagetkan Pak Hari Natadiningrat dan Natalia. Ketika Anah mengabarkan hal itu lewat telepon, mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. Tapi, harus bagaimana lagi? Mereka hanya bisa berharap, Anah masih akan memberi kesempatan pada lain waktu untuk melewatkan harinya bersama-sama dengan mereka! Dan mereka berjanji akan dating ke bandara untuk melepaskan keberangkatan Anah beserta Hakim ke Malasyia.
Begitu juga Bashir. Dia sangat terkejut saat Hakim mengatakan rencana bulan madunya. "Ke Malaysia?" dia keheranan.
"Iya, ke Malaysia. Anah juga mau.”
"Tapi, bagaimana dengan tawaran Pak Hari? Bukankah bulan madu ke Eropa lebih mengasyikkan? Tidak perlu keluar biaya lagi!”
"Ini bukan soal biaya, Bashir!”
"Tapi ..., kenapa mendadak? Kenapa harus sekarang? Apakah waktunya tepat, Kak?" Bashir sangat heran. "Bukankah kita masih berkabung dengan kepergian Bapak? Bagaimana dengan perusahaan Bapak? Bagaimana dengan kasus Dicky?"
"Masalah perusahaan, Pak Hasan siap mengatasinya. Bapak sudah menyiapkan Pak Hasan sejak lama. Sedangkan kasus Dicky, Kakak berharap kamulah yang mengurusnya."
"Tidak semudah itu, Kak! " Bashir protes.
"Kamu ini bagaimana, sih! Tadi kamu menyarankan agar Kakak dan Anah berbulan madu ke Eropa! Sekarang, ke Malaysia saja kamu keberatan!"
"Maafkan Bashir, Kak! Bashir tidak ingin perjalanan bulan madu Kakak dengan Anah terlalu banyak mengambil uang perusahaan. Bukankah perusahaan kita sedang tidak sehat?"
"Percayalah, Bashir. Kakak sudah mempertimbangkan semuanya. Kakak hanya berharap, kamu bisa mengerti persoalan yang sedang Kakak hadapi!"
Bashir menatap kakaknya. Dia seperti melihat ada persoalan besar yang dihadapi kakaknya. "Kenapa, Kak? Ada sesuatu yang Kakak sembunyikan dari aku?" tebaknya menggebu-gebu. "Iya kan?" desaknya lagi.
"Iya! Ada sesuatu yang Kakak sembunyikan pada kamu. Juga pada almarhum Bapak!" Hakim mengempaskan tubuhnya di sofa. Ada kejengkelan dalam nada suaranya.
"Kakak memang selalu tertutup sejak dahulu! Aku ini adik Kakak! Setelah Bapak pergi, kepada siapa lagi kalau bukan kepadaku, Kakak menceritakan persoalan yang sedang Kakak hadapi?"
"Astaghfirullah! Jangan mendesak, Bashir! Sekarang Kakak belum siap!"
"Kapan siapnya, Kak? Waktu terus bergulir!"
"Sekarang, mendingan selama Kakak bulan madu, kamu minta cuti!" Hakim mengalihkan pembicaraan.
"Enak saja, cuti!"
"Atau, kamu pindah kerja saja di sini! Bukankah di sini sudah ada koran Harian Banten? Melamarlah ke sana! Kalau kamu kerja di sini, kamu kan bisa membantu Kakak mengawasi perusahaan!"
Bashir sebetulnya masih ingin melontarkan unek-uneknya, tapi, Hakim mengisyaratkan, bahwa ada orang lain selain mereka di situ. "Bagaimana, sudah siap semuanya, Anah?" tanya Hakim, seolah tidak terjadi apa-apa.
Bashir menatap kakaknya dengan kesal!
"Apa aku mengganggu kalian?" Anah tahu diri.
"Kami hanya membicarakan masalah perusahaan keluarga, Anah," Hakim bangkit dan menatap Bashir. "Ayo, kita berangkat sekarang! Kamu yang jadi sopir, Bashir!"
Bashir juga bangkit. Kekesalan masih tampak dari raut wajahnya. Anah menyadari hal itu, tapi Anah tidak berani mengungkapkan perasaannya. Dia hanya diam membisu.
Begitu juga ketika mereka meluncur menyusuri jalan tol Merak-Jakarta.
Bagi Anah, perjalanan selama satu jam terasa sangat membosankan! Kakak beradik yang duduk di depannya bagai patung-patung yang gelisah! Pepohonan yang berlarian meninggalkannya bagai para setan, yang menertawakan perkawinannya dengan Hakim! Andai saja Bashir tahu, bahwa selama ini dirinya belum sekalipun digauli Hakim! Ya Allah, hanya kepada Engkaulah aku berserah diri!
Anah mencoba menyimak dan merangkai perjalanan hidupnya yang berujung pada perkawinannya dengan Hakim. Terngiang-ngiang lagi omongan suaminya, tentang pernikahan mereka yang berlangsung sedemikian cepat! Apakah itu berarti, bahwa Hakim tidak mencintainya? Kalau tidak mencintainya, kenapa Hakim mau menikah dengannya? Apakah kesediaan Hakim menikahinya, hanya karena ingin menuruti wasiat dan amanat Pak Haji yang saat itu berada di ujung maut? Kalau dugaan-dugaannya itu benar, alangkah menyakitkan hatinya!
Lantas timbul kecurigaannya, kenapa selama seminggu usia perkawinannya, Hakim belum juga menggaulinya! Apakah dirinya termasuk orang yang tercela, jika mengajukan tuntutan pada suaminya untuk memberikan kebutuhan biologis kepada dirinya? Bukankah Allah sudah menanamkan fitrah kebutuhan biologis pada sepasang suami istri? Tapi, semoga di Malaysia nanti dugaan-dugaannya meleset! Semoga alasan suaminya, bahwa belum siap melakukan hubungan seksual sebagai suami istri karena masalah-masalah yang menumpuk itu betul adanya!
Mobil berguncang ketika ban-bannya melindas lubang!
"Jalan tol brengsek!" Bashir memaki.
"Kamu yang tidak hati-hati!" Hakim mengomentari.
Anah terkesiap! Lamunannya buyar!
"Di jalan tol, seharusnya pemakai jalan tidak perlu mengalami hal semacam ini! Bagaimana coba kalau mobil kita kebalik? Apa pihak pengelola jalan tol mau bertanggung jawab? Tapi, coba kalau kita yang merusak fasilitas jalan tol! Misalnya, jalanan tol tergores atau pagar pembatas tertabrak? Mereka minta ganti rugi sama kita! Mereka tidak berpikir, kalau semua itu gara-gara jalan berlubang tadi!" Bashir sepertinya tidak mau berhenti mengumpat.
Hakim tidak menanggapi. Dia pura-pura sibuk melihat brosur-brosur daerah tujuan wisata di Malaysia.
"Benar kan omonganku?!" Bashir menggerutu terus dan seolah kesal melihat kakaknya yang tidak menanggapi. Lalu dia menengok ke Anah. "Aku benci kebisuan, Anah! Say something! Bicaralah! Supaya aku tidak merasa jadi sopir kalian!"
"Jangan melihat ke belakang, nanti ada lubang lagi.” Anah malah mengingatkan.
Bashir tertawa sumbang. "Kalian ini sepertinya takut kalau bulan madu ke Malasyia gagal karena kekuranghati-hatianku dalam mengendarai mobil! Iya kan?!” Bashir mulai ngaco bicaranya.
"Bashir! Kamu ini ngomong apa?” Hakim terpancing.
Anah tiba-tiba merasa takut.
Episode 5
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Aku bagai orang buta
Meraba hari-hari dalam sunyi mata
Mencium suasana tak berwarna
Hanya saat sujud aku melihat
Betapa nikmat segala karunia:
Bukakanlah mata ini, ya Rabbi!
Mobil melindas lubang lagi. Jalannya mulai oleng, ke kiri dan ke kanan. Bunyi klakson dari arah belakang bersahutan!
"Awas, Bashir! Awas!" pekik Anah makin ketakutan.
"Lihat, lubang lagi! Dasar brengsek!" Bashir malah tertawa sambil menjaga keseimbangan laju mobil. "Apa mereka tidak punya dana untuk perawatan jalan!? Dikemanain duitnya!?"
"Istighfar, Bashir! Istighfar!" Hakim tampak tegang. "Nanti kita betul,betul celaka!"
"Ya, Allah ...lindungilah kami dari marabahaya….." Anah berdoa.
Bashir tertawa, "Nah, lihat apa yang dilakukan Anah! Berdoa! Itu lebih bagus ketimbang marah-marah!"
"Aku serius, Bashir!" bentak Hakim.
"Kalian ini kenapa, sih?" Anah tidak habis mengerti. "Kalau ada masalah, ya diselesaikan! Jangan membikin aku bingung!" tambahnya panik sambil membuka jendela mabil. Angin yang kencang langsung menampar wajahnya. Jilbab yang menutup kepalanya, ujung bagian belakangnya berkibar-kibar. Tapi, hatinya terasa segar ketika merasakan angin itu!
"Anah! Tutup jendelanya! Mabil ini kan pakai AC!” Bashir prates.
"Matikan saja AC-nya! Repot amat!" Anah tidak mau kalah.
Bashir dengan kesal menutup kaca jendela lewat central lock.
"Bashir!" Anah menggerutu.
Hakim menggeleng.gelengkan kepalanya karena, AC saja, dipersoalkan.
"Aku ini adik kalian! Aku kan sudah bilang, jangan ada lagi teka.teki di antara kita! Aku benci hal itu!" Bashir meledak-ledak.
"Teka-teki apa?" Anah makin kesal dan tidak mengerti.
"Tanya sama suamimu!" Bashir mulai menguasai kendaraan.
"Teka-teki apa, Kak?" Anah melemparkannya pada Hakim.
"Jangan kamu dengar omongan si Bashir! Dia suka ngaca kalau sedang ada masalah!" Hakim mengelak.
"Jangan memutarbalikkan fakta! Yang punya masalah bukan aku! Tapi Kakak!" Bashir menyerang Hakim.
"Fakta-fakta! Fakta apa!?" Anah histeris.
"Aku bilang, tanya sama suamimu!" Bashir bersikeras.
"Bashir! Kamu jangan cari gara-gara, ya! Dulu, kamu betul soal kotak kayu itu! Juga tentang siapa orangtua kandungku! Tapi sekarang, justru kamu yang melemparkan teka-teki! Ingat Bashir, aku ini sudah jadi istri kakakmu. Dan kamu tidak berhak mencampuri rumah tangga kami!"
"Aku tidak mencampuri rumah tangga kalian!" Bashir menyanggah. "Kamu ingat tadi sebelum berangkat? Kamu merasa heran kan, kenapa aku sama suamimu bertengkar?"
"Bertengkar?" Anah jadi bingung menatap Hakim. "Bertengkar apa? Tadi Kakak bilang tidak ada apa-apa!" Anah menegur suaminya.
"Memang tidak ada apa-apa, Anah ...," Hakim gugup.
"Tidak apa-apa gimana! Kakak tadi bilang sama aku, bahwa memang ada yang disembunyikan oleh Kakak sama aku! Bahkan pada almarhum Bapak!" Bashir mencecar terus. "Itu artinya, pada kamu juga, Anah!"
"Kak? Bagaimana ini?" Anah makin bingung.
Hakim betul-betul tersudut. Dia menengok dan melihat ke luar lewat jendela mobil. Sawah-sawah yang mulai basah ditimpa air hujan sedikitnya menghibur hatinya yang sedang gundah gulana!
"Makanya, jangan main rahasia-rahasiaan, Kak! " Bashir mencibir.
Anah mengelus dada dan memanjatkan doa. Dia merasa kasihan pada suaminya. Dia memang bisa merasakan, omelan atau gerutuan Bashir itu ditujukan pada suaminya. Ya, baginya itu semua adalah lontaran kekesalan Bashir pada suaminya bukan pada dirinya. Tapi, mau tidak mau dia jadi terbawa-bawa juga!
"Hah! Aku suka suasana seperti ini! " Bashir buka mulut lagi.
"Bashir! Jangan ngaco kamu!" Hakim menimpali.
"Hah! Penuh dengan ketegangan!" Bashir tidak peduli.
"Kita bukan sedang main sinetron, Bashir!" Hakim memperingatkan dengan marah.
"Buatku ini sinetron! Karena ada kepura-puraan dalam diri Kakak!" Bashir dengan sableng menanggapi. "Ada misteri! Nanti endingnya, bahagia ataukah tragis? Penonton pasti suka yang happy ending! Tapi, pemegang iklan biasanya suka juga yang tragis!" Bashir tertawa sinis.
"Bashir! Hati-hati! Nyetir yang benar! Ini soal nyawa aku, Anah, dan kamu juga!"
"Aku tahu, aku tahu!" Bashir memencet klakson dengan kesal karena ada mobil boks menghalangi mobilnya di jalur cepat! Lalu dia mengambil lajur kiri.
"Bashir, jangan menyusul lewat kiri! Bahaya!" Anah memohon.
"Jangan khawatir!" Bashir tertawa sableng.
"Tahu begini, mendingan Pak Hasan yang mengantar!"
"Jangan berkelit, Kak! Ayo, Kakak harus menjelaskannya pada Anah!"
"Menjelaskan apa?" Hakim merasa tersudut dan berusaha menghindar.
"Sudah, sudah!" Anah menutup kupingnya. "Aku capai mendengar kalian ribut terus! Kayak anak kecil saja!" Anah terisak-isak.
"Kami memang seperti anak kecil kalau sudah ribut! Iya kan, Kak!" Bashir tertawa terus. Bahkan dengan gilanya dia berteriak-teriak menyanyikan lagu "Antara Anyer dan Jakarta"!
"Astaghfirullah ..., gila kamu!" Hakim menggelengkan kepala.
Bashir berhenti bemyanyi. "Aku memang gila!" Bashir melirik Hakim sambil tersenyum nakal. "Kakak tahu itu sejak aku kecil!"
"Apa kamu ingin melihat kita celaka?" Hakim juga meliriknya. Dari sorot matanya jelas sekali kalau Hakim meminta pada Bashir untuk tidak meneruskan pembicaraan yang tidak ada ujung dan pangkalnya ini.
Bashir tampaknya mengerti kegundahan kakaknya.
"Banyak yang bergantung hidup pada kita, Bashir! Pada perusahaan kita. Kalau kita celaka, mereka juga ikut celaka. Ingat itu!” Hakim mulai tenang bicaranya.
"Oke, oke!" Bashir kini mulai menyadari. Bahwa omongan kakaknya itu betul. "Aku kasih jaminan, kita akan selamat sampai di bandara! " katanya berkonsentrasi penuh pada jalanan di depannya.
Dan Anah memanjatkan puji syukur kepada Allah karena pertengkaran yang tidak perlu ini mulai teratasi. Kini mereka kembali pada keheningan yang sebetulnya tidak disukainya juga!
Episode 6
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Menyeberang, kapalku ke seberang
Menjemput sekuntum senyum
Menagih janji pada Sang Penjanji
Menunggu pintu-Mu terbuka
Mencium harum taman surga
Ya, Rabbi! Jadikan aku milik-Mu!
Bandara Cengkareng makin sibuk. Sesibuk para politikus Banten, yang sedang memperjuangkan Banten menjadi provinsi dengan cara santun dan bermartabat dari orang-orang yang berkuasa dan berpengaruh di Jakarta! Mereka dengan sabar memperjuangkan keinginan itu dan berusaha untuk terhindar dari konflik seperti yang terjadidi daerah lain, Aceh, Maluku, Timor Timur, dan Papua! Karena kalau itu terjadi, masyarakat Banten juga yang rugi! Dan kalau itu terjadi, bumi Banten akan bermandikan darah!
"Maafkan Anah, Pak," Anah menunduk.
"Bulan madu ke Malaysia juga tidak apa-apa...," Pak Hari mengusap kepalanya. "Yang penting kamu bahagia bersama Hakim…."
Anah menggigit bibirnya. Ada perasaan getir di hatinya.
"Kami tidak bisa menghadiri pernikahan Bapak dan Ibu," kali ini Hakim yang bicara.
"Tidak apa. Yang paling penting doanya," Natalia tersenyum.
Anah memeluk mereka satu persatu; Pak Hari, Natalia, Pak Hidayat dan istrinya, seita Diana. Ketika memeluk adiknya dari lain ayah itu, ada perasaan aneh masuk ke relung hatinya. Perasaan yang entah apa dan harus dibagaimanakan.
Kini bunyi mesin pesawat terbang menderu-deru. Sangat bising! Sebising para politikus muda Banten, yang siap-siap turun menutup jalan tol Jakarta-Merak, jika Banten gagal disahkan jadi provinsi! Para pemuda Banten menganggap wajar bersikap begitu karena pemerintah sudah berkali-kali menunda pengesahan Banten jadi iprovinsi! Mereka memang berdarah muda dan selalu tidak sabaran. Untung mereka tetap mau mendengarkan nasihat para orang tua, sehingga hal itu tidak terjadi. Ya, alhamdulillah ..., masyarakat dan elit politik Banten bisa meredam emosi dan lebih mementingkan kepentingan masyarakat banyak ketimbang kepentingan golongan.
Kini dalam sekejap, burung besi itu melesat terbang menembus angkasa raya. Membawa dua anak manusia ke Malaysia, untuk merayakan kebahagiaan yang tiada taranya. Pak Hari Natadiningrat, Natalia, Diana, Pak Hidayat dan istrinya masih saja melambaikan tangan, pertanda ikut berbahagia melepaskan kepergian Siti Nurkhasanah dan Muhammad Al Hakim berbulan madu ke seberang lautan.
Sedangkan Bashir berdiri terpisah, mengusapi kaca pembatas di ruang tunggu bandara. Mendung menggelayut di wajahnya, tapi orang-orang tidak menggubrisnya. Mereka tidak pernah tahu kisah Bashir yang tersembunyi dengan Anah. Tapi, Diana, anak Natalia dari Pak Menteri orde baru yang sudah wafat, bisa menangkap kegundahan di wajah wartawan muda berambut gondrong itu!
Diana tersenyum menggoda ketika mendekati Bashir. "Kamu kayaknya nggak bahagia dengan kepergian mereka untuk bulan madu, ya?" sindirnya ingin tahu.
Bashir menatapnya. Dia mencoba menukik ke kedalaman biru mata Diana. Bashir berpikir, bola mata Diana yang biru tidak berbeda dengan bola mata biru milik Anah. Sangat indah! Kecantikan mereka juga tak tertandingi! Mereka berdua mewarisi kecantikan ibu mereka, Natalia! Kecantikan yang alamiah. Perpaduan Barat dan Timur! Allah memang Mahaagung! Diciptakan-Nya keindahan pada setiap hamba-Nya!
"Betul kan dugaanku?" Diana meledek.
Bashir hanya tersenyum kecut. Senyum Diana baginya seperti melihat senyum Anah. Terasa seperti madu dan racun. Sebetulnya, dia merasa terkejut ketika menghadapi kenyatan, bahwa sebelum meninggal, ayahnya menjodohkan Anah dengan kakaknya! Andai saja saat itu dia ada di sisinya, tentu dia akan protes! Tentu dia akan bilang, bahwa dia dan Anah saling mencintai! Tapi, ini misteri Allah! Saat itu dia sedang meliput peristiwa kerusuhan antaragama di Maluku! Ketika sampai di rumah, dia sudah dihadapkan pada pusara ayahnya dan Anah yang duduk di pelaminan bersama kakaknya!
"Sorry, kalau kamu nggak mau ngebicarain hal ini," Diana merasa mulai tidak nyaman dengan sikapnya karena Bashir tidak mau membuka mulut.
Bashir terkesiap. Dia merasa yang sedang berbicara di depannya adalah Anah. Dia berusaha membuang bayangan-bayangan menakutkan itu. Tentang Anah, harus disudahi sekarang! Tentang Anah, sudah menjadi kehendak Allah! Kalau bisa, dipinggirkan dan dilupakan! Itu sudah menjadi sejarah hidupnya!
"Kamu bicara apa tadi?" Bashir kini tersenyum ramah pada Diana.
"Oh, aku kira kamu nggak bisa ngomong! Bisu! Bisa senyum lagi! Oke juga senyumnya!" Diana tersenyum menang.
"Menjadi bisu itu kadang kala dibutuhkan!" Bashir berdiplomasi.
"Misalnya, ketika kita sedang merasa kehilangan?" sindir Diana lagi.
"Kehilangan apa?"
"Orang yang kita cintai?" tebaknya.
"Kita baru beberapa hari kenal, Diana. Tapi, rupanya kamu termasuk yang suka mencampuri masalah pribadi orang lain!" nada Bashir mulai tidak enak.
"Sorry ..., kalau kamu merasa nggak enak. Aku pikir, dengan profesi yang kita geluti sekarang, harusnya hal itu nggak jadi masalah."
"Profesi siapa?"
"Kamu tahu kan, aku sebagai seorang model, nggak pernah merasa punya privacy di depan profesi wartawan seperti kamu. Masa sih, kamu baru aku sindir segitu aja sudah kebakaran jenggot!"
"Tapi, aku tidak sedang mewawancarai kamu, Diana!” Bashir makin kesal.
"Wow! Kamu termasuk orang yang punya masalah dengan emosi rupanya!" Diana terus saja menggoda.
Bashir sebetulnya ingin marah. Tapi, pada saat itu Natalia melambaikan tangan pada Diana. Bashir mengurungkan niatnya dan hanya bisa menatapnya dengan gemas. Pak Hari, Pak Hidayat dan istrinya juga melambaikan tangan pada Bashir. Mereka tampaknya hendak pulang. Bashir tersenyum dan mengangguk pada mereka.
"Kamu nggak ikut pulang sama kami?" Tanya Diana.
"Aku mau di sini barang beberapa saat."
"Kalau kamu butuh aku, kamu bisa menghubungi aku kapan saja!" Diana secara professional menyodorkan kartu nama.
Bashir menerima kartu nama yang harumnya semerbak! Aroma cinta itu langsung terhisap hingga memenuhi paru-parunya! Kemudian dalam sepersekian detik menyebar ke seluruh pembuluh darahnya! Bersemayam untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan! Astaghfirullah, dia berusaha mengekang gejolak jiwanya!
"Bye!" Diana melambaikan tangannya.
Bashir mengangguk. Diam-diam, dia menikmati setiap gerakan indah dari tubuh Diana. Benaknya melayang ke Anah! Ada dua dunia yang berbeda di antara Anah dan Diana! Dua dunia yang tidak mungkin disatukan. Kalau pada diri Anah, budaya Timur yang lebih mengedepankan norma-norma agama Islam dan tradisi luhur ketimuran tampak tecermin sekali dalam setiap tingkah lakunya. Santun dan memenuhi norma-norma! Tapi pada diri Diana, budaya Baratnya muncul menggelora! Ada semacam tarian jiwa yang liar dan ingin lepas bebas! Ada kehendak yang tidak memedulikan norma-norma agama Islam! Ah! Diana kini mulai membebani pikirannya!

Episode 7
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Duhai yang Mahaindah
Menyejukkan mata liarku
Duhai yang Mahakasih
Menyiramkan sejuk di taman hati
Kini dengarlah doa dan harapanku
Agar Kau mau memelukku!
Sementara itu di pesawat Garuda Indonesia yang mengangkasa melintasi Selat Malaka, tampak Siti Nurkhasanah duduk di pinggir jendela. Dia melihat ke luar lewat jendela yang bulat. Hanya awan putih tebal berserak! Wajahnya sukar dilukiskan dengan bahasa gambar. Sukar pula dijelaskan dengan makna kata-kata! Andai saja diperhatikan dengan seksama, betapa banyak persoalan terpancar lewat wajahnya.
Kini Anah membetulkan letak jilbab di keningnya, lalu dia melihat lagi ke luar lewat jendela, mencoba menembus pandang ke awan yang tebal bagai gumpalan kapas putih. Mencoba melihat ke daratan nun jauh di bawah sana! Dia berharap masih bisa melihat orang-orang yang melepas kepergiannya bersama Hakim ke Malaysia. Padahal saat itu di lorong antara kursi penumpang, seorang pramugari sedang memperagakan cara menyelamatkan diri jika pesawat terbang mengalami kecelakaan. Mulai dari penggunaan masker udara di atas kepala, pintu darurat, sampai ke penggunaan rompi pengaman. Auzubillah himinzalik……
Anah termenung. Banyak hal yang dipikirkannya. Tentang pertengkaran suaminya dengan Bashir di jalan tol dalam perjalanan menuju bandara. Ada apa sebenamya? Dia yakin kalau omongan Bashir itu betul. Tapi, teka-teki apa lagi ini? Kenapa suaminya menyembunyikan sesuatu darinya? Apa yang disembunyikannya? Masalah kehidupan seksualnya, kah? Tapi, bukankah suaminya sendiri bilang, dirinya tidak mempunyai masalah seksual. Atau ada hal lain? Tapi, apa?
Kini Anah memikirkan Pak Hari dan Natalia, yang ternyata adalah orangtua kandungnya. Sukar baginya untuk bisa berlama-lama dengan mereka! Kenyataan ini tentu saja membuat hatinya seperti terpuruk ke kedalaman lautan yang sangat sukar diraba! Ibarat sebuah batu yang dilemparkan ke samudera luas, batu itu pasti akan terus meluncur ke dasarnya tanpa bisa ada yang mencegahnya! Tidak juga Engkau, ya, Rabbi? Anah bertanya dalam hati.
Ya, mengapa harus mereka orangtua kandungku? Anah terus membatin dengan perasaan lara. Kenapa pula harus lewat cara berselingkuh dan berzina? Dan semudah itukah mereka membuang bayi tak berdosa itu distasiun kereta api? Ke mana rasa hati nurani mereka pada saat itu? Padahal, bukankah mereka saling mengasihi? Seenaknya saja rnereka membuang bayi, yang notabene adalah darah dan daging mereka!
Kemudian Anah mengadu pada Allah, kenapa tidak almarhumah Bik Eti saja yang jadi ibu kandungku! Bik Eti yang merawat dan menyekolahkanku! Bik Eti yang baik dan bijaksana! Atau kenapa tidak sekalian Pak Haji Budiman! Pak Hidayat! Kenapa tidak mereka saja orangtua kandungku, ya Allah! Tidak bolehkah aku mernilih kenikmatan itu! Kenikmatan sebagai anak yang lahir berdasarkan cinta dan ridha-Mu! Bukan anak yang lahir karena angkara iblis dan hawa nafsu!
Untung Hakim bisa merasakan kegelisahannya. Ketika Pak Hari dan Natalia membicarakan rencana pernikahan mereka bulan depan dan menawari Anah untuk berbulan madu ke Eropa, Hakim langsung menangkal usulan mereka dengan rencana bulan madu ke Malaysia! Anah sebetulnya terkejut dengan rencana itu karena suaminya tidak pernah membicarakannya! Tapi, itu lebih baik daripada harus mengikuti orangtua kandungnya ke Eropa! Tidak bisa dibayangkan, bagaimana rasanya bepergian bersama mereka yang pernah membuangnya ketika masih bayi! Pasti akan muncul rasa marah! Rasa ketidaksukaan karena sudah ditelantarkan. Ya Allah, ya Rabbi ..., ampunilah hamba-Mu ini!
"Anah?” Hakirn menegurnya.
"Iya, Kak….”
"Kamu baik-baik saja kan?”
Anah mengangguk dan tersenyum.
"Betul?"
"Insya Allah, Kak. Anah baik-baik saja."
Hakim sebetulnya masih ragu dengan jawaban Anah, tapi dia tidak bisa mendesak Anah untuk berterus terang. Lalu dia kembali membaca brosur-brosur daerah tujuan wisata di Malaysia.
Kemudian Anah memikirkan Bashir! Dia masih bisa merasakan tatapan Bashir saat menyalaminya di lobi keberangkatan tadi, yang seperti berat melepaskannya. Dia masih bisa melihat kesedihan menggelayut di wajah Bashir! Tapi, dia tidak mau larut dalam hal ini. Sekarang dia sudah jadi istri sah Hakim. Dia tidak ingin rumah tangganya yang baru meletakkan batu pertama itu dilandasi fitnah! Tapi, ya Allah, ampuni hamba-Mu ini! Kenapa harus dengan Hakim? Kenapa tidak dengan Bashir? Apakah ini memang misteri-Mu?
“Sejam lagi kita mendarat di Kuala Lumpur," kata Hakim pelan, sambil melirik.
"Iya, Kak!" Anah menatap suaminya.
"Kayaknya ada yang kamu pikirkan?”
Anah terdiam.
"Soal Bashir, ya?" tanya Hakim was-was.
Anah menggeleng. Dia merasa kasihan pada suaminya yang tampak keruh wajahnya karena memikirkan banyak hal. Termasuk perselisihannya dengan Bashir.
"Betul?"
“Iya, Kak…..”
"Atau soal Dicky?" tebaknya masih was-was.
"Bukan, Kak. Buat Anah, walaupun Dicky menyangkal ayahnya terlibat dengan pembunuhan Pak Haji, masalah Dicky sudah Anah anggap selesai. Kita tinggal menungu vonis saja."
"Tapi, kenapa sejak tadi kamu melamun terus?"
Anah bingung harus menjawab apa.
"Kakak yakin, pasti soal Bashir," suara Hakim terdengar pasrah.
"Tidak, Kak. Anah tidak memikirkan soal Bashir. Anah sedang memikirkan tentang kita. Pernikahan kita. Cinta kita," Anah tersenyum.
Hakim menatapnya dengan senang. Seolah terhindar dari badai dahsyat. "Tentang cinta kita? Betul?"
"Iya ...," Anah mengumbar senyum lagi, walau pun hatinya terasa perih.
"Bagaimana tentang kita?" Hakim penasaran dan meletakkan brosur-brosur wisata Malaysia ke kantung kecil di punggung kursi di depannya.
"Kita adalah pasangan yang paling berbahagia di dunia, Kak!" Anah memegangi tangan suaminya.
"Alhamdulillah!" Hakim tersenyum, walaupun tiba-tiba saja ada perasaan berdosa menusuk jiwanya! Bagaimana aku harus mengatakan hal ini pada Anah nanti? Haruskah aku merusak hari-hari bahagia di saat bulan madu ini? Ya Allah! Ampunilah hamba-Mu ini, yang sudah berbuat dosa! Yang sudah membohongi orang-orang yang mencintai hamba!
Ya, kalau saja Anah tahu, bahwa sesungguhnya tersimpan rencana besar di benak Hakim dengan kepergian mereka berbulan madu ke Malaysia!
Episode 8
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Bolehkah aku memilih hidupku?
Bahagia, senang. dari kecil hingga dewasa
Tak ada duka nestapa dan lara
Tak ada musuh, teka-teki, dan persoalan
Kata-Mu, itu berarti tak ada warna!
Hakim merasa tersiksa dengan perasaannya sendiri. Sebagai seorang wanita, Anah bisa merasakan itu. Tapi, mereka berdua tampak memendamnya dulu. Entah sampai kapan. Kalau dilihat secara mendalam, sebetulnya mereka berdua sangat gelisah. Hal itu juga terbaca oleh pramugari yang menghampiri kursi mereka.
"Bapak sama Ibu sakit, ya?" tanya Pramugari.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa," Hakim agak gugup.
"Ibu, nggak apa-apa?" Pramugari kurang yakin.
Anah tersenyum, "Nggak apa-apa."
"Atau mungkin Bapak takut dengan ketinggian?" Pramugari menatap Hakim, lalu tersenyum, seolah meledek supaya tidak begitu tegang.
"Suami saya hanya kelelahan saja, Mbak," Anah menolong suaminya agar terbebas dari ledekan si Pramugari.
"Oh, begitu, ya?" si Pramugari tersenyum sambil ngeloyor ke barisan belakang.
Hakim bisa bernapas lega. Penerbangan ini terasa sangat menyiksanya. Kini dia percaya, bahwa kalau kita berbohong satu kali, maka kita akan berbohong untuk yang kedua kali, ketiga ...dan seterusnya ...untuk menutupi kebohongan-kebohongan sebelumnya! Ini dia rasakan terhadap Anah dan Bashir. Bagaimana dia harus terus mengelak, agar kebohongannya tidak terungkap oleh mereka. Tentu itu harus ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lagi. Tapi, sampai kapan dia bisa berbohong terus? Apakah nuraninya akan sanggup bertahan?
Sebetulnya, ketika ayahnya yang terbaring dalam keadaan terluka parah di rumah sakit, memberikan amanat padanya untuk menikahi Anah, ingin sekali Hakim menolaknya! Hatinya saat itu berontak. Ingin sekali dia berterus terang kalau hal itu tidak mungkin! Bahwa menikahi Anah sangat mustahil! Karena…..
Tapi, ketika melihat ayahnya yang sedang menghadapi sakaratul maut, Hakim tidak kuasa untuk mengatakan hal yang sebenarnya terjadi pada ayahnya. Dia menahan diri. Dia tidak ingin membuat ayahnya makin menderita. Dia tidak ingin ayahnya wafat dengan perasaan mengganjal! Hakim hanya ingin ayahnya pergi menemui Allah Azza wa Jalla dengan hati yang damai!
“Kak?" Siti Nurkhasanah masih saja memegangi tangan suaminya. Tiba-tiba dia merasakan keringat di telapak tangan suaminya. Ada sesuatu yang aneh menyelusup ke hatinya.
"Ya!" Hakim merasa kaget.
"Kenapa, Kak? Sakit, ya?" tanya Anah cemas sambil menggenggam tangan suaminya.
"Nggak, nggak apa-apa," jawabnya berbohong.
Anah merasakan kalau suaminya itu berbohong. Tapi, dia tidak tega untuk terus mendesaknya.
Hakim sendiri makin merasa berdosa terhadap Anah. Dia menarik lengannya dengan halus. Ombak lautan yang sedang pasang menerjang daratan jiwanya. Betapa sakit! Seharusnya aku menolak amanat Bapak! Seharusnya Bashir lebih cocok bersanding di pelaminan bersama Anah!
"Bagimana dengan tawaran kredit dari Pak Hari, Kak?" Anah mengganti suasana.
"Kakak tertarik. Tapi, ini harus dipikirkan matang-matang. Sebetulnya Kakak dengan Pak Hasan sudah punya rencana sendiri. Sepulang dari Malaysia Kakak akan merealisasikannya."
"Rencana apa, Kak? Boleh Anah tahu?"
"Kakak akan melakukan terobosan-terobosan usaha. Misalnya, usaha transportasi yang mulai turun, Kakak akan menggantinya dengan jasa angkutan yang lain. Seperti travel, misalnya. Di Yogya-Solo, yang Kakak tahu ada usaha transportasi sejenis travel. Para penumpang yang akan berangkat dari Yogya ke Solo atau sebaliknya, tidak perlu lagi berdesak-desakan naik bis atau kereta. Di Jakarta juga ada jasa travel seperti ini, yang melayani trayek ke Lampung," Hakim membeberkan rencana diversivikasi usahanya. "Nah, kenapa nggak dicoba travel Merak-Serang-Jakarta? Atau sebaliknya?"
"Yang Anah tahu, setiap hari banyak sekali masyarakat Banten yang pergi bekerja ke Jakarta. Setiap pagi, mereka bergerombol menunggu bis di depan Matahari Cilegon atau pintu gerbang tol Serang Timur. Begitu juga sebaliknya dari Jakarta yang bekerja di kawasan industri Cilegon. Mereka bergerombol di pintu tol Tomang atau Kebon Jeruk," Anah menanggapi ide suaminya dengan antusias.
"Ya, prospeknya memang bagus. Apalagi kalau nanti Banten jadi provinsi. Dengan adanya travel, Kakak yakin mereka akan lebih nyaman berangkat bekerja. Sasarannya memang untuk para pekerja menengah atas," Hakim tersenyum sambil memejamkan matanya.
"Insya Allah, Kak."
Hakim tersenyum. Dia tampak lelah sekali. "Kakak tidur dulu, ya," katanya memohon.
Anah mengangguk. Dia bisa memahami keinginan suaminya, yang ingin tidur sejenak. Bagi Anah, minggu-minggu terakhir yang dialami suaminya sangatlah memeras tenaga dan pikiran. Selain harus menunggui Pak Haji di rumah sakit, mengurusi pemakaman Pak Haji, serta berujung di pelaminan bersama dirinya! Jadi wajar saja kalau suaminya butuh untuk memejamkan mata selama dalam perjalanan ke Kuala Lumpur ini! Bahkan Anah pun memejamkan matanya. Ternyata dia sendiri juga merasa lelah.
Malangnya Anah tidak mengetahui apa yang ada di benak Hakim. Sebetulnya ketika mata Hakim terpejam, dalam hitungan detak jantung saja langsung menyerbu gambar-gambar ketika dirinya kuliah di Mesir.
Tanpa sepengetahuan Pak Haji, Hakim mengambil jalan yang tidak diambil oleh kawan-kawannya yang lain. Ketika yang lainnya hanya tekun menuntut ilmu, Hakim malah memutuskan menikahi seorang gadis Thailand, yang sedang mempelajari agama Islam! Pernikahannya memang sangat dirahasiakan! Penuh misteri!
Episode 9
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Harus ada yang bertemu, katamu
Karena kau suara, aku gema
Karena kau ulat, aku daun
Karena kau cinta, aku ruh-Nya
Kau zikir, aku doa
Itulah ikhlasku karena-Nya!
Pesawat terbang setengah jam lagi akan mendarat di Bandara Syah Alam, Kuala Lumpur. Para penumpang tampak mulai ada yang berbenah dan merapikan penampilannya. Yang perempuan memoles bibirnya dengan lipstick, yang laki-laki menyisir rambutnya. Anah sendiri membetulkan letak tepian jilbab yang mengelilingi wajahnya yang cantik. Tapi, Hakim malah disuguhkan pada gambar-gambar perjalanan hidupnya ketika kuliah di Mesir.
Adalah Namlok Sarachipat, mahasiswi Thailand yang sedang belajar tentang kebudayaan Islam di Kairo. Hakim bertemu dengannya ketika sedang melihat-lihat keindahan piramida. Mereka berkenalan dan saling bergetar ketika bola mata mereka beradu pandang.
"From Indonesia?" Namlok Sarachipat merasa gembira ketika tahu Hakim berasal dari negeri Islam terbesar di dunia. "I heard, lebih dari 200 juta penduduk Indonesia beragama Islam!" kata Namlok dalam bahasa Inggris yang fasih.
“Yes! Kami adalah negara Muslim terbesar di dunia!" Hakim tersenyum.
Dari situ mereka jadi sering bertemu dan saling bertukar pikiran. Akhirnya dari diskusi ke diskusi, timbullah perasaan cinta di antara mereka. Pepatah dari mata turun ke hati itu benar adanya buat mereka. Kemudian setahun sebelum Hakim rampung kuliah, mereka sepakat menikah untuk menghindari zina dan fitnah.
Namlok pun secara ikhlas masuk Islam dan membaca dua kalimat syahadat. Namlok kini mengakui, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang patut disembah dan-bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah! Itu diucapkanya dengan perasaan hati yang tulus dan ikhlas, sehingga setelahnya tampak wajahnya bercahaya. Dan bagi Namlok, pernikahan dengan Hakim merupakan hidayah dari Allah untuk secara total mendalami dan memahami Islam.
Pernikahan mereka dilangsungkan di apartemen mereka di lorong-lorong Kota Kairo. Dihadiri oleh kawan~kawan kuliah mereka. Naibnya adalah dosen mereka. Kesalahan Hakim pada waktu itu, adalah tidak memberitahukan pada ayahnya, bahwa dia sudah menikah dengan gadis Thailand. Dia sendiri punya alasan, jika dia memberitahukan rencana pernikahannya dengan Namlok, pasti ayahnya akan marah. Akan tidak setuju. Kepada kawan-kawan kuliahnya dan naib yang menikahkannya, dia mengatakan bahwa ayahnya sudah memberikan restu. Tapi kepada Namlok, dengan jujur dia menceritakan kondisi sesungguhnya. Dan Namlok dengan lapang dada menerima dan bisa mengerti keadaannya.
"Bersabarlah, Namlok," pinta Hakim pada malam pertama mereka. "Suatu saat kamu akan saya bawa ke Indonesia. Akan saya perkenalkan pada Bapak dan Bashir.”
Namlok mengangguk diiringi senyum keikhlasan.
Hakim masih ingat pesan almarhum ayahnya ketika melepasnya pergi kuliah di Mesir. "Ingat, Hakim. Bapak mengirim kamu ke Mesir untuk menuntut ilmu. Bukan untuk yang lainnya. Terutama wanita. Itulah godaan terbesar bagi laki-laki bujangan, yang jauh dari kampung halaman dan orangtua seperti kamu,” begitu wejangan almarhum ayahnya.
Sedangkan Namlok sudah memberitahukan pada keluarganya, bahwa dia masuk Islam dan akan menikah dengan Hakim. Ayah dan ibunya di Bangkok, yang mendengar kabar ini lewat telepon marah besar. Mereka langsung mencoret Namlok dari silsilah keluarga dan hak warisannya dicabut. Namlok menangis di depan Hakim dan mengatakan, bahwa dia sudah berkorban banyak demi mempertahankan aqidahnya.
"Aku akan melindungi kamu dunia dan akhirat, Namlok," kata Hakim memberikan jaminan.
"Aku percaya pada kamu, Hakim. Kamu akan menjadi suami yang baik dan ayah yang bertanggung jawab bagi anak-anak kita kelak," Namlok memeluknya dengan erat saat itu.
Hakim juga. Bahkan diam-diam, air mata menyembul di sudut kelopak matanya. Hakim memang sangat terharu, karena dihadapkan pada kenyataan, bahwa Namlok adalah karunia yang tiada tara dari Allah baginya!
Tapi, setahun masa pernikahan mereka, masalah lain timbul. Hakim baru saja menyelesaikan kuliahnya, ketika Namlok dibawa ke rumah sakit bersalin. Dan ketika dia sedang menunggui kelahiran anak pertamanya dari rahim Namlok, ayahnya menyuruhnya untuk segera pulang mengurusi perusahaan keluarga. Saat itu perusahaan ayahnya sedang terkena badai krismon akibat rezim orde baru tumbang dan berganti dengan rezim reformasi. Dollar menggila dan rupiah meringkuk!
"Bapakku menyuruhku pulang, Namlok," Hakim tampak sedih setelah mengazani buah hatinya.
"Bagaimana dengan anak kita, Hakim? Siapa namanya?" mata Namlok berkaca-kaca.
"Aku namai bayi mungil ini Siti Aisyah," Hakim menimang-nimang putrinya dengan air mata berlinang karena sudah harus berpisah dengan buah hatinya.
"Siti Aisyah ...," Namlok mengejanya dengan air mata berlinang. Ada perasaan bahagia dan sedih bercampur sekaligus di dalam hati. Bahkan mengendap dan mengkristal. Hal itu pun samadirasakan oleh Hakim.
Ya, hari ini Hakim dan Namlok mendapatkan karunia Ilahi dan sekaligus cobaan-Nya! Kegembiraan sekaligus kesedihan. Bagi Namlok kehadiran Siti Aisyah adalah kenikmatan dari Allah, sedangkan kepulangan Hakim ke Indonesia adalah cobaan-Nya! Ya, Allah! Biarkanlah aku jadi milik-Mu! Begitu hati Namlok berlabuh pada Sang Khalik.
Namlok memandangi Hakim yang sedang memangku Siti Aisyah. Suaminya itu sesekali menciumi buah hatinya. Buah hati mereka berdua. Tidak ada seindah hari ini, ketika mereka masih bersama-sama.
Hakim merasakan kalau sedari tadi Namlok menatapnya terus. Kemudian bayi itu diberikannya pada Namlok. "Susuilah dia dengan air susumu. Rawatlah dia dengan baik. Insya Allah, aku akan datang menjemput kalian," tambahnya menangis.
Namlok juga menangis dan memeluk Hakim, seolah tidak ingin melepaskannya. "Aku akan menunggu kamu, bersama Siti Aisyah," katanya tersedu-sedan.
"Percayalah, aku akan datang."
"Tapi, kenapa kamu tidak membawaku serta ke Indonesia hersamamu sekarang?" Namlok merasa heran.
"Jangan sekarang, Namlok. Nantilah jika kuliahmu beres, aku akan datang menjemput dan membawa kamu kepada bapakku. Kalau sekarang, aku khawatir Bapak akan shock! Lagi pula, suasana politik di Indonesia saat ini sedang kacau-balau. Huru-hara berbau ras di mana-mana. Aku merasa lebih tenang jika kalian berada di sini dulu."
"Tapi, berapa lama?" Namlok bersedih.
"Insya Allah, tidak akan lama," Hakim memohon.
Namlok dengan ikhlas menerima kehendak Hakim.
Episode 10
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Di ujung malam aku melihat-Mu
Aku bahagia tak terkira
Seolah meledak segala suka
Tidak terbatas!
Esoknya aku duduk membisu
Kekasihku telah pergi!
Seharusnya aku tahu arti tatapan-Mu!
Tapi waktu bergulir sedemikian cepat dan keamanan di negara yang kesohor dengan "murah senyum" dan "negeri gemah ripah loh jinawi" ini tidak kunjung reda. Perang suku, perang agama, dan perang ideologi merajalela! Bagai tangan-tangan setan, yang menggerayangi tidur nyenyak seorang anak bangsa bernama Indonesia! Akibatnya, kerusuhan bukan hanya di Jawa saja, tapi sudah merembet ke mana-mana. Negeri Zamrud Khatulistiwa kini porak-poranda. Lem perekat yang menyatukan setiap suku bangsa mulai kendor. Aceh makin membara, Pontianak meledak, Maluku banjir darah, Papua bergolak, dan Timtim ingin lepas dari pelukan Ibu Pertiwi!
Akibatnya berdampak pada dollar yang terus membumbung, membikin Hakim makin tenggelam dengan kesibukannya mengurusi perusahaan keluarga yang sedang sekarat. Kondisi itu tidak membuatnya jadi berani untuk mengatakan tentang Namlok dan Siti Aisyah pada ayahnya. Juga pada Bashir. Semua rencananya untuk membeberkan rumah tangganya di Mesir tertunda! Tertunda terus……. Bahkan sampai dia menikahi Anah! Astaghfirullah. Betapa berdosanya hamba ya, Allah!
"Aku belum bisa menjemput kamu," kata Hakim sedih di telepon.
"Kenapa, Hakim?" Namlok bertanya dalam bahasa Indonesia yang patah-patah.
"Indonesia masih belum aman ...," Hakim merasa ada air mata jatuh ke pipinya. "Aku masih khawatir tentang keselamatan kalian di sini nanti ...," tambahnya minta pengertian.
Namlok hanya menangis sambil mendekatkan bibir Siti Aisyah ke telepon. Bayi cantik berumur hampir setahun itu menangis, seperti meneriakkan kekangenannya akan belaian kasih sayang sang Ayah.
"Itu suara tangis Siti Aisyah?" Hakim berdebar-debar. Beragam benda tajam menusuki hatinya. Oh, pilu hatiku! Aku memang suami dan ayah yang tidak bertanggung jawab! Allah sangat pantas menghukum aku! Begitu hatinya merintih memohon ampunan pada Allah!
"Bilang sama Papa, Aisyah. Kapan Papa pulang ...?" kata Namlok, yang bahasa Indonesianya sudah lumayan. Dia belajar dari kawan-kawan mahasiswanya, yang berasal dari Indonesia.
Suara Siti Aisyah terdengar lamat-lamat di telepon, "Pa-pa…." Itu saja yang baru bisa diucapkan bayi cantik itu. Baru suku katanya saja.
Hakim makin merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kehangatannya sebagai seorang ayah pada putrinya. Tidak bisa memberikan kasih sayang dan perlindungannya pada buah hatinya.
"Sudah setahun, ya?" Hakim bergumam lara.
"Iya," air mata Namlok makin deras. Bahkan terasa basah sampai di ujung telepon Hakim.
"Sudah bisa jalan?"
"Sedang belajar jalan…."
"Aku kangen sama kalian."
"Aku juga, Hakim. Bahkan Aisyah sering menanyakan papanya. Aku kan menyimpan fotomu. Setiap malam, aku dan Aisyah selalu memandangi foto kamu sambil berharap, kapan kita akan berkumpul."
Hakim semakin merasakan pipinya basah. "Maafkan aku, Namlok ...Aisyah ...," suara Hakim terbata-bata. Hakim merasa dirinya adalah seorang suami dan ayah yang malang. Yang sedang diberi cobaan oleh Allah dengan kondisi yang sulit seperti sekarang ini!
"Kapan kamu ke sini? Tidakkah kamu ingin melihat Aisyah?"
"Aku ingin sekali, Namlok. Tapi, dollar masih tinggi," Hakim pasrah. "Perusahaan Bapak sedang pailit….”
"Iya, aku mengerti," Namlok juga pasrah.
"Dan aku hanya bisa mengirimi kalian uang tidak banyak."
"Kamu jangan terlalu khawatir soal uang. Mulai sekarang, aku jadi penulis tetap untuk KL Post, sebuah koran harian di Malaysia. Seminggu sekali tulisanku rutin muncul di mingguannya," Namlok menenangkan.
"Alhamdulillah ...semoga Allah selalu bersama kalian," Hakim merasa perih di kalbunya makin menjadi-jadi.
"Tahun depan, kuliahku selesai. Bagaimana rencana kita selanjutnya?" Namlok melemparkan persoalan.
"Aku ...aku belum bisa memutuskan sekarang. Semuanya tergantung kondisi politik dan perekonomian di Indonesia," Hakim kebingungan.
"Maksudku, kapan kamu membicarakannya dengan ayahmu?" pertanyaan Namlok sangat tajam di telepon.
"Tidak akan lama, Namlok. Insya Allah. ..Aku sedang mencari-cari waktu yang tepat. Bapakku sekarang sedang sibuk keliling kampung untuk berdakwah."
"Rencana jangka pendekku, Hakim….. Itu pun kalau kamu mengizinkan. Aku akan membawa Siti Aisyah ke Bangkok. Kebetulan aku mendengar, di Kedutaan Besar Indonesia di Bangkok ada lowongan pekerjaan. Aku sudah mengirimkan lamaran ke sana. Bagaimana?"
"Ya, ya ...itu bagus. Nanti aku rencanakan untuk menengok kalian ke Bangkok,” Hakim mengiyakan saja.
"Boleh aku menelepon ke rumah?” Namlok berharap dengan cemas.
"Maafkan aku, Namlok. Sebaiknya biar aku saja yang menghubungi kamu."
Namlok masih dengan sabar mengikuti keinginan Hakim. Dia tidak menelepon dan hanya menunggu Hakim yang menghubunginya. Ketika dia selesai kuliah pun, dia pulang ke Bangkok dan bekerja di Indonesian Embassy di Bangkok. Dia mencoba menikmati posisinya sebagai seorang istri yang salehah, walaupun disia-siakan oieh Hakim selama 3 tahun; tidak dinafkahi secara lahir dan batin. Sekarang bahkan mulai menginjak tahun yang keempat.
Dan Hakim tahu itu adalah perbuatan dosa! Setiap hari, dia selalu menghitung dosa-dosanya pada Namlok dan Siti Aisyah! Dan itu makin mengendap dan mengkristal di hatinya! Bahkan mulai menjadi batu!
Episode 11
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Jangan biarkan rindu bergelora
Cukup pelihara saja, abadi di hati
Itu yang kulakukan untuk-Mu
Hingga rindu jadi cinta
Mengendap keras membantu
Mematrikan kenangan indah
Bersama-Mu, kekasihku!
Hakim menyadari dosa-dosanya menelantarkan istri dan anaknya. Saat itu sudah muncul keinginan untuk memberitahukan keberadaan mereka pada ayahnya dan Bashir. Tapi, lagi-lagi Allah selalu berkehendak lain. Justru masalah baru muncul! Ayahnya ditabrak oleh orang-orangs uruhan Dicky! Bahkan sebelum wafat, ayahnya menyuruhnya untuk menikahi Anah! Hakim tidak kuasa menolak amanat ayahnya sebelum meninggal!
Saat itu bayangan Hakim pada Anah adalah bayangan seorang gadis kecil, yang dititipkan penjual nasi uduk di stasiun kereta api Cilegon pada ayahnya! Atau seorang perawan cantik yang hampir saja kegadisannya direnggut Dicky, yang tiba-tiba saja menjelma menjadi seorang dokter muda berjilbab putih, yang tiba-tiba saja muncul lagi di depannya setelah ikut dengan keluarga Hidayat di Jakarta!
Pada awalnya, diam-diam Hakim memang mencintai Anah! Tapi, setelah dia tahu bahwa ternyata Bashir dan Anah saling mencintai, Hakim mundur teratur. Apalagi dengan kepergiannya kuliah di Mesir, rasa cintanya pada Anah mulai padam. Cintanya sekarang hanya untuk Namlok Sarachipat! Ya, Hakim betul-betul tidak mencintai Anah sekarang! Dia saat ini hanya menyayangi Anah sebatas seorang kakak terhadap adiknya saja!
Anehnya, Hakim tidak bisa mengelak ketika ayahnya menyatukan lengannya dengan lengan Anah! Pikirannya gelap! Buntu! Seperti tidak ada jalan keluar! Dia seperti sedang berada di sebuah labirin, tidak tahu jalan untuk keluar dari kesulitan! Sebetulnya ingin sekali dia meronta-ronta atau.berteriak, bahwa dia tidak bisa mengkhianari perasaannya sendiri! Bahwa dia tidak mencintai Anah! Bahwa dia sudah memiliki seorang istri dan putrid yang cantik, yang kini tinggal di Bangkok! Bahwa dia tidak akan menyakiti perasaan Namlok dan Siti Aisyah untuk yang kesekian kalinya, setelah mereka disia-siakan!
Tapi, ketika Hakim dihadapkan pada ayahnya yang dalam keadaan sakaratul maut, pikirannya seolah-olah berhenti! Lidahnya kelu! Tenggorokannya tersumbat! Ya, Allah! Bukakanlah mata hatiku! Terangkanlah jalan pikiranku! Dan kenyataannya, dia tidak sanggup menyakiti hati ayahnya, yang sedang menghadapi malaikat pencabut nyawa! Dia hanya ingin melihat ayahnya pergi menghadap Allah dengan tenang! Dia hanya ingin menunjukkan rasa hormat dan memuliakan ayahnya di akhir hayatnya dengan ucapan dan perbuatannya. Ya, Allah! Ampunilah dosa hamba-Mu ini jika ada segala perbuatan dan ucapanku yang menyakiti hati Bapak selama hidupnya! Begitu Hakim berdoa memohonan ampunan-Nya.
"Bapakku meninggal, Namlok ...," Hakim menangis di telepon.
"Innalillahi ...," Namlok juga menangis.
"Maafkan aku, Namlok Aku ternyata bukan suami yang baik dan bertanggung jawab buat kamu dan Siti Aisyah…."
"Apakah itu artinya ..., kamu akan menceraikan aku?" Namlok merasa cemas.
"Tidak, Namlok ...Tidak akan pemah ..."
"So, what?"
"Justru aku akan menebus segala kesalahanku….."
"Dengan apa?"
"Aku akan datang menjemput kamu dan Siti Aisyah!"
"Apa?"
"Aku akan ke Bangkok!"
"Kamu akan datang ke Bangkok?" Namlok kaget campur bahagia.
"Iya!" Hakim menjawab dengan pasti.
Tiba-tiba saja gambar-gambar kisah hidup Hakim bersama Namlok buyar ketika terdengar di pengeras suara, bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di Bandara Syah Alam. Para penumpang disarankan untuk mengenakan seat belt.
"Astaghfirullah ...," Hakim tersadar.
Bayangan Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah buyar! Hilang! Terbang ke langit, seolah Tuhan menyimpannya karena ada Anah di sisinya.
"Ampuni hamba-Mu ini, ya Allah," batinnya memohon ampunan.
Anah melihat suaminya yang begitu tertekan. "Kak?" tanya Anah khawatir. "Kakak baik-baik saja kan?" dia meneliti suaminya.
Hakim mengangguk dan tersenyum dengan getir.
"Sabuknya dipakai, Kak. Sebentar lagi pesawat landing."
Hakim mengangguk lagi sambil memasang sabuk pengaman.
Pesawat berguncang dan mulai mendarat di landasan dengan selamat. Semua penumpang bernapas lega dan mengucap syukur pada yang Mahakuasa.
"Nanti kita tidur di mana, Kak?" Anah membuka sabuk pengamannya.
Hakim tampak berpikir.
"Kak?"
"Maafkan Kakak, Anah. Kayaknya kita tidak perlu menginap."
"Tidak perlu menginap?"
"Iya."
"Maksud Kakak?"
"Dari bandara, kita langsung ke Kuala Lumpur. Dari sana kita ke stasiun. Ada kereta malam ke Bangkok," Hakim mengatakan rencananya yang lain.
"Ke Bangkok?" Anah kaget.
"Iya."
"Ngapain kita ke Bangkok?"
"Kita berbulan madu ke Bangkok saja."
"Kakak ini bagaimana, sih? Kok, rencananya berubah?"
"Anah ..., Malaysia dan Thailand, apa bedanya? Yang penting, kita berbulan madu dan selalu bersama-sama. Iya kan?"
"Ternyata betul kata Bashir!"
"Bashir lagi! Apa kata dia?"
"Kakak memang menyembunyikan sesuatu!" Anah marah sekaligus bersedih.
Hakim mencoba untuk tenang. "Anah ..., sungguh, Kakak tidak menyembunyikan apa-apa dari kamu," katanya berbohong, entah untuk yang ke berapa kali.
"Kakak bohong ...," Anah terisak.
"Anah," Hakim merasa tidak enak pada penumpang lain. "Sekarang kita turun dulu, ya….. Nanti kita bicarakan lagi…."
"Kakak bohong!" Anah mengusap air matanya dan bangkit.
Hakim seolah tidak memedulikan kemarahan Anah. Dia juga bangkit dan mengambil tas dari dalam lemari di atas kepalanya. Beberapa penumpang yang lain juga melakukan hal yang sama.
Anah masih saja memendam kemarahannya!
Pesawat sudah berhenti.
Selamat datang di Kuala Lumpur!
Episode 12
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Takbiratul ihram
Allahu Akbar
Terpekur aku pada berdiriku
Belum lepas iftitah jua
Mataku basah sudah
Tertatih aku mengeja firman-Mu!
Sementara itu Bashir sedang mengabrak-abrik ruang kerja Hakim di kantornya. Dia membuka laci meja, membangkar file-file karyawan, dan memeriksa laporan keuangan.
Bashir tampak bergairah sekali. Dia seperti sedang menganggap kakaknya sebagai seorang terdakwa. Dia melihat banyak sekali kejanggalan-kejanggalan kakaknya ketika mengelola perusahaan bapaknya. Dan itu dibuktikannya!
Bashir terbelalak ketika melihat laporan keuangan selama 3 tahun belakangan ini. Dari tahun 1997, saat Hakim pulang dari Mesir dengan menggondol gelar Master! Ada pengeluaran uang secara rutin tiap bulan, yang dikirimkan Hakim ke Mesir! Di slip transfer tertulis untuk pembayaran karpet!
"Karpet?" Bashir mengerutkan kening. "Sejak kapan Bapak berbisnis karpet?” gumamnya lagi.
Pengiriman uang ke Kairo itu terus berlangsung sampai tahun 1999. Selain uutuk pembelian karpet, juga untuk korma, atau sajadah! Pada tahun 2000 ini, Hakim mengirimkan uangnya ke Thailand! Kali ini bukan untuk pembayaran karpet, sajadah, atau aksesoris bernapaskan Islam lainnya, tapi untuk sumbangan ke Yayasan Islam Bangkok, yang sedang memobilisasi dana untuk pembangunan Masjid dan pondok pesantren di beberapa tempat di Thailand Selatan! Pantas saja Bapak percaya! Di Thailand kan mayoritas beragama Budha! Sedangkan Islam hanya ada di Thailand Selatanj kota Pattani dan Songkhla!
Tapi ada yang mencurigakan Bashir! Yaitu satu nama yang selalu dikirimi Hakim uang. Baik itu di Kairo atau di Bangkok, semuanya memakai nama satu orang, Namlok Sarachipat!
"Namlok?" Bashir bertanya-tanya. "Siapa dia?" batinnya bertanya-tanya, sambil mengempaskan tubuhnya di sofa.
Tapi, Bashir tidak betah duduk berlama-lama. Dia bangkit dan berjalan ke jendela. Dia menatap ke luar, ke jalan raya Cilegon menjelang malam! Betapa padat dan banyak perubahan terjadi dengan kampung halamanku!
Bashir juga tercengang ketika melihat ke seberang jalan kantornya. Pusat-pusat perbelanjaan yang bagai gurita kini sudah mengapit pasar Cilegon! Berjejalan! Berdesakan! Bergegas menyongsong pasar bebas!
Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka orang. Bashir menoleh dan tampak kikuk serta gugup ketika melihat Pak Hasan, yang juga kaget melihatnya!
"Pak Hasan!” serunya.
"Bashir! Sedang apa malam-malam di sini?”
"Saya sedang memeriksa berkas-berkas keuangan, Pak.” Bashir langsung memberanikan diri masuk ke persoalan,
"Kenapa? Itu kan bukan urusan kamu!”
"Apa saya tidak boleh tahu. Pak? Saya ingin membantu Hakim untuk memperbaiki kinerja perusahaan.”
“Tapi…., apa hakim tahu?”
Bashir menggeleng.
"Tadi di bandara, kalian tidak membicarakan hal ini?”
Bashir menggeleng lagi.
Pak Hasan tampak gelisah.
“Pak Hasan kenal dengan Namlok Sarachipat?”
"Bapak tidak tahu apa-apa. Bashir. Bapak hanya karyawan di sini.”
"Tapi. Pak Hasan adalah orang kepercayaan Bapak," Bashir kecewa.
"Tanyakan saja sama kakakmu. Maafkan Bapak…." Pak Hasan merasa berat mengatakannya. Dia dikepung perasaan bersalah.
"Apakah semasa hidupnya. Bapak tidak pernah curiga soal ini?"
"Sejak kakakmu mengambil alih perusahaan, almarhum Pak Haji tidak pernah mengurusi lagi soal perusahaan," kata Pak Hasan sambil mengingat-ingat. Lalu katanya hati-hati, "Tapi, pernah sekali…. Soal pengiriman uang ke Bangkok. Kakakmu memang pintar cari alasan. Disebutkannya, bahwa Namlok Sarachipat adalah aktivis Islam di Thailand, yang sedang berjuang di jalan Allah. ..."
"Tapi, sesungguhnya Namlok adalah ...?"
Pak Hasan menggeleng. "Maafkan Bapak, Bashir. Bapak tidak tahu apa-apa soal ini ...," lagi-lagi orang kepercayaan almarhum Pak Haji Budiman itu menghindar.
"Jadi, Pak Hasan tidak pernah menanyakan siapa Namlok Sarachipat pada Hakim? Iya, Pak?"
"Kakakmu pernah membicarakannya. Kata kakakmu, Namlok adalah bagian yang terpenting dalam hidupnya. Tapi, kakakmu menyuruh Bapak untuk tidak membicarakannya sekarang. Juga untuk tidak melaporkannya dulu pada almarhum Pak Haji. Biarlah ini menjadi urusanku, begitu kata kakakmu."
Bashir tampak gemas. "Pasti si Hakim pernah menelepon dari sini! Pak Hasan harus membantu aku mencarikan buku telepon. Siapa tahu nomor teleponnya tertulis di sana!"
Pak Hasan menggeleng. "Tidak pernah, Bashir. Semua telepon ke luar negri harus lewat operator. Bapak pernah menanyakan pada operator, apakah Hakim pernah menelepon ke Mesir atau Thailand dari sini? Ternyata tidak pernah," Pak Hasan melaporkan temuannya.
"Apa Bapak pernah diberitahu, di mana Hakim akan menginap di Kuala Lumpur?" Bashir merasa cemas.
"Tidak pernah…”
"Aduh! Kenapa aku sebodoh ini!"
"Kamu juga tidak menanyakannya?" Pak Hasan gantian yang cemas.
Bashir menggeleng dengan kesal. "Hakim!" Bashir tampak jengkel. "Kamu sudah membohongi aku! Sudah membohongi almarhum Bapak! Juga Anah! Awas, kamu!" Bashir menggenggam kepalan tangannya!
Episode 13
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Anah Pasrah Ketika Tahu Hakim Sudah Berkeluarga
Bergulir Al-Fatihah mencari makna
Mendekap erat aku pada sesembahan
Ini sesajiku, Tuhan
Rayuan agar Engkau pandang aku
Dengan rangkulan kasih sayang-Mu
Tersekat tenggorokanku pada amien!
Siti Nurkhasanah sudah duduk di kereta malam Kuala Lumpur-Bangkok. Sebetulnva Anah masih ingin berlama-lama di Kuala Lumpur, kota vang sangat bergaya Eropa. Sekilas ketika naik bus dari bandara menuju stasiun kereta KL tadi, dia bisa merasakan kota seluas 244 km persegi ini seperti kota mini. Bangunan-bangunan tua peninggalan Inggris dan gedung baru yang canggih berdampingan. Jaraknya juga mepet ke jalan raya. Terasa jalan-jalan di Kota KL ibarat lorong-lorong saja. Tapi, begitu teratur, bersih, dan tidak terlihat kemacetan yang membabi-buta seperti di Jakarta!
Anah ingin sekali melihat-lihat Dataran Merdeka yang kesohor itu, di mana masyarakat bisa bersantai-santai sambil menikmati tontonan di TV wall serta melihat istana kepresidenan. Juga dia ingin mengajak Hakim shalat di Masjid Agung Kuala Lumpur, yang letaknya bersebelahan dengan stasiun kereta. Apalagi kalau waktunya banyak, dia ingin naik ke KL Tower untuk melihat landscape ibu kota Malaysia ini. Syukur-syukur bisa berfoto-foto di Menara Kembar KL, yang spektakuler itu! Masya Allah! Tapi, kenapa kesempatan itu tidak diperolehnya? Kenapa Hakim begitu terburu-buru mengajaknya ke Bangkok? Padahal mereka baru saja menginjakkan kakinya di sini! Kenapa ya, Allah? Anah akhirnya melemparkan segala tanya pada yang di atas. Pada yang Mahasegala!
"Waktu kita tidak banyak, Anah," kata Hakim setelah membeli tiket terusan KL-Bangkok!
"Kalau tidak banyak, kenapa kita harus ke Bangkok? Kenapa kita tidak berbulan madu di sini saja?" Anah protes dengan kesal.
"Sudahlah, tidak ada gunanya berdebat," Hakim membimbing Anah naik ke dalam kereta.
"Anah tidak mendebat Kakak! Anah hanya ertanya! Kakak harus menjawabnya!"
Kereta berguncang!
Hakim tampak tegang!
"Kak ...," Anah mencairkan kebekuan.
"Iya…."
"Ada apa, Kak?"
"Tidak ada apa-apa….”
"Pasti ada apa-apa!"
Hakim ber-istighfar dalam hati.
"Ternyata betul kata Bashir! Kakak menyembunyikan sesuatu pada Anah!"
Hakim menarik napas dengan berat. "Kenapa kamu selalu membawa-bawa Bashir dalam urusan kita?”
"Karena Bashir lebih jujur ketimbang Kakak!"
"Please, jangan bawa-bawa Bashir, Anah,” pintanya, bahkan cenderung merengek. Wajahnya kelihatan sangat tertekan, membuat iba semua orang yang menatapnya.
"Kakak harus ingat. Anah sekarang istri Kakak. Dosa hukumnya jika Kakak membohongi Anah. Sejak malam pertama sampai sekarang, Kakak belum sekalipun menggauli Anah. Ini sangat mengherankan. Coba bayangkan saja, pernikahan kita sedemikian cepat. Awalnya Kakak mengajak Anah berbulan madu di Malaysia! Tapi tiba-tiba saja kita sekarang kita sudah berada di atas kereta api menuju Bangkok. Ada apa ini?"
"Tidak ada apa-apa."
"Anah jadi bertanya-tanya, apakah Kakak mencintai Anah atau tidak?"
Hakim tertegun.
"Kok, diam? Jangan-jangan Kakak menikahi Anah itu karena terpaksa? Karena takut kualat!”
Hakim betul-betul kelu lidahnya.
"Iya kan? Begitu kan?”
"Ssst, Anah, jangan keras-keras,” pintanya, mencoba tersenyum pada orang-orang di kereta yang melihat padanya.
"Kakak memang pembohong!” Anah memelankan suaranya.
Hakim menyembunyikan kepalanya di antara kedua lututnya. Dia memang mengalami stres.
"Berarti Kakak memang tidak mencintai Anah!”
"Bukan, bukan itu maksudnya, Anah ...," Hakim seperti hendak menangis.
"Lantas, untuk apa Kakak mengajak Anah ke sini? Untuk berbulan madu atau untuk hal lain?" tanyanya dengan napas turun-naik. Nadanya keras lagi.
"Anah ...,” Hakim mengingatkan untuk tenang.
Beberapa penumpang yang duduk di bangku sebelah dan depan menoleh lagi. Hakim mencoba tersenyum pada mereka.
"Jawab, Kak!"
"Jangan keras-keras! lni di negeri orang!" Hakim agak memerintah.
"Baik, Anah akan bicara pelan. Tapi, Kakak harus menjawabnya," kata Anah meminta kepastian.
Hakim melontarkan napasnya, tapi terasa tenggorokannya tersumbat.
"Kakak memang tidak ingin menjawabnya," suara Anah seperti pasrah.
Hakim mengumpulkan keberaniannya. Dia menatap Anah. "Baiklah, Anah ...," kata Hakim melontarkan beban jiwanya lewat napasnya.
"Kenapa berhenti?!"
"Anah ..., segalanya akan jadi jelas setelah kita tiba di Bangkok. Sekarang, sebaiknya kita beristirahat. Manfaatkanlah waktu kita yang hanya semalam ini untuk tidur."
"Jauh-jauh ke sini hanya untuk tidur?" .
"Please ...?"
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Di Bangkok nanti, percayalah, kita tidak akan punya waktu untuk tidur."
"Ada apa di Bangkok? Sesuatu yang sangat pentingkah?" Anah minta penjelasan sekarang.
"Tolonglah, Anah Biarkanlah Kakak istirahat dulu barang sejenak ...," Hakim memohon dengan sangat. "Ya?" dia kembali memohon dengan wajah yang memelas.
Anah menatap suaminya dengan iba campur sebal. Lalu dia membuang muka dan melihat ke luar lewat jendela kereta api!
Kereta terus meluncur menembus malam. Meninggalkan Kuala Lumpur menuju Hat Yai, perbatasan Malaysia dan Thailand.
Episode 14
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Pada doa apa ingin kurangkai
Pada surah apa ingin kuceritakan
Berujung pengharapan sebuah pinta
Rasa takut tak Engkau kabulkan
Meluapkan setiap tetes air mata
Dengan keluh kesah minta perhatian-Mu
Kereta api berguncang. Lalu berhenti.
Siti Nurkhasanah yang hampir semalamam terjaga, melihat lewat jendela kereta api. Dia membaca di papan nama stasiun: Hat Yai. Sebuah kota kecil di Thailand, yang jadi pos perhentian. Kota ini persis di perbatasan Padang Besar-Kedah, Malaysia.
Hari masih subuh. Anah mengitari pandang ke seisi gerbong. Dalam sekilas, Anah bisa menebak bahwa kereta malam kelas rata-rata ini sangat layak dijadikan alat transportasi. Bersih dan terawat. Jok-joknya empuk, dinding-dindingnya terhindar dari coretan grafiti anak nakal! Toilet-toilet juga berfungsi dengan baik. Tisue tersedia dan air bersih terjamin. Kalau di Indonesia, pelayanan baik itu hanya tersedia di kereta eksklusif seperti Argo Bromo, Argo Gede, atau Argo Lawu! Kalau kereta ekonominya, jangan harap!
Kemudian Anah bangkit dan berdiri. Dia melewati Hakim, yang masih tertidur. Gerakannya sangat hati-hati karena khawatir akan membangunkan suaminya, yang tampak sangat kelelahan secara lahir dan batin.
“Di mana kita?" ternyata Hakim bangun juga.
“Di Hat Yai,” Jawab Anah pendek.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke toilet. Mau wudhu. Anah belum shalat subuh, Kak.”
"Silahkan. Nanti gantian, ya," Hakim melihat ke luar lewat jendela.
Anah rnengangguk dan bergegas pergi. Dia berjalan dengan hati-hati di lorong gerbong, khawatir menyenggol kaki para penumpang yang masih tidur. Dia melihat beberapa penumpang kebanyakan dari Asia Barat; India, Pakistan, Nepal, bahkan Srilangka, sedang berkemas dan hendak turun di sini.
Para turis dari Asia Barat itu memang pintar. Dari negaranya dia berangkat ke Malaysia sebagai turis. Visa di paspornya selama 3 bulan sebagai turis di Malaysia dipergunakan untuk bekerja, ada yang jadi helper di pom bensin, pelayan restoran, kuli bangunan, atau kuli-kuli di perkebunan. Ketika visa mereka habis, mereka pergi ke kota terdekat di Thailand. Hat Yai yang paling diminati daripada Singapura, yang segalanya serba mahal! Dua atau tiga hari berlagak jadi turis di Hat Yai, mereka pun kembali lagi ke Malaysia dengan visa turis selama 3 bulan!
Kereta berguncang lagi!
Anah yang sedang mengambil wudhu di toilet hampir saja terjengkang, tapi dia buru-buru berpegangan pada wastafel. Dia mencoba melongok dari jendela. Tampak peron stasiun dipenuhi oleh orang-orang yang baru turun dari kereta.
Tiba-tiba terdengar pengumuman di pengeras suara dalam Bahasa Inggris dan Bahasa Melayu, yang memberi kesempatan pada para penumpang untuk berjalan-jalan menikmati Kota Hat Yai. Ada waktu dua jam untuk melepaskan penat. Selain itu juga, diingatkan kepada para penumpang yang belum memperoleh visa kunjungan ke Thailand, agar mengurusnya di sini.
"Bagaimana, Kak? Apakah kita akan menunggu selama dua jam di dalam gerbong sampai visa kunjungan ke Thailand kita peroleh?" tanya Anah setelah pihak imigrasi menerima paspor hijau mereka.
"Kamu mau jalan-jalan?" Hakim balik bertanya, walaupun sebetulnya dia merasa kepalanya masih berat. Masih mengantuk.
"Anah tidak ingin perjalanan bulan madu ini jadi tegang. Ayolah, kita turun. Kita refreshing sejenak. Anah yakin, di Bangkok kita tidak akan punya banyak waktu untuk tidur. Begitu kan Kakak bilang?" Anah mengingatkan.
"Iya juga!" Hakim yang baru saja selesai shalat subuh mengiyakan. Pikirannya agak segar setelah wajahnya terbasuh air wudhu tadi. "Jauh-jauh dari Cilegon ke sini, masa Cuma duduk-duduk saja!" Hakim berusaha tersenyum dan bersikap santai.
Anah tampak senang. Dia makin senang, ketika pihak imigrasi membubuhkan stempel visa kunjungan selama dua minggu! Rasanya tidak sia-sia juga dia membikin paspor dalam waktu sehari lewat agency!
Pasangan suami-istri, yang sebetulnya belum pernah melakukan hubungan seksual, turun dari gerbong. Mereka berjalan keluar dari stasiun tanpa berpegangan tangan atau bergandengan seperti layaknya pasangan suami-istri yang sedang berbulan madu. Mereka satu sama lain tampak merasa asing! Orang-orang yang melihat mereka juga pasti akan berpikiran sama. Siapa gerangan mereka? Berjalan berduaan, tapi menjaga jarak! Hakim berjalan di depan dan Anah di belakangnya! Terasa ganjil!
Episode 15
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Membentuk sebuah sudut
Mencengkeram dua lutut
Mata tertancap pada ujung sajadah
Menghaturkan puja-puji pinta
Pada Zat yang kuasa
Rabbi, jadikan aku milik-Mu!
Hat Yai, kota di perbatasan antara Malaysia dan Thailand. Sangat bergolak dan penuh gairah kehidupan. Tampaknya kota ini memang disediakan untuk para turis berkantong tipis yang ingin transit seperti para petualang dari Asia Barat itu, atau untuk para turis lokal yang ingin sekadar menginjakkan kaki di Thailand. Mereka tampak cukup puas menginjakkan kakinya di kota ini. Segala rupa souvenir, mulai dari kerajinan tangan atau t-shirt bertuliskan "Hat Yai, Thailand", mereka borong untuk oleh-oleh keluarga atau tetangga di rumah. Itu sebagai pertanda, bahwa mereka sudah pernah ke Thailand, negara yang konon belum pernah di jajah! Negara yang pernah diledek oleh Hollywood di film lebar, "Anna and The King!"
"Anah ke toilet dulu, Kak," kata Anah berdiri. Sarapannya di meja hanya separo saja di habiskan.
"Jangan lama-lama, ya," Hakim mengingatkan. “Waktu kita tinggal sejam lagi."
"Iya, Kak!" Anah bergegas ke toilet.
Tapi, tanpa diketahui Hakim, Anah menyelinap ke bilik telepon yang tersedia di restoran milik seorang haji asal Malaysia. Dia memijit angka-angka dengan hati was-was dan matanya terus melihat ke meja di mana Hakim sedang menikmati sarapannya.
"Assalamu'alaikum ...," suara Anah bergetar.
"Wa'alaikum salam ...," terdengar suara Bashir di seberang.
"Bashir, ya?"
"Kamu, Anah?!"
"Iya, saya."
"Anah! Di mana kamu?"
"Di Hat Yai!"
“Hat Yai?"
"Di Thailand!"
"Apa? Thailand?" Bashir kaget.
"Iya! Kami ada di Thailand sekarang!" Anah sangat gembira mengabarkan pada Bashir lewat telepon.
"Mau apa kalian di Thailand?" suara Bashir berdebar-debar di seberang.
"Tapi, masih di perbatasan, kok."
"Hakim, mana?"
"Sedang ke toilet."
"Anah, dengar…..”
“Iya….”
"Saya bukan bermaksud mencampuri urusan kamu.”
"Sudahlah, jangan menambah keruh suasana.”
"Kalian akan terus ke Bangkok, kan?"
"Iya.”
"Apakah Hakim membicarakan sesuatu?"
"Ya.”
"Bicara apa si Pembohong itu?"
"Katanya, segala sesuatunya akan jadi jelas setelah tiba di Bangkok."
"Kamu harus sabar, Anah!"
"Saya hanya bisa pasrah."
"Anah, apa yang terjadi di antara kalian?"
"Saya nggak tahu."
"Kamu pasti tahu!”
Anah tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia teringat, bahwa jika menyebarkan aib suami adalah termasuk dosa. Dia juga jadi ingat sebuah hadis, bahwa sebagus-bagusnya perhiasan masih lebih bagus seorang wanita salehah. Dia ingin sekali jadi wanita salehah. Bahkan setelah resmi dan sah menjadi istri Hakim, di dalam hatinya sudah tercetus akan selalu mematuhi perintah suami. Dia paham, di dalam rumah tangga, seorang istri adalah yang berada di bawah perintah suaminya. Bahkan itu sudah dengan gamblang tertulis di QS. An-Nisa ayat 34, bahwa para laki-laki adalah pemimpin bagi para wanita karena Allah telah melebihkan mereka dan karena mereka telah memberikan nafkah kepada para wanita itu. Ya, Allah ya Rabbi, berilah hamba kekuatan-Mu untuk selalu berada di jalan-Mu! Dan biarkanlah aku untuk selalu jadi milik-Mu! Begitu Anah memanjatkan doa-doanya selalu.
"Anah! Kamu masih di sana?" suara Bashir membuyarkan lamunannya.
"Iya."
"Kamu juga menyembunyikan sesuatu pada saya, Anah!"
"Menyembunyikan apa?"
"Jangan berlagak bodoh! Saya sudah tahu semuanya!"
"Tahu apa?"
"Tentang seorang wanita bemama Namlok Sarachipat!"
"Namlok Sarachipat?" Anah kaget. Dadanya berguncang.
"Ya!"
"Siapa dia?"
"Kamu belum tahu?"
Anah terdiam.
"Anah! Hakim akan membawamu ke Bangkok kan?"
Anah tetap diam.
"Anah!"
Anah meletakkan telepon.
Klik!
"Hallo! Hallo! " Bashir berteriak-teriak.
Anah sudah menutup telepon.
"Ah, bodoh kamu! " gerutunya sambil mebanting telepon.
Anah merasakan kedua lututnya gemetar. Dadanya bergolak! Ada badai di hatinya! Ada huru-hara berkecamuk di pikirannya! Dia bergegas keluar dari bilik telepon. Dia merasakan dunia berubah gelap, tapi dia terus berusaha agar tidak terjerembab! Nama wanita yang disebutkan Bashir tadi berkelebatan bagai pedang, menyayat sehelai demi sehelai perasaannya!
Ketika Anah sudah sampai di meja di mana Hakim sedang menunggu, dia seperti melihat segumpal kebohongan, yang ingin dia hancurkan. Tapi, bagaimana harus memulai? Bukankah Hakim pernah mengatakan, semuanya akan menjadi terang setelah tiba di Bangkok! Bahkan untuk tidur pun pasti tidak akan sempat!
"Kok, lama amat?" Hakim menatapnya ketika Anah sudah kembali duduk.
"Biasa, Kak, perempuan," Anah berusaha tersenyum, mengatasi emosinya yang masih berkecamuk. Ingin sekali dia langsung menanyakan tentang Namlok Sarachipat pada Hakim. Tapi, hal itu diurungkan.
"Sekarang giliran Kakak ke toilet, ya!" Hakim bangkit dan pergi.
Anah mengangguk dan hanya menunduk. Dia sedang berzikir, subhanallah, subhanallah…. Semoga dengan cara ini, hatinya bisa tenang.
Dan seperti yang Anah lakukan tadi, Hakim pun tidak pergi ke toilet. Tapi, dia menyelinap ke bilik telepon. Menghubungi Namlok Sarachipat di apartemennya di Bangkok!
Anah tidak melihatnya. Andai pun melihat, pasti dia tidak akan memedulikannya. Biarlah semuanya jadi terang di Bangkok. Tinggal semalam lagi harus ditempuh dengan kereta api!
"Assalamu'alaikum ...," suaraHakim tersedak di tenggorokan.
"Wa'alaikum salam ...," terdengar suara di seberang.
"Namlok?" Hakim merasa jantungnya seperti dipompa!
Episode 16
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Rabbi, tak ingin lepas aku dari sujudku
Rasa rindu pelukan-Mu
Menghantarku teringat hina dan dosa-dosa
Tangisku pecah kala bersujud
Rabbi, hapuslah salahku!
Namlok Sarachipat merasa tangannya gemetar. Telepon di tangannya hampir saja jatuh. "Hakim?" tanyanya kurang yakin.
"Iya, aku ...suamimu." Hakim sangat bahagia mendengar istrinya yang berbicara di telepon.
"Who is he, Mama?" Siti Aisyah mendekati ibunya dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Your Papa, Aisyah," Namlok menggamit anaknya yang berumur 3 tahun.
"Papa?" Siti Aisyah merasa gembira.
"Say hello!" Namlok memberikan gagang telepon ke anaknya.
"Assalamu'alaikum, Aisyah?" Hakim sudah tidak sabar.
"Wa'alaikum salam," Aisyah menjawab salam ayahnya, walaupun belum begitu sempurna.
Alhamdulillah, Hakim bersyukur pada Allah. Ternyata Namlok sudah mengajari Siti Aisyah bagaimana caranya memberi salam dalam tata cara Islam. "Aisyah, Sayang ...," Hakim memanggil putrinya dengan perasaan bergetar.
Tapi Siti Aisyah yang masih polos dan lugu hanya terdiam. Gagang teleponnya disodorkannya lagi pada Namlok.
"Ayo, ngomong sama papamu. Bilang, kalau kamu kangen sama Papa," Namlok membimbingnya dalam bahasa Thailand.
"Papa ...," akhirnya Siti Aisyah berbicara di telepon dengan lugu.
"Aisyah? Ini Papa! " Hakim ingin sekali memeluk anaknya. Rasa kangen itu menggelora. Sayang, dia hanya bisa merapatkan lebih dekat lagi gagang telepon ke bibirnya.
"Papa ..."
"Can you speak Indonesia?"
"No, Papa…."
“Aisyah….., I miss you, honey!”
"Papa ..., kapan Papa pulang?" Siti Aisyah bertanya dengan polos. Ada rasa kangen ingin bertemu dengan ayahnya, yang selama ini hanya dia lihat dari foto dan cerita ibunya.
"Papa sekarang sudah pulang, Aisyah. Please, give the phone to Mama……"
"Mama ..., Papa wants to talk to you!"
Namlok bergegas mengambil gagang telepon. "Hakim ..., di mana kamu sekarang?" rasa haru menyelimuti perasaannya.
"Aku ada di sini, di Thailand ...," suara Hakim seperti air yang jebol dari bendungan.
"Apa? Kamu ada di sini?" Namlok masih belum percaya.
"lya! Aku ada di Hat Yai!"
"Hat Yai?" air mata mulai menggenang di mata Namlok.
"Aku mau menemui kalian!"
"Untuk apa?" bibir Namlok bergetar-getar! Dadanya ingin meledakkan segala macam rasa, yang selama bertahun-tahun menggejolak di dada!
"Membawa kalian pulang ke Indonesia!"
"Betulkah?" suara Namlok tersedak-sedak di tenggorokan.
"Mungkin besok, aku akan datang menjemputmu!”
"Alhamdulillah, akhirnya doaku dikabulkan Allah," Namlok menangis penuh rasa syukur.
"Mulai besok, kita akan selalu bersama-sama, Namlok. Aku tidak akan meninggalkan kamu dan Aisyah.”
"Subhanallah," air mata terus mengalir bagai mata air dari pegunungan hatinya.
"Aku harus pergi dulu. Kereta sebentar lagi akan berangkat. Insya Allah, kita akan bekumpul besok. Salam sayang sama Aisyah, ya!"
"Hati-hati."
"Assalamu’alaikum….”
“Wa’alaikum salam……"
Klik.
Hakim menutup telepon.
Hakim tertegun di bilik telepon. Dari tempatnya dia bisa melihat, kalau Anah duduk menunggunya dengan gelisah. Tanpa banyak pikir lagi, dia meninggalkan bilik telepon. Di dalam hatinya dia merasa bersalah pada Anah karena sudah membohonginya lagi. Tapi, segalanya tinggal sebentar lagi terpecahkan. Segalanya akan berakhir hanya dalam hitungan jam saja!
Kadang tebersit dalam pikiran Hakim, andaikan Namlok dan Anah bertemu, pasti akan terjadi suatu malapetaka! Kedua wanita itu pasti akan menyalahkannya! Akan menyebutnya sebagai lelaki pengecut, kejam, atau apalah saja kata yang cocok untuk lelaki sepertinya! Dia akan rpenerimanya dengan lapang dada. Sekarang dia hanya hanya berserah diri kepada Allah, memohon dan meminta petunjuk serta perlindungan. Meminta jalan yang terbaik bagi kehidupannya kelak. Tapi jika diperbolehkan memilih, dia lebih memilih Namlok yang sudah memberinya seorang putri cantik!
Pokoknya yang ada di pikirannya sekarang, Hakim sudah bertekad akan membawa Anah kepada Namlok dan Siti Aisyah. Dia tidak ingin berlama-lama lagi menutupi segala kebohongannya. Dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya adalah pengecut. Menyerahkan segala persoalan kepada mereka! Tapi, dia betul-betul tidak bisa berpikir jernih untuk masalahnya ini sendirian. Pikirannya buntu! Dia ingin menyerahkan segala persoalan ini pada Namlok dan Anah! Biarlah mereka juga dilibatkan! Andai saja saat itu dia menolak amanat dari ayahnya yang menyuruhnya untuk menikahi Anah, mungkin sekarang dia tidak akan semakin terperosok lebih dalam lagi. Salahnya sendiri ketika pulang dari Mesir, menunda-nunda memberitahukan pada ayahnya, bahwa dia sudah menikah dan mempunyai anak. Terus tertunda sampai ayahnya terbaring di rumah sakit karena korban tabrak lari. Dia sendiri sadar, hidupnya selama itu penuh dengan kebohongan. Penuh dengan dosa terhadap semua orang. Terlebih-lebih pada Allah. Tapi, dia tidak bisa keluar dari lubang kebohongan yang digalinya sendiri waktu itu!
Kini Hakim mengambil jalan pintas, yang muncul secara tiba-tiba. Sebetulnya dia tidak merencanakannya seperti ini, mempertemukan Namlok dan Anah! Tapi, ini mengalir saja mengikuti hati nuraninya. Dia akan meminta bantuan pada Namlok dan Anah untuk menyelesaikan masalahnya. Itulah sebabnya, kenapa sampai detik ini dia tidak menyentuh Anah. Tidak menggaulinya sebagaimana layaknya seorang suami terhadap istrinya.
"Sudah, Kak?" Anah memecahkan kaca-kaca masa lalunya, sehingga buyar.
Tanpa terasa, Hakim sudah berdiri di depan Anah. Masa lalunya yang penuh kebohongan ternyata tanpa sadar membawanya ke Anah.
"Kak?" Anah menyelidik.
"Ya, ya, kita kembali ke stasiun sekarang," Hakim mengangguk. Tapi dia tidak berani menatap mata Anah yang biru lama-lama. Dia merasa mata istrinya itu menelanjangi semua kebohongannya selama ini.
Episode 17
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Pada bening mata anakku
Kuraba segala petunjuk-Mu
Sosok mungil bersih dan suci
Anugerah terbaik bagi hidup
Tuhan, tolong tanganku ini
menjaganya dari luka neraka
Kereta api bergerak meninggalkan Hat Yai. Ada penumpang yang turun di pos perbatasan dan ada penumpang yang baru dengan tujuan Bangkok. Semua menjadi pemandangan rutin yang indah di sini. Pergi dan pulang. Berangkat dan kembali. Sebuah sinonim kehidupan yang sangat harmoni. Semuanya akan terasa membahagiakan jika diawali dengan kalimat basmalah, dengan izin Allah, dengan ridha Allah. ...
Tapi setelah mengucapkan bismillahitawakaltu, Anah terus diam membisu. Hakim merasakan, bahwa ada sesuatu yang mengganjal di dalam hati Anah. Dan dia tidak berani menanyakannya langung pada Anah. Ada rasa takut menusuki hatinya. Ada sesuatu yang seolah-olah membayangi benaknya, sesuatu yang entah apa. Dia tahu, bahwa Anah sedang menghukumnya. Menjadi seorang suami yang diliputi kebohongan seperti dirinya memang tidaklah baik. Bukan untuk sebagai contoh bagi suami teladan. Jauh dari itu. Bahkan dia merasa, dirinya adalah penghuni neraka. Ingin rasanya dia pergi ke Makkah dan bersimpuh di kabah, memeluk Hajjar Aswad sambil memohon, ya Allah, bersihkanlah, segala dosa-dosaku! Dan ya Allah ..., biarkanlah aku jadi milik-Mu! Hatinya kini merasa kecil. Peluklah aku, ya Allah! Basuhlah segala dosa-dosaku. Telah lama aku ingin hidup atas ridha-Mu! Akhirilah segala penderitaanku ini! Begitu terus batinnya meratap pada Sang Pemilik.
Sedangkan Anah kini melihat ke luar lewat jendela kereta api. Segala macam benda berlarian meninggalkannya. Matahari mulai meninggi dan membuat terik. Bayangan-bayangan segala macam rupa yang memantul di kaca jendela kereta, tiba-tiba menjelma jadi wajah iblis yang sedang menertawakannya. Lidah iblis yang bagai api neraka terjulur mengerikan, mengolok-olok nasibnya! Seolah membisikkan ajakan agar meninggalkan Allah, yang sudah bersikap tidak adil padanya!
Ya, Allah sudah tidak adil padamu, Anah! Begitu iblis menertawakannya. Coba, siapa Namlok Sarachipat? Wanita itu pasti….. Tapi, Anah tidak berani melanjutkan kegelisahannya tentang nama seorang wanita yang dihembuskan Bashir! Tapi, iblis terus mencecarnya! Terbukti selama ini Hakim tidak pernah menggaulinya sebagai seorang istri! Ada sesuatu yang besar yang selalu disembunyikan Hakim darinya. Dan dia secara perlahan sudah mulai menciumnya, bau itu memang sangat tajam!
Diam-diam, dia melirik ke Hakim! Iblis menempel di wajah suaminya! Terasa menyeramkan dan membuat dirinya jadi membenci suaminya!
Tapi, Anah buru-buru istighfar!
"Anah?" Hakim menegurnya.
"Ya, Kak," Anah mencoba tersenyum.
"Kamu….?”
"Cuma panas saja, Kak," Anah membasuh wajahnya dengan sapu tangan yang sudah ditetesi air mineral. Terasa segar sekarang. Kembali dia melihat ke luar. Wajah iblis itu sudah tersangkut di tiang-tiang listrik, di dahan-dahan pohon! Terkapar dan hangus terbakar! Pergi kau, iblis! Pergi! Jangan pengaruhi aku dengan api nerakamu! Jangan kau seret aku menjadi pengikutmu! Tidak akan pernah aku jadi kayu bakarmu! Begitu Anah mengusir si iblis dengan doa-doanya! Tapi iblis terus menghasutnya, bahwa selama ini suaminya sudah membohonginya! Sudah berlaku tidak adil padanya! Anah tetap tidak bergeming. Bibirnya terus melafalkan kalimat-kalimat pujian kepada Allah, subhanallah, subhanallah…..
Kini yang ada di mata Anah adalah hamparan sawah-sawah yang sedang menguning, pertanda harapan hidup yang lebih baik akan muncul dengan izin Allah! Di sela-sela permadani kuning itu juga bermunculan bangunan-bangunan yang gentengnya warna-warni.
"Apa itu, Kak?" Anah kini berusaha untuk bergembira, menikmati sisa perjalanan bersama Hakim.
Hakim pun jadi bergairah lagi. Pertanyaan istrinya yang salehah ini seperti angin segar baginya. "Itu Wat," jawab Hakim gembira. Bibirnya dihiasi senyum.
"Wat?"
"Ya, Wat. Semacam tempat peribadatan Budha. Di Banten Lama juga kan ada."
"Oh, Kelenteng itu, ya," Anah manggut-manggut paham.
Tapi kalau di Banten Lama Wat itu cuma sematra wayang saja, di sini sangat banyak. Wat-wat itu bermunculan di tengah-tengah tanah kosong berupa padang rumput, atau di tengah-tengah pesawahan. Luas tempat peribadatan Budha itu kira-kira satu hektar. Warna gentengnya dicat warna-warni seperti pelangi dan dindingnya yang tinggi, sangat mencolok mata dan menjadi hiburan tersendiri bagi para turis yang melihatnya dari kereta api!
Episode 18
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Anah betul-betul menikmati pemandangan langka ini. Keindahan ini sedikitnya mengurangi beban yang mengganjal hatinya. Lalu dia melirik lagi pada suaminya. Ternyata suaminya kembali tertidur. Kali ini tampak wajah suaminya tidak begitu kusut. Malah ada semacam sinar harapan tebersit di sana. Bahkan kalau diteliti, ada senyum tipis menghiasi bibinya. Oh, ingin sekali Anah menanyakan padanya, apa yang sedang kamu pikirkan, suamiku? Apayang akan terjadi di Bangkok! Akan kamu bawa kepada siapa aku di sana! Namlok Sarachipat! Ayolah, suamiku! Aku sudah siap! Aku akan hadapi dengan hati ikhlas apapun yang akan terjadi! Sepahit apa pun! Bukankah satu balik kepahitan selalu menanti rasa manis yang tidak terkira! Begitulah janji Allah di dalam Al-Quran! Anah percaya itu!
Lalu Anah mencoba memejamkan mata.
Kereta melaju menembus malam.
Laju, lajulah…..
Kereta api berguncang.
Sebuah stasiun kecil.
Beberapa pedagang asongan menyerbu ke kaca jendela. Atau ada beberapa yang naik ke kereta. Mereka dengan tertib mengasong-asongkan dagangannya. Ketika kereta bergerak lagi, mereka berlompatan turun. Mereka tidak diizinkan untuk terus berada di gerbong sepanjang perjalanan.
Kereta melaju lagi…..
Laju-lajulah…….
Hakim betul-betul nyenyak tertidur.
Malam makin larut.
Anah membuka kelopak matanya. Dia merasa malam terasa panjang. Entah sudah berapa ratus kilometer dilewati, tapi kenapa Bangkok belum datang juga. Dia mencoba untuk terus mengikhlaskan dirinya pada Allah, agar segala sesuatunya bisa berjalan dengan lancar. Hanya pada-Mulah aku berlindung, ya Allah! Lapangkanlah dan lancarkanlah perjalanku beserta suamiku ini!
Anah menatap wajah suaminya, yang tampak berada dalam buaian mimpi. Hakim, sedang mimpi apa kamu? Gerangan apakah yang kamu sembunyikan dariku, sehingga semalam pun tidak pernah kamu sentuh aku! Hati Anah terus merintih dan bertanya-tanya. Apakah ini ada hubungannya dengan Namlok Sarahipat?
Ya Allah, jadikanlah aku milik-Mu! Pintanya penuh dengan kepasrahan! Toh, segala sesuatu dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya! Kenapa kita harus merasa kehilangan? Tuhan sudah mengatur semua garis hidup hamba-Nya!
Malam makim pekat.
Makin hening.
Kereta api mendesis bagai ular raksasa, berkelok-kelok untuk mencapai tujuan. Mengantarkan orang-orang pada pengharapan.
Anah kini tertidur lagi. Tuhan memeluknya. Menyelimutinya dengan kasih sayang.
Kini giliran Hakim yang menggeliat. Dia melirik istrinya, yang tertidur pulas. Kemudian ke luar lewat jendela. Hanya hitam pekat. Sepekat pikirannya. Sekali lagi Hakim menatap wajah istrinya, yang tampak lelap dalam kedamaian. Oh, Anah! Maafkan aku, yang sudah membohongi kamu! Besok, kamu akan aku bawa pada suatu jawaban, yang selama ini selalu aku sembunyikan, yaitu istri dan anakku! Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah!
Episode 19
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Kupinang cinta-Mu
dengan hari-hari penuh zikir
dalam khusyuk deras doa
Basah tanah air mata
Menanti tangan-Mu
Mengusap pipiku
Bangkok, pagi hari.
Hua Lampong membuka tangannya lebar-lebar pada semua kereta api yang datang dari segala arah. Sebuah stasiun kereta api di jantung kota Krung Thep atau Bangkok. Stasiun kereta api kebanggaan masyarakat Thailand! Besar dan bersih. Hampir di setiap sudut terpampang billboard, yang menerangkan keberangkatan dan kedatangan kereta api dari dan ke segenap kota yang ada di Thailand! Komplit dengan jam dan harga tiketnya!
Alhamdulillah ...kereta api dari Hat Yai akhirnya masuk secara perlahan ke Hua Lampong. Masuk ke perut Ibu Kota negara yang belum pernah dijajah ini. Perjalanan membelah malam membuat para penumpang ingin segera turun dan melemaskan tubuh, otot-otot serta tulang-tulang. Membuat mereka bergegas mengidamkan air dan sabun wangi.
Anah, dokter cantik berjilbab putih itu masih duduk sambil menatap ke luar lewat jendela. Inikah Bangkok? Mana Namlok Sarachipat? Ayo, songsonglah aku!
"Anah….,” Hakim menegurnya.
"Ya, kak?" Anah tersenyum.
"Kita sudah sampai di Bangkok," katanya sambil menarik tas dari kolong tempat duduk.
"Kita akan ke mana, Kak? Apakah mau terus ke Myanmar? Atau ke Pakistan?" suara Anah kedengarannya menyindir.
"Anah, jangan sinis begitu, dong ...," Hakim bingung melihat gaya bicara Anah. Antara senyuman dan sindiran! Apa yang terjadi padamu, istriku? Kepasrahan dan keputusasaankah? Betapa tipis jaraknya! Betapa sukar untuk menerkanya!
"Abisnya ..., Kakak suka berubah pikiran!" Anah meledek.
"Tidak, Anah! Tidak akan berubah lagi! Sekarang tujuan kita berakhir di Bangkok. Kita cari hotel sekarang. Kita jalan-jalan keliling Bangkok! Lihat Pagoda! Lihat Grand Palace! Itu ...istana Raja Bhumipol Abdulyadey!"
"Ayo! Siapa takut?"
"Anah?" Hakim menyelidik.
"Kenapa, Kak?" Anah menatapnya dengan menyelidik. "Kenapa? berubah lagi?" ledeknya. Sebetulnya dibalik tingkah laku Anah yang tampak gembira, tebersit perasaan cemas dan pasrah.
"Ayolah ...," ajak Hakim. "Nanti kita bicarakan di hotel."
Anah mengangguk. Dia kini sudah jadi istri Hakim. Bagaimanapun, perkataan suami adalah perintah. Dosa hukumnya jika seorang istri membantah kehendak suami. Walau pun masih mengantuk, perasaan Anah bergairah kembali ketika sudah turun dari kereta. Bersama Hakim, Anah melintasi peron stasiun. Betapa sibuknya stasiun kereta ini, tapi, tetap teratur. Banyak turis mancanegara berseliweran dengan ransel di punggung. Mereka ada yang menuju Thailand Utara atau ke Pataya di Selatan.
"Betapa beruntungnya mereka," gumam Anah.
"Kenapa, Anah? Siapa yang beruntung?” Hakim kurang mengerti.
"Para turis itu Mereka beruntung bisa menikmati keindahan dunia ciptaan Allah ini. Masya Allah," Anah memuji.
Hakim mengangguk-angguk sambil menggandeng Anah keluar dari pintu stasiun. Beberapa pegawai stasiun asal Asia Barat, yang sedang membersihkan lantai menatapnya. Ada yang tersenyum dan bahkan ada yang menyapanya.
"Assalamu'alaikum ...," sapa salah seorang petugas cleaning service.
"Wa’alaikum salam ...," jawab Anah dan Hakim ketika sudah berada di trotoar di depan stasiun.
"From Malaysia?" tanyanya.
"No! From Indonesia!" jawab Hakim.
Anah hanya tersenyum pada orang itu. Pasti dari Pakistan! Anah menebak-nebak.
Kemudian Hakim memanggil Tuk Tuk, kendaraan roda tiga khas Thailand. "Khao San!" kata Hakim. "But, the first ..., please. ..take us around the city! I want to show Bangkok to my wife ...,” pinta Hakim dengan bahasa Inggris pasaran.
Supir Tuk Tuk itu mengangguk-angguk pertanda mengerti. "Honey moon, Mister?" tanyanya sambil tertawa senang.
"Yes! Honey moon!" Hakim juga tertawa sambil mendekap Anah.
Tapi bagi Anah, tawa Hakim itu terasa getir. Bahkan Anah merasa dekapan suaminya itu juga terasa hambar. Anah merasa, Hakim sedang melawan kegelisahannya dengan kegembiraan. Seperti juga dirinya. Bukankah itu lebih baik daripada dengan berkeluh kesah? Tapi, perasaan wanitanya tidak bisa dibohongi. Semuanya terasa semu dan dibuat-buat. Biarlah semuanya terserah Allah saja!
Tanpa menawar lagi, Hakim menyuruh Anah untuk naik. Kursi penumpang di belakang sopir, cukup besar juga. Rasanya muat untuk tiga orang. Kemudian setelah meletakkan barang di bawah kaki Anah, Hakim pun naik.
Seperti halnya bajaj di Jakarta, suara mesin Tuk Tuk pun berisik. Kendaraan alternatif yang sangat digemari turis ini meliuk-liuk di keramaian kota Bangkok, yang selalu macet di pagi hari.
"Kanal-kanal itu ...," Hakim menunjuk ke sungai, “jadi sarana angkutan air primadona di sini. Terutama pada jam-jam sibuk. Nanti kita naik perahu, ya!" janji Hakim.
Anah melihat ke sungai yang meliuk-liuk di tengah Kota Bangkok, yang dijadikan jalan alternatif penduduk. Perahu-perahu motor yang panjang berjubel dengan penumpang. Sangat jauh berbeda dengan sungai-sungai di Jakarta, yang hanya dimanfaatkan sebagai tempat MCK penduduk! Kotor dan hitam! Jika musim hujan turun, banjir pun jadi menu rutin masyarakat!
Tuk Tuk melintasi Sanam Luang, alun,alun Grand Palace yang luasnya seperti Lapangan Banteng, Monas. Puncak Pagoda istana King Rama IX yang dibangun sekitar tahun 1783 itu sangatlah indah. Kuning keemasan ditimpa cahaya matahari pagi! Orang-orang bersantai-santai di trotoar. Para turis menyewa tikar dan bergeletakan di alun-alun. Ada yang bermain-main dengan burung dara, ada yang berlarian sambil menedang bola. Betapa bahagianya mereka, yang bisa menghirup kebebasan.
Tapi, tiba-tiba Anah merasa hidupnya akan seperti ditindih batu besar!
Episode 20
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Seusai shalat aku terdiam
Mengalir sesal dalam istighfar
Andai bisa kuulang masa lalu
Akan kubasuh hati dan iman
Agar tegak kuberdiri
Pada shalatku yang benar
Allah, jangan biarkan aku salah lagi!
Tuk Tuk memasuki wilayah Khao San. Anah menengok ke kiri dan ke kanan jalan. Sebuah lorong pertokoan. Di trotoamya tumplek pedagang kaki lima. Ada yang menjual souvenir kaos, kerajinan tangan, kaset, VCD, dan segala macam cindera mata lainnya. Para turis berseliweran. Iklan-iklan perjalanan wisata dan penginapan murah bertebaran di mana-mana.
"Mirip Royal, ya?" Hakim membandingkan Khao San dengan pusat pertokoan di Serang.
"Iya, mirip Royal," Anah mengangguk.
"Gimana, kamu senang lihat Bangkok?"
"Senang…."
"Syukurlah."
"Tapi, untuk berapa lama, Kak?"
"Kakak belum bisa memastikan. Yang penting jangan lewat dari seminggu. Selain dananya tidak cukup, kasihan Bashir. Dia kan harus kembali kerja di Jakarta."
"Sekarang, kita menginap di mana?"
"Untuk turis miskin seperti kita, di Khao San ini banyak penginapan murah," nada suara Hakim kedengarannya merasa bersalah.
"Kak, jangan bicara begitu. Buat Anah, yang penting bisa beristirahat dengan tenang. Tidak perlu yang mahal-mahal, kan?" Anah memegang tangan suaminya.
"Maafkan Kakak, Anah. Kakak tidak bisa memberikan yang terbaik di hari pernikahan kita ini."
"Honey moon di Bangkok, buat Anah adalah hadiah yang paling mengesankan, Kak," Anah tersenyum tulus.
Hakim kelihatan senang melihat senyum Anah.
"Stop, stop!" Hakim meminta sopir Tuk Tuk berhenti di depan International Youth Hostel Bangkok. "Yuk, turun! " Hakim sudah turun duluan sambil menarik tas-tas mereka.
Anah juga bergegas turun.
Lantas Hakim membayar ongkos. "Thank's a lot!" katanya.
Sopir Tuk Tuk melambaikan tangannya dan meledek, "Have a nice day, Mister Honey moon!" Lalu lelaki Thai ini melaju dengan Tuk Tuk-nya. "See you around!" teriaknya.
Anah tersenyum dibuatnya.
"Kita menginap di sini! Selaill murah, tempatnya bersih, juga keamanannya terjamin!" Hakim langsung masuk sambil menenteng tas.
"Kakak pemah ke sini?" Anah meneliti bangunan minp toko-toko di Royal, Serang.
"Pernah! Sewaktu pertama kali berangkat ke Mesir, Kakak diajak teman seperjalanan untuk transit di Bangkok. Pulangnya, Kakak ke sini lagi. Ya ..., hitung-hitung piknik!"
Anah mengangguk-angguk.
Pondok wisata untuk anak muda ini letaknya persis di jantung Kota Bangkok. Ibarat kawasan Jalan Jaksa di Jakarta atau Sosrowijayan di Malioboro, Yogya. Tapi seingat Anah, di Jakarta ada juga pondok seperti ini. Jauh di utara di kawasan Ancol. Kalau di Bandung lumayan strategis, tepat di Jalan Supratman!
"Hello! Anybody home?" Hakim berteriak-teriak di lobi.
Seorang wanita tua muncul dengan senyum lebar. "Hello!" katanya.
"Mee horng hai mai, " Hakim menanyakan apakah ada kamar di sini dalam bahasa Thailand terpatah-patah.
"Members?" pemilik youth hostel menanyakan, apakah Hakim termasuk anggota atau tidak, dalam bahasa Inggris ala turis.
"No!" jawab Hakim tersenyum.
"Yoo kee wan?" wanita tua itu bertanya dalam bahasa Thailand, berapa hari Hakim dan Anah akan menginap.
"For three days!"
Anah tertegun. Untuk 3 hari? Jauh-jauh dari Cilegon ke Bangkok, hanya untuk 3 hari?
"Kalau kamu masih betah, nanti bisa nambah. Lihat situasi saja," Hakim mengerti jalan pikiran Anah.
Anah mengangguk.
"Your wife?"
"Yes!"
"Honey moon?"
"Yes!"
"Beautiful! From Turkey?" wanita Cina itu meneliti Anah.
"No! From Indonesia!" Hakim tertawa.
"But, your wife look like european woman!"
"Eurosia, Mam! Her mother from Holland and her father from Indonesia!"
Anah tersenyum mendengar percakapan Inggris pasar antara Hakim dan pemilik youth hostel.
"Okey! " wanita tua peranakan Cina itu berjalan ke ruangan dalam. "Follow me!" katanya.
Hakim dan Anah mengikuti wanita Cina itu. Mereka berhenti di depan sebuah kamar berukuran 3 kali 4 meter. Ada kamar mandi di dalam. Anah langsung masuk dan duduk di pembaringan.
Wanita Cina itu pergi.
"Masih ngantuk?" Hakim meletakkan tas dan membukanya.
Anah mengangguk.
"Tidur saja dulu," sarannya sambil memasukkan beberapa pakaian ke dalam lemari.
Tanpa disuruh pun, Anah sudah berbaring. Dan Anah betul-betul tertidur.
"Kalau mau sarapan, pesan saja lewat telepon. Nanti diantar. Menunya kan ada di meja. Pakai bahasa Inggris pasar saja. Mereka ngerti, kok…."
Anah tidak menjawab.
Hakim menengok. Tenyata Anah sudah terlelap. Hakim menatap Anah dengan perasaan bersalah. Ditatapnya wajah istrinya yang cantik, tapi kelelahan itu. Tiba-tiba ada darah hangat berdesir menjalari tubuhnya, ketika pakaian bagian bawah Anah tersingkap. Dadanya berdegup kencang.
Anah adalah istrinya yang sah. Darah laki-lakinya menggejolak. Dia belum pernah menggaulinya sejak mereka resmi menjadi suami istri. Aku tidak mencintainya, bisik hatinya lirih. Dia sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Dia harusnya menikah dengan Bashir. Aku lebih memilih Namlok! Ya, Allah, lindungilah selalu Anah! Batin Hakim berseru pada Yang Maha Melindungi!
Lalu dengan masih gelisah Hakim menutup pintu. Dia mendekati istrinya dan duduk di sisi pembaringan. Di pegangnya kaki istrinya.
Tiba-tiba saja iblis mengembuskan angin panas ke hatinya!
Darah bergolak di seluruh tubuhnya!
Episode 21
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Beratus masjid kulalui
Merasai getar lengking Bilal
Mencari suara atas suara
Di manakah Kau?
Hingga suara alam mengusikku
Mengajakku mendekati-Mu
Hakim merasa tersiksa dengan degup jantungnya, yang bagai magma gunung berapi. Kamarnya yang ber-AC masih terasa panas. Keringat membanjiri tubuhnya. Ya, Allah! Ampunilah hamba-Mu ini! Aku tidak akan menjalankan kewajibanku sebagai seorang suami terhadap istriku, ya Allah! Hatinya terasa pedih. Itu tidak akan pernah terjadi. Aku tetap pada rencanaku semula! Menjaga agar Anah tetap suci sebelum aku pertemukan dengan Namlok! Biarlah mereka berdua yang mencarikanku jalan keluar dari kemelut ini!
Perlahan-lahan Hakim mengangkat tangannya. Lalu dibetulkannya letak ujung kain istrinya yang tersingkap. Tidurlah istriku, tidurlah dengan nyenyak. Akan datang nanti saatnya, di mana kau mengetahui semua yang aku perbuat! Akan dating masanya di mana kau mengerti kenapa aku tidak pernah menjalankan kewajibanku sebagai suami.
Kemudian Hakim duduk di kursi dan memandangi istrinya dengan seksama. Betapa cantik istriku ini, ya Allah! Alisnya yang hitam tebal, bagai rerimbunan dedaunan, yang memayungi keteduhan sepasang mata dengan keteduhan air kolam berwama biru. Hidung yang bangir, bibir yang bagai buah korma. Subhanallah ..., Hakim sangat memuji anugerah yang diberikan Allah pada istrinya!
Jam dinding terus berdetak.
Bangkok yang sibuk menggelegak.
Jarum jam terus bergeser.
Hakim terbangun ketika sebuah jari-jari lembut mengusap keningnya. Anah tersenyum di depannya. Rambut Anah yang panjang, yang selama ini tersembunyi di balik jilbabnya tampak panjang dan hitam legam mengkilat! Kulit tubuhnya yang putih bersih segar bagai udara di pegunungan. Betapa semakin cantik istriku ini, ketika jilbabnya dilepas. Seluruh keindahan yang dimilikinya dalam sekejap muncul ke permukaan. Sangat mahal dan hanya diperuntukkan bagi dirinya yang malang sebagai seorang suami! Ah! Hakim menyesali dirinya! Harusnya Bashir yang mendapatkan karunia Allah ini, bukan dirinya yang termasuk ke dalam golongan lelaki pengecut!
"Kakak berkeringat," kata Anah menyeka lagi keringat dikeningnya dengan tisue. "Sebaiknya mandi dulu. Airnya sejuk, lho," saran Anah sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Jam berapa sekarang?" Hakim gelagapan mencari-cari jam tangannya.
"Jam dua belas," kata Anah melihat ke jam dinding.
"Apa? Jam dua belas?"
"Waktu memang bergulir sangat cepat, Kak."
"Kakak tidur selama itu?"
"Anah juga baru bangun. Langsung mandi."
"Astaghfirullah! Kita tidak punya banyak waktu di sini!" Hakim tampak panik mencari-cari sesuatu di tasnya.
"Kakak nyari apa?" Anah tersenyum-senyum.
"Peralatan mandi!"
"Semuanya sudah Anah siapkan di kamar mandi. Sabun, sikat gigi, odol, handuk, pakaian dalam."
"Apa?" potong Hakim merasa heran.
"Lho, Kakak ini bagaimana, sih?"
Hakim masih belum memahami maksud Anah.
"Anah ini kan istri Kakak! Jadi, sudah kewajiban Anah melayani Kakak, " Anah tampak sedih.
Hakim tersadar!
Astaghfirullah! Anah makin bersedih. Ternyata selama ini Hakim masih saja menganggap Anah bukan sebagai istrinya!
Hakim makin merasa bersalah. Dia mendekati Anah. "Ya, ya ...kamu memang istri yang baik. Terima kasih, Anah," Hakim membelai rambut Anah yang masih basah.
Anah mengangguk. Tanpa terasa, matanya basah oleh air mata. Oh, air mata perempuan yang penuh dengan keikhlasan! Andai air mata itu rasanya asin, berarti pertanda hidupnya sedang dilanda penderitaan. Andai ibarat mata air yang sejuk dari pegunungan, pertanda hidupnya penuh dengan .kebahagiaan.
"Kakak mandi dulu, ya," suara Hakim tersumbat di tenggorokan.
Anah lagi-lagi hanya mengangguk.
Hakim masuk ke kamar mandi.
Anah langsung berlari dan melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. Dia menangis. Hanya Allah Yang Maha Pemurah mengetahui semua misteri hidup Anah!
Astaghfirullah! Anah langsung tersadar. Betapa dia merasa sudah melupakan Allah! Lalu dia bangkit dan menuju wastafel. Dia mengambil wudhu dan melakukan shalat zuhur. Ya, Rabbi, aku serahkan diriku sepenuhnya pada-Mu! Aku akan membiarkan diriku menjadi milik-Mu! Aku yakin semua penderitaanku ini akan ada ujungnya!
Anah pun shalat zuhur!
Bahkan setelah usai berzikir, Anah tertidur sambil memuji Allah. Sampai Hakim membangunkannya.
"Oh, Anah ketiduran, ya?" Anah menguap wajahnya.
"lya."
"Kakak sudah shalat?"
"Sudah."
Anah membuka mukena dan melipatnya dengan rapi.
“Setelah makan siang, Kakak akan membawa kamu ke sebuah tempat," kata Hakim, yang masih duduk di selembar sajadah.
Anah, yang sedang meletakkan jilbabnya di meja kecil mengangguk. Dadanya yang biasanya berguncang, kini sudah terbiasa menghadapi setiap ledakan yang tak terduga dari Hakim.
“Maafkan Kakak, Anah ...," Hakim menunduk.
"Anah sudah siap, Kak. Anah justru ingin cepat-cepat bertemu dengan dia."
Hakim mendongak! Dia menatap Anah dengan perasan tak menentu.
"Namlok Sarachipat," Anah langsung pada persoalan.
“Anah ..., Kakak ...," Hakim tak bisa melanjutkan bicaranya.
"Kepada wanita itu kan Kakak akan membawa Anah?" Anah menatap tajam pada suaminya. Bibirnya gemetar. Bendungan di matanya menggelegak-gelegak hendak jebol, seolah tak mampu menahan air bah kesedihan di hatinya!
Tanpa diduga, Hakim bangkit dan menubruk Anah. Hakim menangis tersedu-sedu di pelukan Anah!
Episode 22
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Tuhan, ini rindu hanya untuk-Mu
Hanyutkan aku dalam cahaya-Mu
Ini cintaku pada-Mu
Berharap Kau begitu dekat
Merengkuh tak berdayaku
Jadikan aku kekasih-Mu!
Anah terguncang hatinya. Dia tidak menyangka suaminya akan menangis di dalam pelukannya. Naluri kewanitaannya sangat tersentuh. Ada gelombang dahsyat di dadanya, yang menyuruhnya untuk mengasihi suaminya!
"Kak ..., kenapa?" tanya Anah penuh simpati.
"Maafkan aku, Anah," Hakim tersedu-sedan “Aku memang bukan suami yang baik. Aku sudah berbohong pada kamu, pada almarhum Bapak, juga Bashir."
Anah merasakan seluruh tubuhnya gemetar. Ingin rasanya dia menjerit. Ingin rasanya dia berlari dan melemparkan tubuhnya ke lautan! Berenang sepuasnya dan berteriak ke langit, mengadu pada Allah! Layakkah jika aku protes terhadap Allah? Bolehkan aku meminta sedikit kemurahan hati pada Allah? Untuk hamba-Nya yang menderita ini?
Ya, Allah! Kenapa hamba-Mu yang hina dina ini selalu terus didera cabaan-Mu? Belum lagi hilang rasa sakitku, bahwa aku hanyalah anak dari hasil perselingkuhan Pak Hari Natadiningrat dengan Natalia, kini harus dihadapkan pula pada suamiku yang mempunyai wanita lain? Begitukah Allah?
"Aku ...aku malu pada kamu, Anah ...," Hakim masih menyembunyikan wajahnya.
"Malulah kepada Allah," Anah membelai rambut Hakim.
"Ya, aku juga malu kepada Allah karena aku sudah melanggar perintah-Nya."
"Astaghfirullah ..., apa perintah Allah yang telah kamu langgar, suamiku?"
"Aku sudah berbohong pada kalian, juga pada Allah."
"Berbohong?”
"Ya."
"Apa itu?"
"Namlok Sarachipat, Anah...."
"Siapa dia?"
"Istriku……”
"Kamu sudah menikah sebelum menikahi aku?"
"Bahkan aku sudah mempunyai seorang anak perempuan, Anah. Sekarang mereka sedang menunggu aku di apartemennya. Aku sudah berjanji akan membawa mereka pulang ke Indonesia. Berkumpul bersama-sama dalam satu rumah setelah aku menelantarkannya selama hampir empat tahun." kini Hakim pasrah ketika menatap Anah.
"Suamiku! Teganya kamu melukai perasaanku? Berbohong padaku!" Anah sebetulnya sudah bisa menebak tentang hal ini ketika Bashir memberi tahu lewat telepon, tapi kenyataannya dia tetap saja tak mampu menahan air bah di matanya! Bendungannya jebol! Air matanya tumpah ke mana-mana! Membanjiri pipinya!
"Anah, aku sama sekali tidak ada maksud untuk melukai perasaan kamu.”
"Tapi, kenapa harus berbohong?”
"Sungguh. Demi Allah! Aku hanya tidak ingin menyakiti Bapak yang sedang sakaratul maut, Anah!” Hakim bersumpah atas nama Allah. Hal yang sangat berat pertanggungjawabannya di muka Allah nanti.
Tapi, Anah melihat kesungguhan dari sumpah suaminya itu. Dan itu sangat membuat nyeri di hatinya sedikit berkurang. Nyeri yang sukar disembuhkan. Nyeri yang mungkin entah kapan akan berakhir. Pada awalnya, seorang wanita mana pun, pasti akan merasa sakit hatinya, jika ternyata suaminya sudah mempunyai seorang istri ketika menikahinya. Untuk alasan apapun! Itu seperti mengkhianati janji pada saat akad nikah di depan penghulu! Juga di depan Allah! Bahkan dengan membaca dua kalimah syahadat!
"Anah,” Hakim bicara lagi, seolah mendapat kekuatan.
Anah menatap suaminya dengan hampa.
"Aku membawamu ke sini karena aku tidak tahan lagi untuk terus menyembunyikan kebohongan ini. Bahwa aku sudah mempunyai istri dan anak!”
“Ya, Allah, Kak, Anah tidak tahu lagi ...apa yang harus Anah lakukan,” Anah tersedu-sedan, pilu-lara bertumpuk bagai gunung, memberati jiwanya yang sedang rapuh.
"Kamu boleh berbuat sesuka hatimu, Anah,” Hakim duduk di sebelahnya. "Andai pun kamu minta cerai, aku akan mengabulkannya. Walaupun itu dianjurkan Allah, tapi Allah sangat membencinya. Itu terserah kamu."
"Cerai?” Anah merasa dunia seperti berputar sedemikian cepat.
"Bukankah aku tidak pernah menggaulimu, Anah?”
"Jadi, itukah alasannya, kenapa Kakak tidak pernah mau menggauli Anah?” Anah menangis lagi.
"Iya, Anah. Selain itu juga, Kakak tidak mencintai kamu. Kakak sudah menganggap kamu sebagai adik kandung sendiri,” dengan berat hati Hakim mengatakannya. Tampak ada rasa penyesalan setelah mengatakannya.
"Tapi, kenapa hal ini tidak Kakak katakan, sewaktu Pak Haji meminta kita untuk menikah!” protes Anah.
"Anah! Dengar! Hal itu tidak muhgkin Kakak lakukan karena Bapak sedang dalam keadaan sakaratul maut! Tidakkah kamu menyadari hal itu?” Hakim meminta pengertian Anah.
Anah hanya menangis. Hakim memang sudah berkata jujur sekarang, tapi itu mengakibatkan robek hatinya dan remuk redam jiwanya.
Episode 23
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Kueja alif ba ta
Meniti maksud wahyu-Mu
Kutata alif ba ta
Dalam indah taman hatiku
Kusiram alif ba ta
Dengan air cintaku
Hanya satu harapan
Kau tetap mencintaiku, Rabbi!
Janji Hakim akan membawa Anah naik perahu menyusuri kanal-kanal di Kota Bangkok dipenuhinya. Peristiwa menyenangkan ini bukanlah sekadar berdarmawista bagi Anah. Lebih dari sekadar itu. Perahu itu seolah sedang menyusuri lorong yang entah akan berujung di mana. Bagi Anah seperti sedang menuju pada sesuatu yang akan membuat hidupnya porak-poranda! Yang akan membawanya pada suatu kesedihan yang teramat panjang, yaitu Namlok Sarachipat!
"Hati-hati," kata Hakim memegangi Anah menaiki perahu.
Anah mengangguk dan dengan hati-hati naik ke perahu. Dia hampir saja terjatuh karena perahu bergoyang. Seumur-umur, dia belum pernah naik perahu. Untung Hakim berhasil menjaga tubuhnya. Bahkan Hakim memeluknya. Ada perasaan hangat yang menyedihkan hatinya, ketika suaminya memeluknya. Peristiwa ini sangat membekas dan meninggalkan kesan suka sekaligus duka. Betapa dirinya tidak pernah mengetahui, akan berakhir seperti apa bahtera rumah tangganya bersama Hakim setelah bertemu dengan Namlok! Ya, Allah! Berilah aku jalan terang untuk memecahkan persoalan maha berat ini!
Lalu Hakim membawa Anah ke deretan bangku di tengah. Hakim kini sedang membawa Anah pada Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah. Sebuah tujuan yang tentu akan membuat hati Anah nyeri! Tapi ini adalah kenyataan hidup yang harus dijalaninya! Yang harus dihadapinya!
Kursi-kursi di perahu terisi setengahnya. Anah mencoba menghilangkan kegundahan hatinya dengan melihat-lihat apa saja yang dilewatinya. Kanal ini membelah Kota Bangkok, yang diperkirakan dijejali delapan juta penduduk! Kanal ini membelah dan meliuk-liuk bagai ular naga di antara apartemen-apartemen. Masyarakat Bangkok memang sudah terbiasa dengan budaya apartemen. Juga beberapa kali Anah melihat suasana Thai Boxing! Banyak anak muda yang sedang berlatih olahraga tradisional Thailand ini, dengan memukuli sangsak atau bersparing partner. Thai boxing memang olahraga yang sangat digemari anak muda Thailand! Di dalamnya selain ada kekerasan yang mencerminkan kekuatan seorang laki-laki, juga nilai sportivitas olahraga!
Beberapa kali perahu bermotor yang ditumpangi Anah berhenti di halte kecil yang terbuat dari kayu. Beberapa penumpang ada yang naik dan ada yang turun. Kalau dari arah depan ada perahu motor berpapasan, biasanya air akan melonjak dan kadang bercipratan ke dalam perahu di depannya! Anah kadang memekik kaget, menghindari cipratan air yang kehitam-hitaman itu! Hakim hanya tersenyum kecil jika melihat Anah bertingkah seperti itu. Sekejap saja, mereka tampak gembira dan bisa melupakan persoalan berat rumah tangga! Tapi, setelah itu, mereka kembali terdiam. Mereka tampak tegang dan seolah-olah sudah melihat Namlok berdiri menyambut kedatangan mereka!
Anah juga tampak tegang. Dia berusaha mengalihkan perasaan hatinya dengan berkaca pada air sungai yang beriak-riak. Ada yang aneh dengan warna air di kanal-kanal ini. Warnanya agak kehitam-hitaman dan terkesan kotor walau tak ada sampah. Bahkan tak ada pendangkalan. Kanal-kanal ini sambung menyambung dan bermuara di sungai yang sangat besar, yang membelah Kota Bangkok, yaitu Sungai Phra Keo. Rupanya pihak pemerintah setempat berusaha memaksimalkan fungsi sungai yang sudah tak bisa digunakan untuk mandi, yaitu untuk sarana transportasi air! Berbeda dengan sungai Ciliwung di Jakarta, yang selain hitam, kotor, bau, dangkal, serta tak bisa dipakai untuk sarana transportasi air! Apalagi jika musim hujan tiba, Ciliwung malah jadi bencana!
"Kita turun di sini, Anah," Hakim berdiri ketika perahu motor bertambat di halte yang terbuat dari kayu.
Anah juga berdiri. Dia membaca papan nama; Petchaburi Road.
"Di kawasan ini banyak orang Indonesia tinggal di apartemen. Soalnya, kedutaan besar Indonesia berada di sekitar sini."
Anah hanya mengangguk saja.
"Namlok bekerja di KBRI Bangkok."
Anah mengangguk lagi.
"Kita jalan kaki saja, ya. Tidak jauh, kok."
"Iya, Kak," kali ini Anah bersuara.
"Siti Aisyah sudah berumur 3 tahun. Kata ibunya, dia sudah pandai mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa Indonesia," Hakim bercerita dengan semangat.
Anah merasa perih di hatinya terasa lagi.
"Kakak sudah tiga tahun tidak melihat Aisyah," Hakim sedang menggelora rasa rindu pada anak dan istrinya. Dia tidak memahami perasaan Anah yang sesungguhnya. "Aisyah pasti cantik seperti ibunya! Kamu juga pasti akan suka melihat Aisyah."
Anah masih diam saja. Sepertinya dia memprotes sikap suaminya, yang tidak mengerti kondisi hatinya saat ini.
"Maafkan Kakak, Anah," Hakim akhirnya memahami perasaan istrinya. Itu diperlihatkannya dengan mengunci mulutnya, tidak bercerita lagi tentang anak dan istrinya.
Anah terus mengikuti langkah suaminya dalam diam. Tapi, matanya melihat keadaan sekeliling. Dia merasa sedang memasuki lorong-lorong gelap kehidupannya. Bangunan apartemen yang saling berhimpitan seolah mengepungnya. Seolah hendak menggapitnya.
"Assalamu'alaikum," tiba-tiba Hakim berhenti dan memberi salam pada seorang lelaki berwajah Arab, yang berkopiah putih dan besorban.
Anah mendongak. Anah melihat sekelilingnya. Ada restoran Islam dengan label halal, ada mssjid kecil, dan beberapa wanita berjilbab memasuki masjid.
“Wa'alaikum salam," jawab lelaki berkopiah dan besorban itu.
Hakim mengeluarkan secarik kertas. Lelaki Arab itu membacanya dan meneliti Hakim serta Anah. Dia tersenyum. "Namlok Sarachipat?" tanyanya meminta kepastian.
"Yes, " Hakim mengangguk.
Lelaki Arab itu menunjuk ke sebuah apartemen berwarna biru.
"Thank you," Hakim tersenyum gembira. "Wassalamu'alaikum," Hakim mengangguk dan bergegas pergi.
"'Wa' alaikum salam, " lelaki Arab itu tersenyum.
Anah mengangguk dan balas tersenyum, walau pun sebetulnya hatinya berdebar-debar. Anah mengikuti langkah suaminya menuju apartemen di mana Namlok dan Aisyah tinggal. Apa yang harus aku lakukan ketika bertemu mereka nanti? Ya, Allah, berilah aku petunjuk-Mu!
Episode 24
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Di ujung malam ini
Luruh setiap tetes darah keangkuhan
Seperti telanjang di depan cermin
Gelisah mengurung segala arah
Di mana ruh-Mu, Tuhan?
Selimutilah aku!
Hakim sudah lebih dahulu sampai di apartemen. Saking gembirnya ingin bertemu Namlok dan Aisyah, dia sampai lupa pada Anah. Lalu dia menunggu Anah di lobi apartemen. Anah memang sengaja berjalan agak lambat.
Hakim dengan perasaan bersalah menunggu Anah. Ketika dilihatnya Anah sudah muncul di pintu lobi, Hakim menyongsongnya, tapi Anah seperti sengaja menghindarinya. Anah memilih duduk di sofa.
"Maafkan Kakak, Anah. Jalan Kakak terlalu cepat," Hakim menyesal.
Anah diam saja.
Hakim tampaknya sudah memaklumi sikap Anah. Seharusnya yang mesti dimaki adalah dirinya, yang sudah membuat Anah menderita.
“Tunggu di sini, ya. Kakak akan menemui resepsionis," kata Hakim.
Anah mengangguk.
"Kalau kamu mau minum, ke kafe saja," Hakim menunjuk ke sisi kiri lobi apartemen. Di sana ada kafe mungil.
Tapi, Anah menggeleng. "Cepatlah, Kak," Anah memohon dengan kesal. "Jangan berlama-lama. Kasihan Namlok dan Aisyah. Hampir empat tahun mereka menunggu Kakak," kata Anah dengan nada yang sukar dilukiskan.
Hakim kaget. Dia mengangguk dan bergegas menuju meja resepsionis. Memberitahukan maksud kedatangannya. Resepsionis wanita itu menatap Hakim dengan seribu tanya. Apalagi ketika membaca paspor hijau milik Hakim.
"Muhammad Al-Hakim?" dia membacanya dengan tidak percaya. "From Indonesia! You should be Namlok's husband!" serunya antara gembira dan terharu. Dia terus menatap Hakim, seolah tidak ingin kehilangan Hakim.
Hakim jadi salah tingkah dan mencoba mengatasi kegelisahannya.
"Wait a second!" resepsionis wanita itu bergegas menghubungi ruangan Namlok lewat pesawat komunikasi di mejanya. Tidak lama, dia tersenyum ke Hakim. “Please, you can go to Namlok's room. Fifth floor! Number seventeen, " katanya mempersilahkan Hakim untuk naik ke lantai 5, kamar nomor 17.
"Thank's!" Hakim tersenyum kikuk.
"'Wait.” serunya.
Hakim berhenti. “Anything else?" dada Hakim berdebar-debar.
"Saya ikut bergembira dengan kedatangan kamu. Namlok sahabat saya. Dia sering bercerita tentang suaminya, yang suatu saat akan dating menjemput dan membawanya pulang ke Indonesia," katanya dalam bahasa Inggris yang lancar sambil meneteskan air mata. "Sekarang, doanya dikabulkan oleh Tuhan yang dipercayainya. Hampir empat tahun Namlok dengan sabar menunggu kamu sambil berdoa."
Hakim mengangguk dan mencoba untuk tersenyum. Sejuta anak panah mengepung jiwanya! Mendakwanya sebagai tertuduh! Sebagai lelaki yang tidak punya tanggung jawab.
Lalu Hakim membalik dan berjalan ke Anah, yang tampak berbalut duka. Hakim merasa, bahwa resepsionis wanita itu terus mengikuti ke mana kakinya melangkah.
"Kok, lama sekali? Ada masalah?" Anah protes.
"Tidak ada apa-apa," Hakim meraih lengannya.
"Kita ke lantai lima. Kamar tujuh belas!" kata Hakim sambil berjalan menuju lift.
Anah mengangguk. Tanpa sadar, Anah melihat meja resepsionis. Anah memperhatikan resepsionis itu, yang ketika bertatapan dengannya langsung membuang muka. Resepsionis wanita itu kelihatan gelisah. Anah melihat dia sedang mengangkat gagang telepon. Entah menghubungi siapa. Anah berharap, lebih baik dia memberi kabar kedatangannya pada Namlok! Itu justru lebih baik, agar Namlok bisa bersiap-siap! Kalau Namlok punya penyakit jantung, siapa tahu kedatangannya yang tiba-tiba bisa membuatnya kena serangan jantung atau mati mendadak!
"Ayo, Anah," kata Hakim menariknya ke dalam lift.
Anah masuk. Hakim memencet angka lima. Lift bergerak. Anah merasa tubuhnya melayang entah ke mana. Ada perasaan aneh, cemas, takut, dan entah apa lagi menyerang jiwanya. Anah merasa tubuhnya oleng. Dia sempoyongan dan menyender ke dinding lift.
"Anah! Kamu tidak apa-apa?" Hakim merasa khawatir.
"Kepala saya pusing," Anah terisak. "Perut Anah juga mual," Anah menutup mukanya. Dia menangis.
"Kamu terlalu tegang, Anah," Hakim terpojokkan dengan kenyataan ini.
"Apakah Kakak menganggap peristiwa ini biasa-biasa saja?" Anah terisak.
"Tidak, Anah," Hakim menjelaskan. "Kakak juga sama tegangnya, tapi apa gunanya kalau Kakak sampai jatuh pingan? Kakak hanya bisa pasrah kepada Allah. Kakak hanya memohon perlindungan-Nya, supaya diberi kekuatan. Kakak ingin masalah ini selesai sesegera mungkin!"
Gujlek! Lift berhenti di lantai 5.
Pintu terbuka.
Beberapa orang sudah berdiri di pintu lift. Dalam sepersekian detik, mereka masuk sambil melirik ke Anah. Hakim buru-buru menarik Anah keluar dari lift. Pintu lift pun tertutup.
Hakim melihat ke sekeliling. Tidak ada orang di lantai 5. "Hapus air matamu, Anah," Hakim memberikan sapu tangannya.
Anah menolak sapu tangan pemberian suaminya. Dia merogoh tas kecilnya. Dia mengambil sapu tangannya sendiri. Lalu menghapus air matanya.
"Sekali lagi Kakak bilang, Anah," Hakim menegaskan. "Kakak ingin masalah kita ini selesai secepatnya.”
Anah mengangguk.
"Bantulah Kakak, Anah."
"Dengan apa, Kak?"
"Jelaskanlah pada Namlok apa yang sudah terjadi di antara kita."
Anah menatapnya dengan hampa. "Insya Allah, Kak," katanya lirih.
"Ayo!" Hakim bergegas menarik Anah menyusuri lorong lantai 5.
Anah tidak kuasa menolak. Dia juga ingin masalah ini selesai secepatnya. Tapi, bagaimana cara menyelesaikannya? Ya, Allah! Berilah cahaya penerang-Mu padaku yang hina ini!
Kini Anah berdiri di pintu bernomor 17. Hakim dengan wajah tegang memencet bel! Ada bom meledak di dada Anah! Anah tetap berdoa ketika terdengar bunyi pintu dibuka dari dalam!
Episode 25
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Hakim Terkena Serangan Jantung
Dalam awan hitam ada air hujan
Dalam hati luka wanita ada air mata
Perih yang terasa. cobaan tak terkira
Ya Allah, jadikan aku milik-Mu!
Pintu terbuka makin lebar. Seorang wanita cantik berjilbab muncul.
Anah serba salah harus bersikap bagaimana.
Sementara itu Hakim juga hanya diam membisu.
"Assalamu'alaikum," akhirnya Anah bersuara memecah kebuntuan.
"Wa'alaikum salam," Namlok menjawab dengan mata menyelidik.
Kembali hening.
"Who is she?" tanya Namlok bergetar pada Hakim.
Wajah Hakim pucat! Kedua lututnya gemetar.
"Who are you?" Namlok menatap Anah dengan tatapan tajam.
Anah menatap Hakim, meminta persetujuannya untuk menjawab.
"Hakim?" Namlok mendesak suaminya.
Tanpa diduga Hakim sempoyongan menahan rasa sakit di dada kirinya. Hakim yang selama ini tegar malah roboh. Dia ternyata tidak kuat menanggung beban persoalan yang menghimpitnya sejak lama. Pada saat ini adalah puncaknya! Klimaksnya!
"Astaghfirullah, Hakim! " teriak mereka berdua
"Mama!" tiba-tiba Siti Aisyah muncul.
"Aisyah! Your Papa!" Namlok memegangi tubuh Hakim yang terkulai.
Aisyah menangis memeluk tubuh ayahnya, yang selama 3 tahun lebih diimpikannya. Dirindukannya. Ketika bertemu, ada suasana yang mengharu biru. Allah ternyata mempertemukan mereka dalam keadaan yang penuh dengan duri!
"Please, help me!" Namlok menyeret tubuh Hakim ke dalam ruangannya.
Anah membantu memegangi kedua kakinya. Kedua wanita yang belum saling mengenal itu menggotong tubuh Hakim menuju sofa.
"Are you okay, Hakim?" Namlok sangat cemas.
"Yes, I'm allright ...," Hakim masih merasakan sakit, tapi tubuhnya kuat. Dia tidak sampai pingsan.
Kedua istrinya membaringkannya di sofa.
Siti Aisyah terus lengket memegangi tangan Hakim, seolah tidak ingin berpisah lagi. “Papa?" tanya Siti Aisyah cemas.
"Aisyah ...Papa hanya sakit di sini," Hakim menunjuk dada kirinya. Kemudian dia mengusap rambut putrinya dan tersenyum lirih. Air mata mulai membasahi pipinya. Dia tidak bisa menahan gejolak keharuan ketika melihat putrinya! Darah dagingnya! Oh, andai Bapak dan Emak masih hidup, mereka pasti bahagia melihat cucunya ini!
"Kamu cantik, Aisyah," puji Hakim.
"Like Mama!" Aisyah gembira.
"Sebaiknya aku panggil dokter," kata Namlok dalam bahasa Indonesia terpatah-patah.
"Tidak perlu, Namlok. Saya juga seorang dokter," kata Anah sambil meminumkan air putih hangat kepada Hakim.
"Kamu seorang dokter?" Namlok menatapnya tidak percaya.
"Yes!"
"Tapi, bagaimana kamu bisa tahu namaku?" Namlok menatap Anah dengan tajam, penuh selidik.
"Suami kita sudah bercerita tentang kamu," Anah melihat ke Hakim, yang memejamkan matanya.
"Astaghfirullah! Allahu Akbar!" Namlok tertegun. Kedua mata Namlok terpejam. Dia berjalan menuju kursi dan duduk. Lama dia tidak berkata-kata. Dia hanya memejamkan mata. Bibirnya kemudian bergerak-gerak, subhanallah, subhanallah, subhanallah…..
Anah juga duduk di kursi.
Hening.
Tegang.
Iblis mulai mengembuskan bisikan-bisikan tak sedap ke dalam relung hati Namlok dan Anah, tapi malaikat melindungi mereka berdua dengan meniupkan angin surga. Hati yang panas menjadi sejuk.
Hakim mencoba bangkit dan duduk.
Suasana kamar yang sangat hening, pecah oleh suara Siti Aisyah. "Papa sudah bisa duduk?" tanyanya.
Hakim mengangguk. Dia berusaha untuk duduk.
Siti Aisyah dengan gembira membantu ayahnya untuk bisa duduk. "Ayo, Papa! " Aisyah memberi semangat.
Namlok dan Anah menyaksikan adegan itu dengan hati pilu. Keakraban Aisyah dan ayahnya memukul hati mereka!
"Namlok, please forgive me," suara Hakim lirih.
"Sebaiknya bicara dalam bahasa Indonesia saja, supaya Aisyah tidak memahaminya," Namlok menyarankan.
“Aisyah bisa bahasa Indonesia," Aisyah merajuk manja di bahu ayahnya.
Namlok dan Anah tersenyum getir.
"Jangan! Aisyah jangan mendengar dulu. Ini tidak baik buat anak seumur dia! Suruh dia main di kamar! Atau, kamu ada pembantu?" Anah mengemukakan pendapatnya.
"Pembantu sedang belanja," Namlok meraih Aisyah. "Honey, please, masuk ke kamar dulu, ya! Mama sama Papa, juga Tante ...," Namlok belum mengetahui namanya.
"Siti Nurkhasanah! " Anah memberitahukan namanya.
"Nama Tante seperti namaku! Memakai Siti!" katanya gembira.
"Aisyah, ada yang ingin dibicarakan. Aisyah main di kamarmu, ya!" Namlok menggiringnya ke kamar.
"Tapi, Aisyah tidak ada teman! Aisyah ingin sama Papa!" Aisyah merengek.
"Nanti saja," Namlok membuka pintu kamar Aisyah lalu menguncinya dari luar.
"Mama! Please, open the door!" Aisyah mengetuki pintu kamamya. Suaranya terdengar memilukan bagi Namlok dan Anah.
Namlok sudah duduk lagi di depan Anah dan Hakim.
"Namlok ...," Hakim menatap Anah, seolah meminta dukungan moril. "She is ...”
"Aku istri suamimu, Namlok."
"What?!” petir menyambar hatinya.
"Aku tidak tahu kalau Hakim sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang lucu," Anah dengan kekuatan yang maha dahsyat menceritakan persoalan mereka.
"Astaghfirullah ...," Namlok mengusap wajahnya. "Betulkah itu, Hakim?"
"Maafkan aku, Namlok," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Kenapa kamu tega mengkhianati aku?" Namlok menangis.
Hakim gugup. "Anah, please, ceritakan hal yang sesungguhnya terjadi pada kita," Hakim memohon dengan sangat.
Namlok menatap Anah, "Ada apa ini?"
"Ini memang berat, Namlok. Tapi percayalah, Hakim tidak sepenuhnya bersalah," Anah mencoba menjelaskan duduk persoalannya.
"How?" Namlok protes. “Dia menikahi kamu! Apakah alasan itu tidak cukup untuk menjadikannya bersalah dalam masalah ini?"
"Aku memang bersalah, Namlok. Tapi, aku mencintai kamu dan Aisyah," Hakim merasakan dada kirinya nyeri lagi.
"Kalau kamu mencintai aku dan Aisyah, kenapa kamu menikahi Anah? Kenapa kamu mengkhianati janji kita? Apakah dengan semudah itu, kamu mempunyai istri kedua? Bahkan mungkin saja nanti akan punya istri ketiga dan keempat?" Namlok terisak-isak.
Episode 26
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Matahari dan bulan sumber kehidupan
Kita mengambil hikmah pada mereka
Laut dan bumi sumber segala nafkah
Kita kadang melukai hati mereka
Ya Rabbi, ampuni hamba-Mu!
Anah mendekati Namlok. Memeluknya. Untuk beberapa saat, dia membiarkan tubuhnya menjadi tumpahan rasa sedih dan kecewa bagi Namlok. Awalnya Namlok merasa nyaman. Tapi kemudian, Namlok mendorong dengan halus tubuh Anah. Dia merasa malu dan menyeka air matanya. Juga merapikan tepian jilbab di keningnya.
"Kamu ada perlu apa ke sini, Hakim? Aku dan Aisyah menunggu hampir empat tahun. Tapi, begitu kamu datang, ternyata rasa pedih yang aku terima dari kamu," kalimat Namlok menghujam kalbu Hakim.
"Itu tidak sepenuhnya benar, Namlok," bibir Hakim begetar. "Aku tetap akan membawa kamu dan Aisyah ke Indonesia. Mulai sekarang, kita akan selalu bersama-sama," Hakim memperjelas maksudnya.
"Tapi, tidak dengan istri keduamu, Hakim. Rencananya kini harus berubah," Namlok menatap Anah. "Maafkan aku, Anah," begitu tulus permintaan maafnya pada Anah. "Aku tidak bermaksud menjadikan kamu sebagai sumber masalah."
"Aku mengerti, Namlok," Anah tersenyum. Dia merasa harus menjelaskan semuanya, ketika dilihatnya Hakim makin tersudut dan seperti sedang dihantam batu besar! Dia merasa kasihan melihat suaminya yang malang seperti itu! "Tapi, maukah kamu mendengar ceritaku?" pinta Anah pada Namlok dengan penuh harap.
"For what?" Namlok mengangkat kedua bahunya. Dia menatap benci pada suaminya. "For me? Yang sudah dengan setia menunggu kedatangannya selama hampir empat tahun? Begitu maksudmu, Anah?" sindirnya agak sinis.
"Untuk Siti Aisyah, yang paling utama. Selebihnya, untuk kebaikan kita!" Anah sangat serius. Tampaknya dia sudah mengambil posisi sebagai penengah dalam kasus berat ini.
Hakim kelihatannya mendapatkan angin surga. Dia bisa duduk dengan tegap. Dia sangat menantikan babak selanjutnya dengan hati pasrah. Aku harus menghadapi semuanya dengan sikap tabah! Aku percaya, bahwa ini semua atas kehendak Allah! Jadi, pada Allah jugalah aku memohon perlindungan! Begitu Hakim menambatkan hatinya pada Allah!
"Bagaimana, Namlok? Aku meminta keikhlasan kamu," pinta Anah sekali lagi.
Namlok menarik napas dengan dalam. Ya Allah, tunjukkanlah jalan-Mu padaku! Namlok memejamkan matanya dan memanjatkan doa, memohon rahmat pada Allah. Kemudian tidak lama, dia membuka matanya. "Silahkah, Anah. Kamu adalah tamuku. Setiap tamuku, tentu harus aku hormati maksud kedatangannya," Namlok akhirnya bisa berlapang dada.
"Alhamdulillah, semoga kita semua mendapat rahmat dan hidayah dari Allah," Anah tersenyum. "Kita semua sedang mendapat cobaan dari Allah. Hati kita sedang panas. Terutama aku dan kamu, Namlok," kata Anah pada Namlok. "Maka dari itu, sebaiknya kita semua membaca Fatihah dulu. Supaya hati kita tenang," Anah memejamkam matanya.
Tanpa banyak bicara, Namlok dan Hakim pun memejamkan matanya. Mereka semua khusyuk membaca Surat Al-Fatihah. Mereka mencoba mendatangi Allah lewat hati. Lewat kepasrahan. Beberapa saat apartemen Namlok dicekam keheningan. Hening yang syahdu. Hening yang penuh dengan doa.
Setelah merasa tenang, Anah mulai bercerita pada Namlok, bagaimana peristiwa pernikahannya bersama Hakim terjadi. Bagaimana dirinya dan Hakim tidak kuasa menolak wasiat atau amanah dari Pak Haji Budiman agar mereka menikah sebelum beliau wafat. Tidak ada pilihan lain bagi dirinya! Terlebih-lebih Hakim, yang tidak ingin melihat ayahnya menderita ketika sakaratul maut menjemput! Pada dasarnya, mereka tidak ingin melihat Pak Haji wafat dalam keadaan kecewa!
"Aku juga tidak mencintai Hakim, Namlok. Aku sebetulnya mencintai Bashir," tidak terasa air mata Anah jatuh satu-satu. "Tapi, aku hanya seorang wanita. Dan lagi, aku ingin membalas seluruh kebaikan almarhum Pak Haji, yang sudah mengasuh dan merawatku hingga seperti sekarang ini."
Namlok tertegun di tempatnya. Lalu dia mencari pembenaran lain pada diri Hakim.
"Dan perlu kamu tahu, istriku," Hakim makin berani untuk melepaskan himpitan batu di hatinya, "bahwa sampai sekarang, aku belum pernah menyentuh Anah, sebagaimana layaknya seorang suami."
Kali ini Namlok menatapAnah dengan penuh haru dan simpati. "Betulkah apa yang diucapkan Hakim, Anah?" tanyanya tulus dan pasrah.
Anah mengangguk.
Namlok merasa kedua matanya hangat.
"Aku memang salah. Aku lelaki pengecut. Tidak berani mengatakan yang sesungguhnya pada almarhum Bapak. Bahkan sampai maut menjemput Bapak," Hakim menyesali perbuatannya. "Aku dalam keadaan gelap gulita. Aku tidak tahu, apa yang terbaik yang harus aku lakukan. Semuanya sangat beruntun. Terutama, meninggalnya Bapak, itu sangat megguncang hatiku. Ibarat layangan putus, aku melayang ke sana kemari," Hakim merasa dadanya yang sesak kini mulai lapang. Air mata yang mengucur dari matanya makin meringankan penderitaannya.
Namlok dan Anah ikut menangis. Dia melihat, betapa rapuhnya jiwa suami mereka saat ini. Betapa menderita jiwanya. Dan betapa tidak adil mereka, jika tidak mengasihani Hakim!
Hakim berbicara lagi dengan penuh kepasrahan. "Itulah sebabnya, kenapa aku bersikeras membawa Anah ke sini untuk bertemu kamu, Namlok. Itu tadi, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya ingin menyerahkan masalah ini pada kalian berdua. Aku memohon pada kalian untuk membantu menyelesaikan masalah ini. Apa pun keputusan kalian, aku tidak akan menolaknya."
Anah memanjatkan doa, mencoba meminta petunjuk dari Allah. Sedangkan Namlok menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya. Ya, Rabbi, jadikanlah aku milik-Mu! Sehingga masalah ini bisa selesai tanpa menyakiti hati seorang pun!
"Yang terpenting, aku tidak ingin kehilangan kamu, Namlok. Juga Aisyah," Hakim memohon sambil menatap pada Anah. Lalu katanya, "Kamu, Anah. Keputusan ada pada kamu. Aku sudah berbuat sebaik mungkin untuk menjaga kehormatanmu. Kalau pun kamu minta cerai, aku siap mengabulkannya. Dan aku akan datang pada Bashir untuk menjelaskan semuanya. Insya Allah, Bashir akan percaya."
"Hakim, tidak semudah itu ...," Anah mengingatkan. "Ini sudah menyangkut nama baik keluarga almarhum Pak Haji. Keluarga besar ayah kamu.”
"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin masalah ini selesai. Bagaimana, Namlok?"
Namlok menatap Hakim dengan air mata berlinang.
Episode 27
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Setiap fajar membawa perjuangan
Bersama embun dan kokok ayam
Bersama doa dan harapan
Pertanda keringat membawa ke tujuan
Janganlah kita mengotori nikmat-Nya!
Hakim mendekati Namlok. Dia menyeka air mata Namlok dengan ujung jari-jarinya. "Maafkan aku, Namlok," Hakim berlutut di kaki Namlok.
Namlok buru-buru berdiri sambil mengangkat tubuh suaminya. "Hakim, jangan merendahkan dirimu di depan Anah. Tidak, tidak harus begitu. Aku memaafkan kamu. Aku hanya sedang berpikir, kenapa kita semua harus mengalami hal pahit seperti ini."
Hakim memeluk Namlok. "Terima kasih, Namlok. Ketakutanku akan kehilangan kamu dan Aisyah, alhamdulillah ..., tidak terjadi. Aku tetap jadi milik kalian. Begitu juga kalian, tetap jadi milikku," Hakim menangis lagi.
"Kita semua milik Allah, Hakim," Namlok juga balas memeluk.
"Alhamdulillah ...aku bahagia sekali, Namlok. Ini adalah karunia dari Allah, yang tidak pernah bisa aku bayangkan sebelumnya," Hakim melepaskan pelukannya.
"Jangan lupakan Anah, Hakim," Namlok mengingatkan sambil menatap ke Anah dengan perasaan sedih campur simpati.
Hakim menatap ke Anah. "Padamu juga, Anah ...," katanya mendekati. "Tak terbayarkan sudah segala ketulusan hati kamu untuk menerima kenyataan pahit ini," kata Hakim. Dia ragu-ragu ketika hendak memeluk Anah.
"Persoalan ini, Insya Allah, bukanlah sesuatu yang pahit kita rasakan, Kak," Anah mencoba menghibur dinnya, walaupun hatinya merasa perih.
Hakim semakm dekat pada tubuh Anah. Kedua tangannya bergerak-gerak. Dia mencoba membaca bola mata Anah yang biru. Dia berharap bisa menemukan jawaban di sana, apakah diperbolehkan atau tidak untuk memeluknya!
"Peluk aku, Kak ...," Anah seolah mengerti keinginan suaminya. "Aku ini istrimu. Aku juga ingin merasakan kebahagiaan yang Kakak rasakan hari ini," tambah Anah menangis.
"Peluklah dia, Hakim. Dia istrimu, sebagaimana juga aku istrimu," kata Namlok.
Hakim pun dengan lega memeluk Anah. "Aku minta maaf padamu, Anah! " seru Hakim.
"Aku sudah memaafkan Kakak!" Anah memeluk Hakim dengan perasaan lega. Segala duri yang menusuk hatinya berhamburan dan lenyap seketika.
"Besok kita pulang!" kata Hakim lega. "Aku ingin semua yang ada di Cilegon mengetahui hal ini!"
"Kita semua?" Namlok tampaknya belum siap.
"Iya! Kita semua! Kamu, Siti Aisyah, dan Anah!" tegas Hakim.
"Bagaimana, Anah? Kamu belum memberikan keputusan!?" Namlok menegur Anah.
"Keputusan apa?" Hakim gelisah.
"Dari tadi, aku lihat Anah hanya berperan sebagai penengah. Dia seolah-olah tidak terlibat di dalam masalah kita ini. Padahal jelas Anah adalah istri kedua kamu, Hakim!"
Hakim tampak lesu. Dia mengempaskan tubuhnya di sofa. "Berarti, masalah kita belum selesai!" Hakim mengeluh. Ya, Allah! Tunjukkanlah kebesaran-Mu! Tolonglah hamba-Mu ini! Hakim menengadah ke atas!
"Yang harus kamu ingat, Hakim! Aku bisa menerima kedatangan kamu bersama Anah ke sini! Dengan lapang dada! Bahkan aku sudah mengikhlaskan Anah sebagai istri kedua karena alasannya sangat masuk akal. Tapi, lain masalahnya jika kamu menikahi Anah karena terdorong oleh hawa nafsu! Bukan begitu, Anah?"
"Iya," Anah mengangguk.
"Anah," Hakim menatapnya dengan memelas. "Tolong aku. Selesaikan masalah ini secepatnya. Kepalaku seperti hendak meledak. Dada kiriku juga, kini terasa sakit lagi," katanya pasrah.
"Maksud kalian, apakah aku menerima sebagai istri kedua? Begitu?" Anah balik bertanya.
Hakim mengangguk.
Namlok juga mengangguk.
"Sebagai istri kedua, itu adalah hal yang tidak bisa aku pungkiri," kata Anah pasrah dan ikhlas.
"Anah ...," Hakim merasa bersalah.
"Apakah Anah punya pilihan lain, Kak? " Anah melemparkan persoalan. "Tentu tidak," jawabnya sendiri. "Apakah aku akan minta cerai? Juga tidak bisa secepat itu aku putuskan. Aku harus menimbang dan memikirkannya matang-matang. Yang ada di benakku sekarang, aku hanya ingin menyendiri. Ingin merenungi segala kejadian ini."
"Kamu ingin pulang?" tanya Hakim.
"Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Maafkan aku, Namlok. Saranku juga pada kamu, sebaiknya kesempatan hari ini kamu pergunakan untuk berkemas-kemas. Ikutlah dengan kami ke Indonesia besok. Lebih cepat, aku rasa lebih baik."
Namlok gelisah menatap Hakim.
"Sekarang, izinkan aku kembali ke Youth Hostel. Aku lelah. Aku ingin tidur barang sejenak," Anah bergegas merapikan dirinya. Membetulkan letak jilbabnya. Dia seperti tidak meminta jawaban dari mereka karena kini sudah berada di depan pintu apartemen dan membukanya. "Assalamu'alaikum," katanya pamitan.
"Wa'alaikum salam!" Hakim dan Namlok kaget. Mereka tidak sempat mencegah kepergian Anah karena pintu apartemen sudah tertutup! Mereka bahkan buru-buru membuka pintu kamar Aisyah karena putri mereka itu menangis minta dibikinkan susu.
Sementara itu Anah kembali ke Youth Hostel dengan kendaraan Tuk Tuk! Hatinya ada di tepi antara kegembiraan dan kesedihan!
Episode 28
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Bashir Dan Diana Saling Jatuh Cinta
Kueja alif ba ta
Meniti maksud wahyu-Mu
Kutata alif ba ta
Dalam indah taman hatiku
Kusiram alif ba ta
Dengan air cintaku
Hanya satu harapan
Kau tetap mencintaiku, Rabbi!
Bashir menatap telepon yang teronggok seperti sebuah benda aneh. Ayo, berderinglah! Dia memang berharap Anah akan meneleponnya lagi. Anah sekarang pasti sedang berada di Bangkok! Hakimlah yang membawanya ke sana untuk dipertemukan dengan Namlok Sarachipat! Tapi, siapakah Namlok? Untuk apa kakaknya membawa Anah ke sana? Begitu perasaannya bertanya-tanya dengan kesal dan marah!
Ya, Allah! Bashir mengelus dadanya! Kadang dia suka tidak percaya jika mengingat, bahwa Hakim sudah membohongi dirinya, Anah, dan almarhum ayah mereka! Apa yang disembunyikan Hakim darinya? Kenapa dia harus menyembunyikannya? Rahasia besar apa, yang sedang dipegangnya sampai dia tidak tahu menahu soal Namlok Sarachipat?
Siapa Namlok? Bashir sudah berusaha mengobrak-abrik seluruh isi ruangan Hakim! Siapa tahu dari sana Bashir bisa mendapatkan jawaban tentang Namlok. Tapi untuk sementara masih nihil. Kini Bashir beralih mengobrak-abrik meja kerja Hakim! Bahkan laci serta almarinya! Tapi tetap tidak ada satu petunjuk pun yang mengarah ke alamat Namlok! Rumah atau nomor teleponnya! Tetap nihil! Nihil!
Bashir duduk termangu. Dipandanginya lagi telepon itu. Ayolah, Anah! Berilah aku jawaban tentang Namlok!
Bashir betul-betul gelisah!
Kriiing!
Bashir terlonjak dari duduknya. Dia langsung menyambar! "Halo, Anah!" katanya terpekik, antara cemas dan gembira karena penantiannya selama ini tidak sia-sia!
"Halo lagi!" terdengar suara genit di seberang. "Tapi, saya bukan Anah, lho!" tambah suara genit itu tertawa.
Bashir tampak malu dan kesal. Suaranya mirip Anah!
"Is that you, Bashir?" tanya suara empuk itu lagi.
"Ya!" jawabnya sambil mengingat-ingat pemilik suara di seberang.
"Hai, Bashir?"
"Siapa, ya?"
"Lupa, ya?”
"Diana?"
"Apa kabar?"
“Kabar baik….”
"Saya kangen sama kamu, Bashir."
"Kangen?"
"Yap!"
"Apakah itu kamu ucapkan pada semua laki-laki, Diana?"
"Oh, jangan sinis begitu, dong!" Diana tertawa santai.
“Maaf, Diana. Waktunya sedang tidak tepat."
"Ya, ya, saya tahu. Kamu pasti sedang menunggu telepon dari Anah," sindirnya kecewa. "Apa dia masih honey moon di Malaysia?"
“Ya.”
"Aduh, kasihan kamu ...!"
Bashir tidak menjawab.
"Come on, Bashir! Anah sudah jadi istri kakakmu. Itu tidak bisa kamu pungkiri! Apalagi sekarang mereka sedang berbulan madu di Malaysia! Lupakan dia, Bashir!" katanya bersemangat.
"Apakah ada hal lain?"
"Kapan kita bisa ketemu, Bashir?"
Ah, Diana! Kamu sebetulnya sisi lain dari Anah! Tapi, tidak bisakah kamu mengerti perasaanku? Bahwa aku mencintai anah? Ah! Tahu apa kamu, Diana!
"Halo? Anybody home?" teriak Diana di sana.
"Ya!”
"Kamu belum menjawab pertanyaanku!"
"Pertanyaan yang mana?”
"Kapan kita ketemu?”
"Untuk apa?”
"Kamu kan reporter. Siapa tahu ada sesuatu yang bisa kamu tulis tentang aku! Gimana?"
"Gimana, apanya?"
"Bisa nggak ketemu?”
"Terserah kamu, Diana!”
"Minggu depan Papa Hari sama mamaku menikah di Masjid Sunda Kelapa. Bisa datang?”
"Bisa!”
"Datangnya sama aku, ya! Biar nanti kita ketularan!” tawanya terdengar lagi.
"Iya, iya!” Bashir mulai terhibur. Dia juga tertawa. Sejenak dia bisa melupakan kepenatannya memikirkan Anah.
"Ah, itu kelamaan! Mungkin sekarang aku berangkat ke sana!”
"Kamu mau ke sini?” Bashir tidak percaya.
"Iya!”
"Sekarang?"
"Iya!”
"Bagaimana bisa?"
"Pokoknya aku ke sana!"
"Diana!”
"Daaah! Tungguin, ya! Awas, jangan ke mana-mana!”
Klik!
Bashir masih memegangi gagang telepon dengan kedua lengannya. Dia sangat bingung. Apa yang tadi dilakukannya? Apakah aku sudah memberinya banyak harapan? Atau apakah aku yang sedang jatuh cinta pada Diana? Cinta kilatkah? Ah, cinta lokasi! Astaghfirullah! Aku jatuh cinta pada Diana? Apa tidak salah?! Jangan-jangan ini hanya semacam pelarianku saja karena Diana dan Anah bagai pinang di belah dua! Sangat mirip! Ya, mereka sangat mirip. Tapi, jelas Anah masih lebih baik dibanding Diana dari segi moral. Hanya saja perbedaannya, Anah sudah sah milik kakaknya, sedangkan Diana masih bebas lepas bagai burung.
Naluri petualangannya sebagai lelaki bergelora!
Dan Diana memanggil-manggilnya!
Ya Rabbi, tunjukanlah jalan-Mu!
Episode 29
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Bulan dan matahari adalah rahasia alam
Kau menggenggamku dengan nasib
Bumi dan langit adalah jarakku dengan-Mu
Kau hamparkan sajadah panjang padaku
Akankah rahmat-Mu datang padaku?
Bashir memijit nomor extension Pak Hasan. "Assalamu'alaium! Pak Hasan!" katanya.
"Wa'alaikum salam, Nak Bashir."
"Bisa ke ruangan saya, Pak! Oh, maaf! Ke ruangan Hakim, Pak!"
"Ruangan Hakim? Sedang apa kamu?"
"Sebaiknya kita bicara di sini saja, Pak! Saya tunggu, ya! Wassalamu'alaikum!" Bashir meletakkan gagang telepon.
Lalu Bashir bangkit dan berjalan menuju jendela kantor. Dipandanginya lagi Cilegon yang kini sangat bergolak! Sangat menggeliat! Menurut hematnya, perubahan-perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Cilegon, yang kini jadi kota admisistratif sangatlah dahsyat! Bahkan dengan Serang I pun, Cilegon jauh telah berubah! Terutama setelah pusat pertokoan di sepanjang pasar Cilegon, mulai dari Simpang sampai ke Cibeber, bermunculan bagai jamur di musim hujan! Tampak sekali dampak sosial yang cenderung negatif kelihatan di depan mata! Pola hidup konsumtif sampai seks sebelum nikah yang kadang dikomersilkan merajalela! Jangan heran kalau banyak ABG yang menjajakan diri di pusat perbelanjaan atau di sepanjang jalan menuju pantai! Mereka siap dibawa oleh om-om hidung belang atau lelakt iseng demi kenikmatan duniawi semata!
Kampung Cilegon yang dulu agamis memang mulai longgar kehidupan beragamanya. Almarhum ayahnya semasa hidupnya sering mengeluhkan hal ini! Mendiang ayahnya saat itu sering masuk ke luar kampung untuk berdakwah, mengajak anak-anak muda untuk selalu berada di jalan Allah! Sayang, usia ayahnya sangat singkat!
Terdengar pintu di ketuk dari luar.
Lamunan Bashir buyar!
"Assalamu'alaikum ...," Pak Hasan muncul di pintu.
"Wa'alaikum salam," Bahir menjawab. "Silahkan masuk, Pak Hasan ...," katanya sambil mempersilahkan duduk.
"Ada apa, Nak Bashir?" tanya Pak Hasan.
"Tentang Anah dan Hakim, Pak Hasan," keluh Bashir.
"Ada apa lagi dengan mereka? Bukankah mereka sedang berbulan madu di Malaysia?" Pak Hasan tampak terganggu.
"Mereka sekarang berada di Bangkok, Pak!" Bashir meralat.
“Di Bangkok? Astaghfirullah! Kenapa mesti di Bangkok?"
"Bapak mestinya lebih tahu daripada saya!"
"Apa maksud kamu?"
"Kenapa Hakim membawa Anah ke Bangkok?"
"Yang Bapak tahu, kakakmu tidak membawa dana cukup untuk bulan madu di Bangkok!"
"Kecuali kalau Hakim tega membawa Anah menginap di hotel-hotel kelas kambing!" Bashir tampak sangat marah.
"Ada apa mereka di Bangkok?"
"Bapak betul-betul nggak tahu?"
"Astaghfirullah! Apa wajah Bapak ini kelihatan bohong sama kamu?"
"Hakim membawa Anah ke sana untuk dipertemukan dengan Namlok, Pak!”
"Masya Allah!"
"Pak Hasan pasti tahu soal Namlok Sarachipat! Hakim selalu mengiriminya uang untuk syiar Islam di Thailandl Bapak pasti tahu soal itu!"
"Subhanallah!"
"Pertanyaannya, siapa Namlok?"
"Maafkan Bapak, Nak Bashir…"
"Kenapa Pak Hasan menyembunyikan sesuatu pada saya?"
"Ya, Allah! Ampuni hambamu ini," Pak Hasan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Bapak memang salah."
"Pak Hasan! Jangan berbelit-belit! Siapa Namlok?"
"Bapak yakin, nanti kamu akan tahu sendiri. Dulu, kakakmu pernah bilang, bahwa dia akan membawa Namlok ke sini. Bertemu dengan Nak Bashir, bertemu dengan almarhum Pak Haji….”
"Tapi, tidak untuk Anah!” Bashir mengempaskan tubuhnya di sofa.
"Anah di luar kehendaknya!”
"Kenapa harus menunggu lama? Kenapa harus menunggu Bapak wafat?”
"Allah belum mengizinkan, Nak Bashir. Insya Allah, jika semuanya lancar, pasti semuanya akan dipertemukan…..”
"Astaghfirnllah,” Bashir duduk termenung. “Apa yang sedang terjadi di antara kita, Pak?”
"Boleh Bapak kembali ke ruangan, Nak Bashir?” Pak Hasan sangat memohon. "Kebetulan kakakmu menugasi Bapak untuk menyusun laporan keuangan persemester.”
"Bapak betul-betul nggak mau cerita soal Namlok?”
Pak Hasan menggeleng. "Itu di luar kemampuan Bapak,” katanya pelan.
"Silahkan Pak Hasan kembali ke ruangan,” Bashir mengangguk.
Pak Hasan tampak senang. Dia seperti terbebas dari himpitan sebuah gunung! Tapi, ketika dia baru sampai di pintu, Bashir memanggilnya. Dia berhenti dan menengok. "Apa lagi, Nak Bashir?” tanyanya was-was.
"Maafkan kalau tadi ada kata-kata saya yang menyinggung perasaan Bapak. Maklumlah, anak muda, Pak. Suka emosional," Bashir dengan tulus memmta maaf.
Pak Hasan mengangguk. Lalu dia membalik dan pergi sambil menutup pintu dengan halus. Tidak terdengar suara bantingan, yang biasanya itu sebagai cerminan perasaan orang yang sedang kesal.
Tapi, Pak Hasan adalah orang kepercayaan almarhum Pak Haji Budiman, yang sangat santun dan bersahaja!
Tiba-tiba, kriiing!
Bashir terlonjak lagi. Dia buru-buru menuju meja telepon. Saking buru-burunya, kakinya tersandung kaki kursi. Dia terpelanting dan tersungkur. Kepalanya membentur meja!
Kriiing!
Bashir merangkak dan meraih gagang telepon. Sambil rebahan dan memijiti kepalanya yang pening, Bashir berbicara di telepon. "Assalamu'alaikum," kata Bashir menanti jawaban dengan was-was.
"Wa'alaikum salam."
"Anah?!" Bashir sangat gembira.
"Bashir!" terdengar suara perempuan menangis.
"Kamu, Anah?"
"Iya, aku!”
"Alhamdulillah, akhimya kamu nelepon juga!"
“Bashir…..,” Anah terisak-isak.
"Anah," Bashir bingung harus mengatakan apa.
Hening untuk beberapa saat.
Anah gelisah.
Bashir lebih-lebih.
Episode 30
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
ihatlah hewan pemakan rumput
Dia selalu berbagi pada semua
Diberikannya susu pada anaknya
Daging pada manusia
Sedangkan kita saling berebut posisi
Bahkan membunuh demi gengsi
Ya Rabbi, begitukah kau ciptakan aku?
“Anah? Kamu masih di situ?" Bashir mengusik keheningan.
"Ya, Bashir… aku disini….”
"Anah! Di mana kamu?" Bashir langsung duduk di lantai. Dadanya berdebum-debum, seperti ada derap kaki tentara!
"Aku di Bangkok, Bashir…."
"Kamu tidak apa-apa kan?"
"Aku…”
"Hakim? Mana lelaki pengecut itu? Aku ingin bicara sama dia!" Bashir sangat emosional.
"Astaghfirullah. Bashir ..., jangan memperkeruh suasana…..”
"Memperkeruh apa?"
"Sudahlah…."
"Hakim, mana?"
"Mereka sedang berkumpul di apartemen."
"Mereka, siapa?”
"Hakim, Namlok, dan Siti Aisyah."
"Siti Aisyah?"
"Dia keponakan kamu. Umurnya sudah tiga tahun. Anaknya pintar, cerdas, dan cantik seperti ibunya. Kamu pasti akan suka dehgan dia…."
"Jadi, Hakim sudah menikah?"
“Iya!”
"Astaghfirullah….." Bashir tidak percaya. "Jadi, Hakim sudah beristri dan mempunyai seorang anak?" tanyanya masih mengulang pertanyaan.
“Iya, Bashir…..”
"Astaghfirullah, Hakim ...," Bashir merasa air mata menggenangi kelopaknya. "Ya, Allah, maafkan dosa-dosa kakakku ini ...," Bashir betul-betul menangis. "Dan kuatkanlah hati kamu, Anah…."
"Insya Allah…."
"Anah! Kamu, di mana?"
"Aku di Youth Hostel."
"Apa? Hakim membawa kamu tidur di Youth Hostel?!"
"Memangnya kenapa?"
"Brengsek! Apa Hakim nggak bisa nyariin hotel berbintang buat kamu?"
"Istighhfar, Bashir."
"Bulan madu di Youth Hostel! Ini gila!" Bashir gemas sekali.
Kami tidak sedang honey moon, Bashir! Tapi itu hanya diucapkan Anah di dalam hatinya saja. Dia tidak berani untuk membongkar aibnya sendiri. Aib suami, berarti aibnya juga. Biarlah ini hanya jadi rahasia mereka dan Allah saja.
"Anah?”
"Kalau saja Bapak masih hidup, Bashir ...," gumam Anah.
"Kenapa kalau Bapak masih hidup, Anah?"
"Tentu aku tidak akan menikah dengan kakakmu," Anah berandai-andai.
Bashir tersadar. Ya, ya, ya! Kalau Bapak masih hidup, Anah tidak akan mungkin menikah dengan Hakim, mungkin denganku! Ya, denganku! Hanya saja Bashir tidak berani mengatakan perasaannya pada Anah.
"Bashir? Kamu masih di situ?"
"Ya.”
“Aku mau pulang…”
"Kapan? Bersama mereka?"
"Entahlah. Aku belum bisa berpikir."
"Apakah Hakim tahu kamu menelepon ke sini?"
"Nggak."
"Anah ...aku malu sama kamu."
"Malulah kepada Allah…"
"Aku malu punya kakak pembohong seperti Hakim."
"Kamu harus merasa kasihan sama Hakim."
"Kasihan apa!”
"Hakim sebetulnya lelaki yang baik. Suami yang bertanggung jawab. Ayah yang patut dicontoh."
"Masya Allah! Kamu masih juga memuji kakakku, setelah apa yang dia lakukan sama kamu?!"
"Kakakmu sedang berada di bibir jurang!”
"Biarkan dia kecebur sekalian!"
"Jangan punya pikiran buruk seperti itu. Justru aku harus membantu memecahkan masalah kakakmu…..”
"Untuk apa?”
"Semestinya memang harus begitu. Allah menyuruh kita untuk saling tolong menolong.”
"Tapi, selama ini Hakim menyembunyikannya dari aku!”
"Mungkin kamu bukanlah orang yang tepat untuk diajak bicara dengan hati yang dingin.”
"Ya, ya! Aku memang terlalu emosional menurut dia!”
"Tadinya, kakakmu mengandalkan Pak Hasan, tapi, ketika Pak Haji wafat dan meninggalkan wasiat agar kakakmu menikahi aku, semuanya jadi berantakan.”
"Berantakan, bagaimana?”
"Ketika menikahiku ..., kakakmu tidak mencintai aku, Bashir,” Anah menangis lagi.
"Sebaiknya kita bicarakan di sini saja, Anah.”
Anah tidak menjawab. Dia menyeka matanya yang basah.
"Anah?”
Pelan-pelan, Anah meletakkan telepon.
Klik.
"Anah! Tunggu, Anah! Kita belum selesai bicara!” Bashir merasa terganjal hatinya. "Ah, kenapa kamu sebodoh ini. Anah! Harusnya kamu tinggalkan nomor teleponmu!” Bashir membanting gagang telepon di tempatnya.
Lalu Bashir mondar-mandir dengan gelisah di ruangan kakaknya. Jika ada yang menghalanginya, dia tendang. Berkas-berkas yang melintang di meja disambar dan dilemparkannya ke sembarang tempat!
"Hakiiim!” teriaknya marah.
Episode 31
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Aku hanyut di laut-Mu
Membaca ombak-ombak
Mendengar kisah ikan
Mencari hidayah-Mu
Tenggelam aku di pusaran-Mu!
Bashir sedang berdiri di pantai. Dia melarikan kepenatan tubuh dan pikirannya dalam suasana laut. Barang kali ombak yang berdebur, pasir pantai, wangi air laut, akan sedikit menyejukkan hatinya. Menentramkan kegelisahannya.
Senja di Selat Sunda sebentar lagi akan menjelma.
Bashir membiarkan lidah ombak menjilati kedua kakinya, yang sudah tenggelam dimakan pasir sampai semata kaki. Hatinya galau memikirkan Anah. Ya, Rabbi, apa yang harus hamba lakukan? Betapa menderitanya Anah! Betapa terkutuknya kakakku! Wanita secantik dan sebaik Anah, disakiti oleh kakakku! Ditelantarkan kakakku! Tega-teganya Hakim, ya Rabbi! Apa rahasia di balik semua ini, ya Khalik? Apakah akan selalu ada hikmah di setiap peristiwa-Mu?
Tiba-tiba dua tangan halus menutup kedua matanya!
Bashir kaget dan gelagapan.
"Pasti ngelamunin Anah! " kata sebuah suara.
"Diana!?" Bashir menggenggamkedua lengannya.
Kini Bashir melihat Diana di hadapannya dengan senyumnya yang menggoda. Betapa mirip sekali dengan Anah!
"Kapan datang?" tanyanya heran.
"Barusan!" Diana melonjak-lonjak gembira karena kakinya hendak disentuh ombak.
"Sendirian?" Bashir melihat ke sekeliling.
"Iya! Kenapa? Heran? Aku biasa nyopirin Mama Natalia, kok!"
"Secepat itu?" Bashir masih saja heran.
"Nggak pakai rem! Jakarta-Anyer hanya satu jam setengah!" Diana tertawa renyah.
"Kayak pembalap saja kamu! Ananda Mikola bisa-bisa kalah sama kamu!" Bashir tertawa.
"Aku ke kantormu tadi! Kata Pak Hasan, setiap sore, kamu selalu duduk di sini menunggu senja," tambahnya. Dia berdiri merapat ke tubuh Bashir.
Bashir tersenyum. Dia kembali meneliti Diana! Betul-betul mirip dengan Anah! Hanya saja Diana lebih bebas dan menggelora menumpahkan suara hatinya! Berbeda dengan Anah yang santun dan agak tertutup.
"Apa aku ngeganggu?" Diana merajuk.
Bashir menggeleng dan duduk di pasir. Diana mengikuti. Diana melirik. Bashir sedang serius menatap lurus ke langit barat. Ada layar raksasa terbentang dengan wama dasar merah dan kuning keemasan! Bola merah raksasa itu seperti berada dalam jangkauan tangannya. Hendak diraihnya, tapi ternyata tidak bisa!
"Aku jarang ngelihat senja!"
"Masa, sih?"
"Iya!"
"Coba nikmati!"
"Wah, indah banget, ya!" Diana berdecak kagum.
"Allahu Akbar!" Bashir berseru, memuji keindahan alam itu.
"Allahu Akbar? Apa itu artinya?"
"Itu ungkapan rasa syukur kita pada Tuhan, karena berkat kebesaran-Nya kita bisa menikmati keindahan senja ini. Tak akan ada yang sanggup menandingi lukisan alam ini. Senja di pantai! Lihatlah, Diana! Menurut kamu, adakah seorang pelukis yang sanggup memindahkannya ke selembar kanvas? Atau, adakah penyair yang bisa menuangkannya ke dalam kata-kata?"
"Senja di pantai, indah sekali ...berduaan dengan kekasih ...," Diana dengan genitnya bersanjak.
Bashir tersenyum.
"Bagaimana?"
"Bagaimana apanya?"
"Sajakku tadi?"
"Jelek!"
"Kok, jelek!"
"Iya, jelek! Pokoknya, nggak bakalan ada yang bisa melukiskan keindahan senja ini dalam bentuk apa pun seperti bentuk aslinya! Ini adalah karya agung dari Allah! Tuhanku! Nggak akan ada yang bisa menirunya!" Bashir berapi-api.
"Kenapa kamu? Jadi bersemangat gitu?" Diana menatapnya heran.
"Huh!" Bashir melontarkan napasnya, kejengkelan dan kemarahannya.
"Kamu sepertinya sedang marah!" pancing Diana.
"Ya, aku sedang marah! Betul-betul marah!" Bashir berdiri.
"Pasti sama kakakmu, yal" Diana mencoba menebak.
"Iya!" Bashir juga berterus terang.
"Kakakmu memang beruntung bisa mempersunting Anah!"
Bashir menatapnya dengan tajam. "Sebaiknya kita nggak usah membicarakan Anah atau Hakim!” tegasnya.
"Kenapa? Nggak nyaman, ya?" Diana tersenyum meledek.
"Kamu sudah menjawabnya!" Bashir membuka kemejanya. Kemudian kaosnya. Dengan masih memakai celana jeans, Bashir berlari menerjang ombak. Pakaiannya basah. Tubuhnya basah. Hatinya juga basah. Hal ini agak mendinginkan emosinya.
"Bashiiir!" Diana berteriak dari pantai. Dia membuka pakaiannya. Dia kini hanya memakai pakaian renang saja. Temyata dia memang mempersiapkan dirinya untuk berenang di laut.
Bashir tertegun di laut. Iblis mengembuskan niat busuknya ke dalam hati Bashir. Dan Bashir menikmati keindahan tubuh wanita itu sesaat saja. Lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini! Aku terlalu lancang dalam mempergunakan kedua mataku! Batinnya mengadu.
Diana kini berlari ke laut. Dia menceburkan tubuhnya dan berenang ke arah Bashir. Sambil tertawa-tawa dia muncul ke permukaan. Rambutnya basah. Diana menyibakkan sebagian rambutnya, yang menghalangi wajahnya. “Uuuh, segarnya!" Diana tampak gembira. Bahkan dia mencipratcipratkan air laut ke wajah Bashir, yang sedari tadi hanya menatapnya saja.
“Kalau ketahuan pacarmu yang fotografer itu, bisa bahaya, nih!" kelakar Bashir sambil membalas mencipratkan air laut ke wajah Diana.
“Si fotografer itu udah basi!" Diana juga membalas.
“Kamu lagi nggak punya pacar?"
“Iya! Kenapa? Berminat jadi pacarku?"
“Mamamu, pasti melarang!"
"Enak aja! Pacaran kok, mesti minta restu sama Mama! Memangnya masih zaman orde baru?" Diana menenggelamkan kepalanya ke air laut.
Bashir menunggu kemunculannya di pemukaan air.
Diana muncul sambil berteriak girang. Air bercipratan dari tubuhnya, membentuk bayangan yang berkilauan! Saat itu, iblis berada di sekeliling mereka. Bashir merasakan, bahwa dia tersedot untuk memakan buah kuldi, seperti dulu Adam dan Hawa melakukannya.
“Ya! Aku mau jadi pacarmu!" Bashir menekan kepala Diana supaya tenggelam lagi.
"Bashir!" Diana menjerit-herit dengan manja.
Mereka tampak gembira bermain air laut.
Tidak terasa, senja sudah menggelincir jatuh di cakrawala.

Episode 32
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Air mata nelayan rasanya asin
Seperti Selat Sunda yang jadi nyawa-Nya
Mimpi nelayan rasanya getir
Seperti ikan yang menggelepar di jala-Nya
Pantai nelayan rasanya tak berpasir
Seperti lantai di rumah-Nya
Padahal hidup adalah amanah-Nya!
Kafe malam hari. Lilin-lilin dinyalakan di sebuah meja yang letaknya strategis menghadap ke pantai. Seorang pelayan yang sudah sangat dikenal Bashir, meletakkan makan malam di meja sambil tersenyum penuh arti.
"Dia mirip Anah,” bisik si pelayan di telinga Bashir.
"Sudah, sana!” Bashir tertawa mengusirnya.
Pelayan itu tersenyum dan mengangguk pada Diana. Lalu dia pergi.
"Apa katanya?” Diana ingin tahu.
"Katanya kamu cantik! " Bashir asal bicara saja, sambil menyendakkan nasi ke piring Diana.
"Pasti bukan itu!" protes Diana dengan manja.
"Iya!"
"Bukan!"
"Kamu ingin tahu?"
"Iya!"
“Katanya, kamu mirip Anah! Puas?”
Diana tampak kesal. "Itu alasannya, kenapa kamu mau jadi pacarku! Iya, kan?" cecarnya tidak suka.
"Alasan untuk jadi pacar kan beragam. Ada yang kagum karena perangainya, kecantikannya, dan masih banyak lagi. Nah, karena kamu mirip Anah, itu kan tidak bisa dipungkiri?"
"Tapi, itu alasannya kan?" Diana masih belum terima.
"Salah satunya!" Bashir meralat.
Diana mengaduk-aduk nasi di piringnya.
"Sudahlah. Kita nikmati dahulu makan malam ini, Sayang….”
"Aku lebih suka dipanggil Honey ..." Diana mulai manja lagi.
"Oke! Aku akan panggil kamu Honey!" Bashir tersenyum.
Diana juga tersenyum.
Suasana makan malam yang romantis. Bashir dan Diana duduk berhadapan. Seikat bunga mawar perlambang cinta sejak zaman dahulu kala menjadi aroma mereka.
"Hotel warisan bapakmu ini sudah kuno, tapi asyik juga. Apalagi letaknya yang strategis di semenanjung," kata Diana sambil menyeruput juice jeruknya.
"Ya, betul katamu. Karena letaknya yang strategis itulah, Tuan Marabunta yang rakus bernafsu membelinya!”
"Kakakmu tidak mau menjualnya?" Diana merasa heran.
"Awalnya aku tidak sependapat dengan kakakku. Tapi sekarang, aku pikir kakakku benar. Kalau hotel ini dijual ke Tuan Marabunta yang brengsek, dampak sosialnya pada masyarakat di sekitar sini pasti akan makin parah."
"Dampak sosial seperti apa?"
"Ah, orang Jakarta seperti kamu, tahunya hanya weekend saja ke sini. Menikmati pantai, ombak, berenang di laut, dan senja. Mereka tidak sadar, kalau semua pantai di sini dijejali hotel berbintang atau resort, sehingga masyarakat di sini yang nota bene adalah nelayan, akan makin kesulitan. Mereka tidak tahu lagi, harus lewat mana jika hendak melaut! Itu karena semua jalan menuju pantai ditembok dan dipasangi plang: Ini bukan jalan umum! Dilarang lewat sini!"
Diana mengangguk,angguk.
“Aku pernah jalan kaki menyusuri pantai mulai dari pasar Anyer sampai ke Carita. Semua lahan dipatok-patok atau dipagari tembok! Para nelayan yang tadinya hanya menyeberang jalan saja jika akan melaut, kini harus memutar, berjalan kaki berkilo-kilo meter jauhnya, hanya untuk bisa mencapai pantai. Bahkan, aku kadang dipelototi para penjaganya karena sudah melewati pantai mereka. Begitulah mereka mengklaim pantai-pantai di sini! Padahal, aku tahu sekali, bahwa sebetulnya harus ada jarak sepanjang dua ratus meter dari pantai, jika hendak membangun resort atau hotel."
"Jangan naif. Ini bisnis. Kamu terlalu menyalahkan pengusaha seperti Tuan Marabunta! Seharusnya, Pemda di sini yang lebih ketat dengan menerapkan kebijakan itu!"
"Ya, betul katamu. Jadinya seperti lingkaran setan. Tak tahu lagi, siapa yang salah, mana yang benar. Itulah tandanya kiamat hampir tiba. Mencari orang benar, sangat sulit sekarang. Sekarang ini, mencari orang-orang baik seperti mencari jarum di dalam jerami. Sulitnya minta ampun!"
"Tapi, kamu kok, kayaknya benci banget sama Tuan Marabunta?"
"Dia yang menyebabkan malapetaka di rumahku! Terutama yang menyangkut kematian Bapak!" Bashir tampak marah ketika menjawab pertanyaan Diana.
"Bukankah dalam agamamu, diajarkan agar kita tidak saling mendendam? Dan bukankah Dicky sudah mendapatkan ganjarannya dengan mendekam di penjara?"
"Itu untuk kasus tujuh tahun yang lalu! Dia terbukti pelaku pembunuhan terhadap temanku, Tedi! Sekarang, untuk kasus pembunuhan Bapak, dia dan ayahnya harus siap menanggung resikonya! Pembunuhan terencana! Empat belas tahun penjara!"
Diana menatapnya dengan tatapan seorang wanita yang sedang kasmaran. "Sebaiknya kita nggak usah ngomongin ini, deh. Serem!" usulnya. "Mendingan kita rayain aja kisah percintaan kita! Gimana?"
"Kamu yang memulai!"
"Iya juga. Sorry, ya!" Diana tertawa renyah.
Bashir menyalakan rokok. Gelisah. Sejak tadi, iblis menjulurkan lidahnya yang berapi padanya! Iblis laknat yang mencoba menariknya ke dalam perbuatan sesat! Hawa nafsu kini sedang berusaha menguasainya dengan umpan kecantikan Diana yang menggoda! Bashir berusaha menangkal godaan setan terkutuk itu dengan membaca surat Ali Imran ayat 8-9: Rabbana la tuzigh qulu bana ba'da izhadaitana wa hablana milladunka rahmatan innaka antal wahhab. Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk. Semoga dengan membaca ayat ini Bashir selalu dalam tuntunan Allah yang sudah difirmankan dalam Al-Quran!
Tapi iblis memang pantang mundur, api laknatnya menyusup pada bola mata biru Diana! Saat itu Diana memberi isyarat lewat matanya yang menggoda.
"Kenapa?"
"Tuh! Ada yang datang!"
Bashir menengok ke arah pintu kafe. Tampak dua orang bodyguard mengawal Tuan Marabunta. Darah langsung bergolak ke ubun-ubun!
“Mau apa dia? Cari-cari penyakit saja!" Bashir langsung mematikan rokok di asbak dan berdiri menantang mereka.
“Kamu jangan cari gara-gara, Bashir!" Diana memperingatkan.
“Dia yang cari gara-gara! " Bashir langsung menyongsong Tuan Marabunta..
Episode 33
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Selat Sunda diinjak tanam paksa
Melilit besi sampai ke Banyuwangi
Titah raja baru sekarat nyawa-nyawa
Tulang belulang berserakan di purbakala
Para nelayan merintih hangus membara
Tanahnya bubrah porak poranda
Ya Rabbi, kembalikan pantai-Mu!
Bashir bertolak pinggang di hadapan Tuan Marabunta dan dua cecunguknya. Tuan Marabunta membuka tangannya lebar-lebar. Senyumnya yang licik terkembang seperti layar perahu.
"Assalamu'alaikum, Bashir!" salam Tuan Marabunta.
Bashir tidak memedulikan salamnya. "Ada apa kemari?" tanya Bashir sangat ketus.
"Beginikah cara kamu menyambut setiap tamu yang datang ke hotel warisan ayahmu?" Tuan Marabunta menatapnya dengan tajam, tapi senyumnya masih mengembang.
"Itu urusanku!" Bashir balas menatapnya dengan gusar.
"Oh, begitu! Pantas Hotel Semenanjung ini sepi pengunjung!"
"Kalau sepi, kenapa? Apa telinga Tuan yang terhormat ini tuli, kalau dari dulu Hotel Semenanjung ini tidak untuk dijual!?" Bashir menegaskan lagi dengan nada sinis.
Tuan Marabunta mulai gerah hati karena merasa dipermalukan oleh Bashir yang dianggapnya anak kencur. Dia segera menenangkan dua bodyguard-nya, yang hendak mengambil tindakan.
"Kamu tidak mempersilahkan saya duduk?" Tuan Marabunta melihat ke Diana.
"Maaf, tidak ada tempat! " Bashir menegaskan lagi. Nada bicaranya seperti mengusir Tuan Marabunta dan dua tikusnya untuk pergi.
"Siapa dia? Pacarmu? Cantik sekali!" Tuan Marabunta mengganti topik pembicaraan.
Diana tersenyum, walaupun dalam hati dia memaki Tuan Marabunta yang mata keranjang.
"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Bashir mempersilahkan ayah Dicky untuk pergi. "Silahkan! Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan Tuan!"
"Dasar anak tolol!" Tuan Marabunta mulai marah. "Kamu akan menyesal sudah memperlakukan saya seperti ini!"
“Selamat. berjumpa di persidangan nanti!" Bashlr mengingatkan.
"Kamu pikir, kamu akan menang melawan saya? Begitu?" Tuan Marabunta melecehkan dengan senyumnya yang licik. "Kamu dan kakakmu akan gigit jari! Bahkan roh ayahmu yang masih gentayangan itu, akan menangisi kalian!" Tuan Marabunta tertawa dan berbalik pergi.
Bashir marah ketika almarhum ayahnya disebut-sebut. Dia menerjang Tuan Marabunta. Tapi, dua tukang pukul Tuan Marabunta menahannya. Bahkan melemparkannya! Bashir melayang dan tersungkur menghantam meja dan kursi.
Tuan Marabunta mendekati Bashir. Dia menginjakkan sepatu mahalnya yang mengkilat ke leher Bashir. Dua pengawalnya berjaga-jaga, ketika beberapa pelayan hendak mengamankan Bashir.
"Ingat, anak tolol! Sekali lagi kamu permalukan saya seperti tadi, akibatnya bisa lebih buruk dari yang ini! Camkan itu!" Tuan Marabunta menatapnya dengan tajam. Lalu dia mengangkat kakinya dan berlalu pergi.
Dua pengawal Tuan Marabunta mendekati Bashir dan merighadiahi tendangan di perutnya. Bashir yang hendak bangkit menyerang Tuan Marabunta, kembali tersungkur dan mengerang.
Diana menjerit dan memburu Bashir. Beberapa pelayan hotel juga menyerbu dan membantu Bashir untuk berdiri.
"Bagaimana, Den? Nggak apa-apa kan?" Tanya seorang pelayan cemas.
"Sudah, sudah!" Bashir marah-marah. "Aku tidak apa-apa! Aku bisa berdiri, kok!" tambahnya sambil menepiskan lengan mereka yang akan mengangkat tubuhnya.
"Aku kan sudah bilang, jangan cari gara-gara!" Diana mengingatkan.
"Aku tidak sedang cari gara-gara, Diana!" Bashir rnenatapnya dengan gusar. "Tapi, sedang membela nama baik keluargaku di depan Tuan Marabunta yang terhormat itu!" tambahnya berang, sambil menatap ke para pelayan hotel. "Dan kalian ini payah!" Bashir memarahi para pelayan hotel. "Bukannya ngebantuin, malah nonton!"
"Wah, bisa bahaya kalau kami turun tangan!" kata seorang pelayan.
"Iya! Kami nanti kena getahnya!" pelayan yang lain menambahkan.
"Tukang pukul Tuan Marabunta kan berkeliaran di mana-mana!"
"Bisa pulang tinggal nama kita!"
"Hotel Semenanjung ini juga bisa dirusak nantinya!"
"Kita bisa kehilangan pekerjaan!"
"Sudah, sudah!" Bashir menutup kupingnya. "Sana, bubar!" Bashir berjalan keluar dari hotel. “Dasar pengecut semua!” umpat Bashir.
Diana mengikuti Bashir dengan bergegas.
Para pelayan saling pandang.
"Bashir itu beda banget ya, sama kakaknya!" seorang pelayan menanggapi.
"Hus! Jangan asal ngomong!"
"Kedengaran Bashir, bisa dipecat kamu!"
Sementara itu Diana masih saja mengejar Bashir, yang berjalan ke mobilnya. "Bashir, tunggu!" teriaknya.
Bashir tidak peduli! Dia masuk mobil lalu langsung tancap gas! Debu pasir beterbangan menerpa wajah Diana!
Episode 34
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Ombak berdebur memukul hatiku
Mengabarkan tentang rahasia-Mu
Taburan bintang penerang hati
Menguak segala isi semesta
Sirami aku dengan rahmat-Mu!
Bashir gelisah di dalam mobilnya. Dia memacu mobilnya dengan kencang. Beberapa mobil dilewatinya! Dia melihat kaca spion! Dilihatnya nyala lampu mobil berkedip-kedip. Sebuah mobil sedan made in Japan berusaha menyusulnya.
Bashir merasa tidak tega. Dia membelokkan mobilnya, memasuki alun-alun Mercusuar Anyer. Sedan itu mengikutinya. Bashir memarkir mobilnya, persis menghadap ke laut. Sedan itu juga berhenti di sebelah mobilnya.
Bashir keluar dari mobil dan duduk di kapnya. Diana, penumpang sedan, juga turun dan mendekati Bashir. Diana ikut duduk di kap mobil milik Bashir. Mereka seperti hanyut dalam perasaannya masing-masing. Mereka seperti mencoba menyimak nyala lampu perahu nelayan, yang berkerlap-kerlip di tengah lautan. Sesekali sorot lampu di menara mercusuar berkelebatan, memberi kabar pada para nahkoda kapal tentang adanya sebuah daratan!
“Sorry, ya!” Diana sangat menyesal.
"Tak ada yang perlu disesalkan. Kenyataannya memang begitu. Antara keluargaku dengan Tuan Marabunta, memang ada dendam. Seperti gula dan semut. Kami gula yang tidak mau didekati oleh semut."
"Perumpamaan kamu itu ruwet banget," Diana merapatkan kedua tangannya di dada untuk menangkal angin laut yang kencang. "Aku nggak ngerti!"
"Kamu tidak perlu mengerti dengan persoalan keluargaku," Bashir melompat dan mengambil jaketnya dari dalam mobil. "Memang ruwet. Seruwet hidup kita. Baru juga kenal, sudah merasa saling dekat," katanya sambil memberikan jaket pada Diana.
"Apa nggak boleh kita merasa dekat, walaupun baru saling kenal?" Diana menggoda sambil menggantungkan jaket Bashir secara terbalik di kedua pundaknya. Lumayan, dinginnya agak berkurang.
“Aku betul-betul membenci Tuan Marabunta!" Bashir masih geram.
"Tapi, nggak perlu dengan cara kekerasan kan?"
"Yang memulai, justru mereka!"
Bashir berjalan menuju pantai. Dia gelisah. Dia berjalan agak ke tengah lagi. Dia membiarkan ombak menghantam kedua kakinya. Diana hanya memandanginya saja.
"Ya, Allah, apa yang harus aku lakukan?" Bashir tiba-tiba roboh. Dia duduk dengan bertumpukan kedua lututnya.
Diana merasa heran. Dia berdiri, tetap berada di tempatnya. Sedang menunggu, apa yang akan diperbuat Bashir. Dilihatnya Bashir merengkuh pasir laut.
"Ya, Allah ..., kenapa Hakim tega menyakiti Anah?" rintih Bashir sambil menggenggam pasir. "Padahal aku sudah mengikhlaskan Anah untuk dipersunting Hakim! Kenapa Kau pun memberikan cobaan yang maha berat pada Anah, ya Rabbi?" Bashir mengadu pada Allah.
"Bashir!" tiba-tiba Diana berteriak memanggilnya.
Bashir menahan bendungan di matanya agar tidak jebol. Dia bangkit dan menarik napas kuat-kuat. Lalu melontarkannya dengan diiringi teriakan. Suaranya berbarengan dengan debur ombak.
"Bashir!" Diana berteriak lagi. "Kamu nggak apa-apa?!"
"Iya, iya! Sebentar!" Bashir mengangkat tangannya.
Tanpa mereka ketahui, sebuah mobil mewah berhenti di tempat terlindung. Para penumpangnya sedari tadi mengawasi Bashir dan Diana.
"Bagaimana, Tuan?" tanya si Sopir, yang juga tukang pukulnya.
"Mereka harus kita kasih pelajaran, Tuan!" timpal tukang pukul satunya lagi.
"Biar dia tahu, kalau Tuan itu nggak bisa diremehin!"
"Atau kalau perlu, kita culik saja pacarnya!"
"Sudah, bunuh saja, Tuan!"
"Kalian tentu tahu apa yang harus kalian lakukan! Tapi, hati-hati! Bikin seperti kecelakaan saja!" kata si Tuan, yang duduk di jok belakang dengan kesal.
"Beres, Tuan!" kata yang menyetir.
"Tuan akan bisa secepatnya menguasai seluruh aset perusahaan peninggalan Haji Budiman!" yang seorang lagi tertawa rakus.
"Terserah bagaimana kalian melakukannya! Yang penting, jangan bawa-bawa aku! Mengerti?!"
"Siap, Tuan!" kedua tukang pukul itu saling pandang dengan licik. Mereka mencoba memahami perintah majikannya. Setan membantu dengan sihirnya, bahwa pekerjaan mencelakakan orang itu sangatlah mudah. Akhirnya kedua preman yang pernah malang melintang di Tanjung Priok itu tertawa keji.
"Apa lagi, Tuan?" tanya yang menyetir menunggu perintah.
"Ya, sudah! Antar aku ke hotel!" perintah si Tuan.
Sementara itu yang seorang lagi menghubungi antek-anteknya lewat handphone! Dia memberi perintah agar ada yang bergerak untuk mencelakakan Bashir atau Diana. Dia menyebutkan cirri-ciri sang korban! Dan api iblis pun menjalar dengan sangat cepat, menjilat-jilat siapa saja yang lengah!
Tuan Besar yang duduk di jok belakang tersenyum keji mendengar percakapan tukang pukulnya. Di dalam benaknya sudah terbayang, perusahaannya akan makin besar dan disegani orang. Harta, kedudukan, dan dendam sudah membutakan mata hatinya!
Kini mobil mewah itu menggelinding menyusuri aspal jalanan meninggalkan Mercusuar Anyer.
Episode 35
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Sebuah cermin menjadi petunjuk
Akan ke manakah kita pergi?
Tapi. kadang manusia malu bercermin
Melihat dirinya sendiri
Ya Khalik, tunjukkan jalan-Mu!
Bashir dan Diana masih berdiri di pantai. Tubuh mereka menggigil. Angin makin kencang, menyampaikan bisikan setan untuk berbuat dosa. Diana menatap Bashir dengan penuh gelora. Bashir bergidik dan terus berzikir, agar selalu dalam lindungan Allah. Dia sudah merasa api iblis menjilati hawa nafsunya! Tapi jika makin membara, dia selalu berpegangan pada tuntunan Allah! Dialah tempatku untuk berlindung!
"Sebaiknya kamu pulang, Diana," saran Bashir dengan tegas
"Kamu menolakku?" Diana kecewa. "Kalau kamu mau menginap, kamu bisa memakai kamarku di Hotel Semenanjung," kata Bashir.
"Aku punya apartemen di Marbela!"
"So, what?" Bashir agak kesal.
"Aku ingin kamu menemaniku malam ini," Diana memeluk Bashir dengan erat. Tubuhnya yang hanya berbikini gemetar.
Bashir mendorong tubuh Diana dengan halus. "Maafkan aku, Diana," Bashir bergegas naik ke mobil. "Aku mungkin kuno, tapi aku tidak bisa!” tegasnya sambil membuka kaosnya yang basah. Lalu kemakai kemejanya.
"Bashir! Persetan dengan kamu!” Diana memaki. Dia juga masuk ke mobilnya. Dengan edannya dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang kering. Iblis memang sudah membakar hawa nafsunya!
Bashir beristighfar! Selimutnya adalah asma Allah! Dia merasa terlindungi dari jilatan api iblis laknat!
"Nanti aku hubungi kamu!” teriak Bashir memacu mobilnya.
Tinggal Diana sendirian di pantai. Dia masih kesal. Dilemparkannya bikininya ke jok belakang. Setan menertawakannya karena Diana sudah gagal menjerumuskannya ke dalam api neraka!
"Bashir! Kamu kampungan! Kuno! Banci! Pengecut!” teriaknya marah, malu, geram, gemas, dan entah apa lagi. Semua rasa bercampur jadi satu. Bahkan akhirnya dia menangisi kebodohannya. Ada rasa malu menyergap hatinya. Seumur-umur, belum pernah ada lelaki yang menolaknya untuk diajak tidur bersama! Baginya, seks adalah kebutuhan! Bukan sesuatu yang sacral lagi! Tidak ada perbendaharan kata dosa dalam kamus hidupnya! Dia tidak peduli dengan setan atau malaikat. Yang ada baginya, surga adalah kenikmatan yang bisa diperolehnya sekarang! Saat ini juga! Surga atau neraka itu urusan belakang!
Diana bangkit dan bergegas masuk ke dalam mobil, ketika dilihatnya ada beberapa orang yang datang dari mercusuar menghampirinya. Dia menghapus air matanya dan menyalakan mesin mobil. Sebelum orang-orang itu sampai ke tempatnya, dia sudah melesat dengan mobilnya menuju Jakarta!
Diana kesetanan menjalankan mobilnya di jalan raya Cilegon. Beberapa kali mobilnya oleng karena melindas lubang. Jalanan di kecamatan memang rusak berat. Selain bergelombang, lubang pun menganga di sana-sini! Aneh! Katanya sudah jadi provinsi, tapi sarana jalan masih terbengkalai. Padahal di lokasi sekitar sini banyak pabrik dan hotel! Kenapa tidak urun rembuk saja untuk mengatasi hajat orang banyak ini? Ah, peduli setan!
Diana terus saja memacu mobilnya! Setan masih saja menertawakannya! Ban mobilnya kembali menggilas lubang! Oleng! Tapi, itu tidak membuat nyalinya ciut! Pikirannya hanya tertuju pada Bashir! Ternyata anggapannya tentang Bashir meleset! Bahkan salah! Tadinya dia berharap, di dalam diri lelaki berambut gondrong, macho, dan liar itu akan diperolehnya kehangatan seorang lelaki! Kenyataannya nihil! Bashir termasuk lelaki banci! Pengecut! Diajak tidur saja takut pada dosa! Huh!
Tiba-tiba sebuah mobil menyusulnya! Bahkan seperti sengaja memanas-manasinya untuk berpacu! Diana terpancing. Dia berusaha menyusulnya lagi! Tapi, mobil itu sangat cepat lajunya! Diana menguntit mobil itu! Beberapa kali dia hendak menyalip, tapi beberapa kali pula gagal karena ada mobil dari arah depan! Diana sangat kesal! Dia menempel terus mobil sialan itu, yang sepertinya dengan sengaja menghalangi laju mobilnya!
"Heh! Mau ngajak balap, ya?" teriak Diana menurunkan kaca jendela mobilnya.
Pengendara mobil itu juga menurunkan kaca jendela mobilnya. Ada dua orang berwajah tegap di mobil itu. Mereka mengangkat jempol tangannya secara terbalik pada Diana!
"Brengsek!" Diana memaki dan menginjak pedal gas lebih dalam lagi.
Mobil itu terlewati.
Diana bisa tersenyum. Kini wajah Bashir membayang lagi! Wajah yang sepertinya sedang menertawakannya! Bashir menolaknya untuk diajak tidur, baginya ini sangat aneh. Apakah tubuhku yang seksi ini tidak nienggairahkan bagi Bashir? Diana merasa tidak yakin! Bullshit! Para pejabat dan om hidung belang saja sampai sekarang masih antri menghubungiku! Mereka berebut mengajakku kencan! Puluhan juta siap mereka rogoh demi mendapatkan keindahan tubuhku! Tapi Bashir malah menolakku! Ah, persetan dengan lelaki pengecut itu!
Terdengar bunyi klakson.
Mobil sialan itu kini berada di sebelah mobilnya.
Bahkan berhasil melewatinya.
Diana kembali menginjak pedal gas. Makin dalam! Mobil sialan itu berhasil disusulnya. Tapi, ketika moncong mobilnya sudah berhasil melewati mobil itu, dia melihat dua orang lelaki tersenyum keji padanya! Mobil itu malah mengencangkan lajunya!
Diana panik karena dari arah depan ada lampu mengedip-edip! Diana terus memelankan laju mobilnya, mobil sialan itu juga memelankan lajunya! Diana sadar, kalau dua orang di dalam mobil itu hendak mencelakakannya! Terbukti mereka tidak memberi kesempatan pada. Diana untuk menepi!
Klakson dari arah depan bersahutan!
Telinganya pekak!
Tidak ada jalan lain baginya selain membanting stir ke kanan untuk menghindari tabrakan dengan truk dari arah depan! Tapi, bodi mlobil bagian belakangnya masih kena dihantam truk! Mobilnya terbang dan memutar di udara! Kemudian membentur sebuah pohon!
Episode 36
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Anah, Namlok, dan Siti Aisyah Kehilangan Hakim
Membaca permukaan air kolam
Yang tenang tanpa riak gelombang
Lemparlah batu ke tengah-tengahnya
Niscaya akan kau temukan rahasia
Betapa hidup itu penuh cobaan-Nya
Mobil Bashir menikung di Pocis-Royal Serang. Hup! Dia mengerem mendadak sambil memaki-maki karena sopir angkutan kota dengan seenak udelnya menghentikan kendaraan! Para sopir angkutan kota memang kurang terdidik ketika menurunkan dan menaikkan penumpang. Mereka tidak pernah peduli, apakah kelakuannya itu bisa membahayakan pengendara lain atau tidak. Alasan mereka dari dulu, ya begitu-begitu saja: ngejar setoran!
"Sire kien (kamu ini)!" kepala Bashir melongok di jendela. “Aje ning tengah geh! Minggir geh! Emange jalan kien, sire sing duwe!? (Jangan di tengah, dong! Memangnya jalan ini punya kamu!?)" semprot Bashir lagi.
Sopir angkutan Kopas itu hanya mesem-mesem saja.
Kemudian Bashir menjalankan lagi mobilnya. Tapi tidak jauh dari situ, di depan Nit Net, warung internet yang kini sedang menjamur di Serang, Bashir menghentikan mobilnya. Tukang parkir yang kakinya buntung, tersenyum padanya.
"Gimana, Mang? Sehat?" sapa Bashir.
"Sehat, Den," tukang parkir itu tersenyum.
Bashir merogoh saku celananya dan menyerahkan selembar uang lima ribuan! "Nih, Mang! Buat ngerokok!"
"Makasih, Den!" katanya gembira dan bersyukur.
Bashir tersenyum lagi dan masuk ke Nit Net, sebuah warung internet milik kawan sekolahnya dahulu. Dia mengangguk dan tersenyum lagi pada Lia, istri dari pemilik Nit Net, yang sedang duduk di meja kasir. Lantai bawah Nit Net ini dipakai untuk kafe. Sedangkan warung internetnya ada di lantai dua. Bashir sering datang ke sini jika sedang berada di Serang untuk surfing internet. Di rumahnya belum dipasang internet. Dengan Hakim, dia sering bertengkar soal informasi global ini. Almarhum ayah dan kakaknya, memang, temasuk generasi gagap teknologi!
"Ya, ya. ya! Aku kirim sekarang naskahnya!" teriak Bashir leWat H~ ketika redaksinya di Jakarta menghubunginya. "Pokoknya, kamu bakal senang dengan berita ini! Tuan Marabunta, pengusaha kakap asal Cilegon, memaksa para nelayan di Selat Sunda untuk menjual tanahnya!" kata Bashir menyender di bawah anak tangga.
Lia. yang sedang membaca buku "Doa-doa Mustajab". mengerutkan dahi ketika mendengar pembicaraan Bashir tadi. Tapi, dia kembali asyik membaca buku itu.
"Tuan Marabunta juga disinyalir dalang dari kematian ayahku!" teriak Bashir lagi. "Iya! Aku juga salah satu saksinya!" tegasnya. "Oke! Untuk menghindari unsur subjektivitas, aku yang kirim data-datanya, kamu yang menulisnya! Juga kamu konfirmasi saja ke narasumber yang aku tulis. Iya, nomor telepon dan HP-nya sudah aku tulis!" Bashir mengangguk-angguk. "Aku kirim sekarang lewat e-mail!" Bashir bergegas naik ke lantai dua dan menutup percakapannya lewat HP dengan redaksi koran di mana dia bekerja.
Di pintu masuk, dua anak muda muncul dan bergegas naik ke lantai dua. Wajahnya sangat mencurigakan.
Bashir mendorong pintu Nit Net. "Halo, Wan!" teriaknya.
"Hai, Bashir! Tumben ada di Serang? Nggak hunting ke luar Jawa?" Iwan melambaikan tangan di balik komputernya.
"Lagi cuti!" Bashir mendekati meja Iwan.
"Sorry, biar pun telat, aku turut berduka cita dengan meninggalnya bapakmu," Iwan mengulurkan lengannya.
"Makasih, Wan!" Bashir mengangguk dan menjabat erat tangan Iwan. “Ada yang kosong?" tanyanya sambil melihat-lihat ke bilik komputer. Dari empat bilik komputer, tinggal satu yang tersisa. " Aku mau ngirim naskah ke redaksi! Tentang orang yang berada di belakang kematian bapakku!"
"Wah, bisa seru, dong! Siapa? Si Dicky kan?" tebak Iwan.
"Ayahnya juga!" tambah Bashir.
"Tuan Marabunta?" lwan kaget.
"Bashir! Yang dekat jendela kosong, tuh!" Toni, instruktur Nit Net, yang sedang mengajari anak sekolah surfing internet, menimpali dari bilik komputer.
Bashir mengangguk lalu berjalan ke bilik telepon yang kosong. "Halo, Ton! " Bashir menepuk pundaknya.
"Apa kabar? Jarang kelihatan kamu!"
"Bertapa, Ton! " Bashir tertawa dan berjalan ke pojok. Dia merogoh saku kemejanya. Sebuah disket ditangannya. Berbarengan itu pula, dua anak muda berjalan ke arah yang sama. Kesannya seperti akan berebut tempat. Bashir menatap seorang dari mereka, yang merangseknya ke pinggir tembok. Sementara yang seorang lagi sudah duduk di depan komputer!
"Heh, apa-apaan ini! " Bashir mendorong tubuh orang itu.
"Aku duluan yang make! " orang itu balas mendorong Bashir dengan keras.
Bashir tertawa kesal. "Mau make intenet saja, pakai cara paksa!" katanya sambil mencekal krah kemeja orang itu.
Di luar dugaan Bashir, orang itu mahir ilmu bela diri. Ketika Bashir bermaksud mencekal krah kemeja orang itu, dengan cepat orang itu menepisnya! Bahkan memelintirnya! Yang membuat Bashir kaget, disket di tangannya direbut otang itu! Dan langsung diremasnya hingga rusak!
Bashir melongo. Dia tidak bisa menerima perlakuan orang aneh ini. Bashir sudah berniat hendak menyerang orang itu, tapi Iwan dan Toni, langsung memberangus dan menarik Bashir ke tempatnya.
“Sudah, sudah! Nge-download di tempatku saja!" Iwan menawarkan.
“Percuma! Disketnya dirusak!" Bashir menjejakkan kakinya ke lantai. Matanya menatap marah pada kedua orang itu, yang tidak merasa bersalah.
“Sana, pulang dulu. Copy lagi filenya!” saran Toni.
“Males aku! Ah, ntar lagi, deh!" Bashir uring-uringan.
“Makanya, pasang internet di rumah, kenapa!"
“Itu bukan urusanku! Tapi, kakakku!" Bashir masih marah sambil menyambar koran Harian Banten edisi hari ini. “Siapa mereka?" Bashir menunjuk kedua anak muda itu.
“Mana aku tahu!" jawab Iwan berbisik.
“Jangan cari masalah sama mereka!" Toni memperingatkan.
“Siapa mereka? Punya hak apa melarapg aku?" Bashir protes ketika membuka lipatan koran harian pertama di Banten itu.
Toni membisiki Bashir, bahwa kedua orang itu berasal dari sebuah perkumpulan informal, yang suka menggunakan cara-cara kasar dalam menyelesaikan sebuah persoalan. Kadang kala mereka mengerjakannya atas suruhan orang lain! Tentu dengan bayaran!
Bashir hanya bisa menggerutu sambil membaca headline. Tiba-tiba dia terbelalak tidak percaya,
"Innalillahi!" pekiknya. "Oh, Diana!"dia melemparkan koran dan segera pergi.
"Bashir! Kenapa kamu?" Iwan mengambil koran. Membacanya.
Bashir tidak sempat menjawab. Dia terus bergegas menuruni anak tangga. Di benaknya terbayang wajah Diana yang mengerang kesakitan! Ya Allah, betapa aku tak bisa memahami perjalanan hidup ini! Mati, rezeki, dan jodoh adalah kuasa-Mu! Aku tak mampu untuk menyingkap misteri-Mu!
Episode 37
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Mata air berasal dari pegunungan
Tempat ketinggian milik-Nya
Mengaliri sungai dan lepas di lautan
Menjadi sumber kehidupan tak ada habisnya
Bersyukurlah kita atas karunia-Nya!
Pesawat Silk Air itu terbang melesat bagai peluru meriam, meninggalkan Don Muang Bangkok. Kota Pagoda yang menyimpan luka dan lembaran hitam bagi beberapa penumpang, Anah, Hakim, dan Namlok! Burung besi itu merasakan beban psikis penumpang yang dibawanya sangatlah berat dan menumpuk. Itu tampak dengan sangat jelas pada wajah-wajah di barisan paling belakang.
Hakim duduk diapit Anah dan Namlok. Siti Aisyah di pangkuannya. Betapa tegang wajah seorang ayah bagi Siti Aisyah dan suami bagi kedua wanita yang mengapitnya itu! Sesekali Namlok bersenda gurau dengan Aisyah, seolah mereka sudah lupa dengan kehadiran Anah!
Anah sendiri sedari tadi memejamkan mata. Dia tidak ingin melihat adegan-adegan, yang setiap saat menyayat hatinya. Keakraban Hakim, Aisyah, dan Namlok bisa diartikan macam-macam oleh perasaannya sebagai istri kedua! Betapa Allah selalu mencobanya dengan hal-hal yang sebetulnya tidak diinginkannya! Inikah pertanda dirinya di sayang Allah? Bermula dari menjadi anak yang tidak dikehendaki! Lalu dibuang di stasiun kereta api! Kini menjadi istri kedua pula! Ya Allah, ya Rahim, tunjukkanlah kehendak-Mu padaku yang hina ini!
Masih terbayang ketika pertemuannya dengan Namlok Sarachipat di depan pintu apartemen. Kedua mata mereka saling beradu! Saling menerobos dan mencari-cari, siapa sebetulnya yang sudah merebut suaminya! Biarlah Allah yang memutuskan lewat kuasa-Nya!
Lamunannya buyar ketika di pengeras suara diumumkan, bahwa pesawat sebentar lagi akan landing di Cengkareng. Pesawat Silk Air itu menukik dengan indahnya ke landasan Bandara Cengkareng. Sebuah babak menegangkan berhasil dilewati. Semua penumpang mengucap syukur pada Allah Swt. karena sudah diberi keselamatan, diberi kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang yang mereka sayangi dan menyayangi.
Tubuh Anah berguncang! Dia diam-diam melirik Hakim, yang sedang asyik bermain-main dengan Siti Aisyah. Saat itu pula, Namlok sedang meliriknya! Anah tersenyum dengan hatinya yang tulus.
"Kita sudah sampai," kata Anah sambil merapikan jilbab.
Namlok mengangguk. Wajahnya tampak agak tegang, Hakim juga, Mereka bertatapan, seolah menyimpan segala rahasia. Sedangkan Siti Aisyah melonjak-lonjak gembira karena akan melihat laut! Sejak dari Bangkok, Hakim memang menjanjikan pada Aisyah, bahwa rumahnya nanti di tepi pantai. Aisyah bisa bermain pasir dan ombak sepuasnya!
Mereka beriringan menyusuri lorong belalai, meninggalkan perut pesawat. Kini mereka dihadapkan pada realitas yang lain, yaitu keluarga di Cilegon. Terutama Bashir!
“Ini Indonesia?" tanya Siti Aisyah lugu, ketika sudah berada di jalan tol Jakarta-Merak.
“Iya, Aisyah. Sama saja kan?" Hakim membelai buah hatinya. “Satu jam lagi, kamu akan berada di rumah."
“Mana pantainya, Pa? Katanya rumah Aisyah dekat pantai?"
“Iya. Nanti kamu bisa sepuas-puasnya mandi di laut. Bermain ombak dan pasir," Hakim merasa bahagia.
“Jadi, Aisyah boleh main pasir?"
“Boleh."
“Kata Mama, Asyah tidak boleh main kotor-kotoran," Aisyah melirik mamanya.
“Kalau main pasir di laut, boleh,” Namlok mencubit pipinya.
Oh, betapa mesranya percakapan ayah, ibu, dan anak itu. Telinga dan benak Siti Nurkhasanah merekam semuanya. Getaran-getaran suara mereka mengusik perasaannya sebagai seorang wanita. Pantaskah aku merusak kebahagian mereka? Bagaimana nanti sikapnya terhadap Bashir?
Sepanjang perjalanan, Siti Aisyah menyeracau terus seperti anak ayam yang menemukan banyak makanan. Seperti anak burung merpati yang melihat indahnya angkasa. Seperti anak kecil yang baru bisa berjalan. Anah hanya diam membisu seperti juga sopir taksi di sebelahnya, yang hanya berkonsentrasi pada stir dan jalanan di depannya.
Sementara itu di rumah sakit, di sebuah kamar paviliun, Bashir tergugu di depan tubuh Diana. Wajah Diana terkena pecahan kaca mobil. Persis di pipi kirinya. Luka itu melintang dari kelopak matanya sampai ke rahangnya. Beberapa tulang rusuknya ada yang patah. Dari mulai dada ke pinggangnya digip!
Diana menangisi kejadian tragis yang menimpanya, ketika Bashir datang menjenguknya. "Karir modelku hancur hingga di sini, Bashir," Diana meratapi nasibnya.
"Kamu bisa operasi platik, Diana," Bashir menghiburnya.
"Itu lain! Para agency pasti akan menolakku! Kontrak-kontrakku pasti akan dibatalkan!"
"Kenapa kamu selalu memikirkan hal-hal duniawi seperti itu?"
"Ini karirku! Masa depanku!" Diana marah, tapi kemudian merintih kesakitan sambil meraba-raba perban di pipinya.
"Kata dokter, kamu jangan banyak bicara dulu. Nanti jahitannya terbuka lagi," Bashir memperingatkan.
"Ini semua karena kesalahan kamu! Meninggalkan aku sendirian! " Diana dengan jengkel menyalahkan Bashir.
"Kalau kamu menganggapnya begitu, maafkan aku," Bashir menggenggam erat lengannya.
"Kalau saja kamu menerima tawaranku untuk tidur bersamaku di apartemenku, ceritanya nggak akan seperti ini!”
"Astaghfirullah, Diana! Kenapa kamu sebodoh itu? Harusnya kamu merasa bersyukur karena masih diberi umur panjang oleh Tuhan!”
"Ah, persetan dengan Tuhan!"
"Diana! Aku tidak peduli kamu beragama apa! Tapi, sebaiknya kamu jangan pernah sekalipun memaki Tuhan! Terserah Tuhan yang kamu percayai itu seperti apa!"
"Aku tidak punya agama! Peduli apa dengan agama! Peduli apa dengan Tuhan! Buktinya, sekarang aku berada di sini! Apakah ini atas kehendak Tuhan? Apakah ini cobaan buatku? Lantas aku harus menerimanya?" nada bicara Diana terdengar sinis. "Aduuuh,” Diana merasakan sakit lagi di wajahnya. Bahkan juga di rusuknya.
"Kamu memang bebal! " Bashir merasa gusar.
"Mereka hendak membunuhku, Bashir!" Diana masih mengaduh dan mencoba membetulkan posisi berbaringnya.
"Mereka mau membunuh kamu?" Bashir tidak percaya.
"Huh! Jangan harap mereka akan ongkang-ongkang kaki setelah aku sembuh!" Diana menangis menahan rasa sakit di rusuknya.
"Sudah, Diana, sudah," Bashir mengusap keningnya. "Lebih baik kamu istirahat saja. Pulihkan kondisi kamu. Setelah sembuh, kita cari mereka. Kamu tentu masih ingat wajah mereka kan?"
Diana mengangguk. Kali ini nada bicaranya pelan, "Aku nggak akan pernah bisa melupakan wajah mereka, Bashir. Mereka dengan sengaja menghalang-halangi laju mobilku. Mereka ingin melihat aku mati dihantam truk itu!" ceritanya sambil terisak-isak.
Bashir merasa dirinya makin bersalah. Hatinya bertanya-tanya, apakah ini ada kaitannya dengan kejadian di kafe itu, ketika dia mengusir Tuan Marabunta?
Episode 38
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Berkacalah pada ilalang di sepanjang jalan
Selalu merunduk jika angin menerpa
Tapi tak pernah tumbang
Akarnya yang tipis mampu merengkuh
Karena dia bersahabat dengan siapa saja
Itulah makna dari anugerah-Nya!
Siti Aisyah langsung minta diturunkan dari gendongan begitu sampai di rumah impiannya. Dia berlarian di halaman yang luas. Rumput yang hijau menjadikan telapak kakinya yang mungil menari-nari. Pohon kelapa meliuk-liukkan batangnya, seolah menyambut kedatangannya. Baginya ini ibarat surga. Selama ini hidupnya hanya di lobi apartemen dan lorong-lorongnya yang pengap dan sumpek!
"Papa! Aisyah suka rumahnya!" Namlok berteriak kegirangan.
Hakim mengejar putri impiannya.
"Papa! Main pasir, yuk!" ajaknya.
Hakim langsung menggendongnya. "Nanti saja, Aisyah! Sekarang, kita istirahat!" katanya sambil membawa Aisyah ke dalam rumah.
Rumah idaman, rumah yang menantikan suara tawa dan tangis anak kecil. Rumah impian, rumah yang mendambakan ketakwaan para penghuninya pada Sang Maha Pencipta!
Namlok tertegun. Di hadapannya sebuah rumah menghadap ke laut lepas. Berhalaman luas, dengan rumput hijau dan pohon kelapa! Siti Nurkhasanah membimbingnya untuk masuk. Namlok merasakan kedua kakinya gemetar. Angin pantai menerpa tubuhnya. Ujung jilbabnya berkibar.
"Subhanallah! Indah sekali!" puji Namlok dengan rasa syukur.
"Sebetulnya ini rumah peristirahatan. Sejak menikah, kami belum pernah tinggal di sini. Tapi, kami tinggal di rumah Bapak di Cilegon. Di sana juga indah. Di halaman belakang rumah, ada kolam dan mushala," Anah menjelaskan.
"Oh, ya?" Namlok makin kagum. "Jadi, masih ada rumah yang lain? Subhanallah!" dia merasa bersyukur atas karunia Allah ini.
"Rumah ini akan jadi tempat tinggal kita, Hakim, kamu, Aisyah, dan aku," Anah menegaskan.
Namlok menatapnya antara heran, tidak percaya, dan kagum. "Rumah kita? Kita akan tinggal serumah?" tanyanya.
"Iya! Kenapa? Kamu keberatan?" Anah tersenyum.
Namlok menggeleng. "Tapi ..., apakah mungkin?" dia merasa ragu.
"Mungkin saja!"
"Suami kita merencanakan seperti itu?"
"Itu keinginanku."
"Berarti Hakim bisa saja punya rencana lain!"
"Bisa saja!"
Kedua wanita berjilbab itu temyata tidak masuk ke dalam rumah, tapi malah terus berjalan ke pantai. Di bawah pohon kelapa, ada saung atau gazebo dari kayu dan beratapkan daun kelapa! Mereka duduk di sana sambil melihat ke langit barat. Sebentar lagi senja akan tiba.
"Mama!" terdengar suara Siti Aisyah dari teras rumah.
Namlok menengok dan melambaikan tangannya.
"Kalian tidak masuk?" kali ini Hakim yang berteriak.
Dengan kibasan tangan Anah saja, Hakim sudah mengerti kalau kedua istrinya ingin menikmati suasana pantai.
"Aisyah mau ke Mama!" anak kecil yang cantik itu meronta-ronta. "Aisyah mau main pasir!"
"Aisyah," Hakim mencoba menjelaskan. "Mamamu sama Tante Anah mau bicara. Penting!"
"Jadi, Aisyah tidak boleh mendengar?"
"Belum boleh."
"Kalau sudah besar?"
"Kalau Aisyah sudah besar, tentu boleh."
"Aisyah tidak punya teman "
"Kan ada Papa," Hakim menggendongnya dan menariknya masuk ke dalam rumah.
Aisyah menangis. "Mama!" katanya bersedih.
"Setelah mandi, Aisyah boleh main pasir!" Hakim menghibur.
Mata Aisyah langsung bersinar. "Aisyah boleh main pasir?” tanyanya gembira.
"Asal Aisyah mandi dulu!”
"Aisyah mau mandi!” anak kecil yang cantik ini melonjak-lonjak.
Ayah dan anak itu masuk ke dalam rumah. Adegan satu babak itu menjadi perhatian Anah dan Namlok. Mereka saling tatap dan berusaha saling menebak isi pikiran masing-masing.
"Hampir empat tahun Aisyah menanyakan terus tentang ayahnya." Namlok merasa dadanya bergejolak. Andai saja tidak ada Anah di sampingnya, dia pasti sudah menangis.
"Kamu wanita yang sabar, Namlok. Selama empat tahun menunggu kesempatan ini tiba." Anah memujinya dengan tulus.
"Tapi, sungguh, bukan bermaksud menyalahkan kamu, ada rasa kecewa yang mengganjal di hati saya. Kenapa Hakim membohongi saya,” Namlok berterus terang.
"Suami kita hanya manusia biasa. Namlok. Dia anak yang sangat patuh pada ayahnya.”
Namlok mengangguk-angguk. "Tapi, aku tidak pernah bisa membayangkan. Bagaimana kehidupan kita setelah hari ini. Tinggal serumah pula. Bagaimana nanti dengan tanggapan masyarakat? Yang aku tahu, ayah Hakim adalah orang terpandang di kota ini,” suara Namlok terhenti sampai di sini karena terdengar suara mobil datang.
Anah dan Namlok menoleh. Tampak oleh mereka seorang lelaki berambut gondrong melompat turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah sambil marah-marah.
"Hakim!" teriak lelaki gondrong itu penuh amarah. "Keluar kamu, Hakim! " panggilnya sambil menendang pintu.
Namlok bangkit dan merasa cemas. "Siapa dial" Namlok bergegas menuju rumah.
"Bashir! Adik Hakim!" Anah mengejar Namlok.
Ketika mereka sampai di depan rumah, saat itu juga Hakim terpental keluar. Bashir mengejar dan menghajarnya lagi! Siti Aisyah berlari keluar rumah. Dia menangis. Anah dan Namlok hanya bisa menjerit ketakutan!
Episode 39
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Qabil dan Habil adalah perilaku
Dari sanalah kita belajar hidup
Tentang arti baik dan benar
Apa itu darah dan nyawa
Syukurilah kehidupan karunia-Nya!

“Bashir! Dengar dulu!" Hakim hendak menjelaskan.
Tapi Bashir sudah mata gelap. Setan sudah merasuki hati dan pikirannya! Dia menerjang kakaknya dengan kesetanan. Lidah api neraka sudah menjilat kakinya! Sebentar lagi dia akan terjerumus masuk ke jurang neraka!
Hakim tersungkur ke tanah sambil memegangi dada kirinya. Dia tidak berdaya terhadap serangan adiknya yang penuh kemarahan.
"Kakak sudah membohongi Bashir! Membohongi Bapak!" Bashir berusaha terus menghajar kakaknya.
Hakim tergeletak tak berdaya!
Bashir akan menyerang lagi. Tapi, kedua kakinya terhambat peganan tangan Siti Aisyah.
"Please, jangan sakiti Papa!" Siti Aisyah terisak-isak.
Bashir menengok dan merasa bergetar hatinya melihat keponakannya yang cantik mengiba. Dia tidak mampu meneruskan kemarahan terhadap kakaknya, yang dilihatnya tidak bergerak di tanah. Dia hanya berdiri mematung. Apa yang terjadi denganku, ya Rabbi?
"Bashir!" Anah menegur dengan keras. "Istighfar kamu!"
Bashir makin bergetar. Anak kecil ini masih menangis sambil memegangi kedua kakinya. Dia melihat Anah yang menatapnya dengan perasaan menikam! Tiba-tiba dia merasa ketakutan! Merasa seperti seorang terdakwa yang menunggu vonis hukuman mati! Ya, Allah! Kenapa aku dirasuki setan seperti ini?
"Lihat, Bashir!" Anah menunjuk ke Hakim, yang tergeletak di tanah. "Itu akibat ulahmu yang biadab! Istighfar kamu!"
Bashir merasa kedua lututnya bergetar. Dia beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas segala kekhilafan yang telah diperbuatnya! Tapi iblis laknat sudah terlanjur berjingkrak-jingkrak karena berhasil menyeret Bashir untuk berbuat dosa!
Namlok menangis memeluk suaminya. "Hakim, wake up!!!" Dia mengguncang-guncang tubuh suaminya.
Siti Aisyah melepaskan pegangannya pada kedua kaki Bashir. Dia berlari sambil menangis dan menubruk tubuh papanya. "Papa!" pekiknya. "Bangun, Pa!" dia membangunkan ayahnya, yang tampak tertidur pulas baginya.
Bashir terkesiap.
"Om jahat! Om nakal!" Siti Aisyah menatapnya dengan marah. Sorot mata anak kecil itu sangat menikam hati!
Bashir tidak menunggu lama lagi untuk berlari mendapatkan kakaknya. Dia merasa dirinya orang terbodoh dan tertolol! Patut dijebloskan ke neraka! Terlalu mengikuti bisikan setan jahanam. Terlalu mengikuti emosinya! Kini korbannya adalah kakaknya sendiri! Betapa terkutuknya aku! Semua yang aku sentuh menjadi malapetaka!
Oh, kenapa aku tidak mengikuti saran Pak Hasan tadi! Bashir menyesali terus kebodohannya. Ketika di rumah sakit menunggui Diana tadi, Pak Hasan mengabarkan lewat telepon, kalau Hakim sudah pulang dan berada di rumah peristirahatannya di tepi pantai. Saat itu Pak Hasan menyarankan agar Bashir jangan langsung menemui Hakim! Sebaiknya menunggu sampai besok. Biarkan mereka istirahat!
Tapi, yang ada di benaknya saat itu hanya ingin menghajar kakaknya, karena Bashir merasa otaknya betul-betul sedang tidak bisa diajak untuk berpikir! Darah di tubuhnya dirasakannya sangat mendidih! Terlalu banyak persoalan yang datang silih berganti! Persoalan siapa dalang di balik kematian ayahnya belum selesai, tiba-tiba muncul misteri kakaknya yang sudah menikahi Namlok dan mempunyai seorang anak pula! Kemudian Diana, yang kini terbaring di rumah sakit dalam keadaan mengenaskan! Dari mulut Diana meluncur pengakuan, ada orang yang ingin membunuhnya! Dia merasa peristiwa kecelakaan yang terjadi pada Diana juga ada kaitannya dengan Tuan Marabunta!
Kemudian Hakim datang dari bulan madunya, yang ternyata hanya akal busuknya saja untuk membawa Anah kepada Namlok Sarachipat dan Siti Aisyah! Hal ini dianggapnya sebagai tempat yang tepat untuk melampiaskan segala kemarahannya! Tapi sungguh, dia tidak menyangka kalau semuanya akan seperti ini. Hakim tergeletak tak berdaya! Tadinya, dia hanya ingin memberi pelajaran saja pada kakaknya. Tapi, setan malah makin dalam menyeretnya ke lubang neraka jahanam! Persoalannya bukan berkurang, malah makin menumpuk!
Bashir tiba-tiba disergap perasaan bersalah! Dia juga merasa takut, ketika mendapati tubuh kakaknya tidak bergerak. "Kak! Kakak! " dia memeriksa seluruh tubuh kakaknya. "Bangun, Kak! " harapnya sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya.
"Papa!" Aisyah histeris. "Mama! Kenapa, Papa?" tanyanya, "Kok, tidak bangun-bangun?! Papa tidur kok di tanah, Ma!"
Namlok menatap tajam pada Bashir, seolah meminta penjelasan dengan apa yang sudah diperbuat pada suaminya.
"Maafkan aku," Bashir terisak sambil membopong tubuh kakaknya ke mobilnya. Dia tidak sanggup untuk menatap Anah, Namlok, dan anak kecil itu yang masih saja memukuli tubuhnya!
"Om jahat! Om nakal! Aisyah benci sama Om!" anak kecil itu masih saja menangis dan marah pada Bashir.
Namlok hanya berdiri bagai dipasak di perut bumi! Dia tidak bisa memahami peristiwa ini. Dia tampak shock! Dia hanya diam saja. Mulutnya terkunci. Hatinya disayat sembilu, begitu perih!
Sedangkan Anah meraih Aisyah dan memangkunya. Dia tampak masih bisa berpikir waras, walaupun hatinya juga berguncang hebat. "Cepat, Bashir! Bawa kakakmu ke rumah sakit! Dia terkena serangan jantung!"
Saat itu sebuah mobil masuk. Pak Hasan langsung keluar dari mobil dan menghampiri mereka. Dia juga terkejut dan tanpa banyak bicara memegangi tubuh Hakim sambil memberikan kunci mobilnya pada Anah!
"Mang Japra, ikut!" teriak Bashir pada penunggu rumah peristirahatan itu.
Lelaki yang mirip jawara itu juga naik ke mobil Bashir tanpa banyak bicara.
"Kalian tunggu di sini saja!" kata Pak Hasan pada Anah. Dia masih sempat mengangguk dan tersenyum penuh haru pada Namlok dan Siti Aisyah.
Bashir langsung memacu mobilnya! Jantungnya berdetak kencang! Seribu anak panah seolah mengepungnya! Setan jahanam kini tertawa-tawa di depannya karena dia sudah mengikuti keinginannya untuk terjun ke dalam neraka jahanam!
Episode 40
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Rahasia di balik langit tak terpikirkan
Tentang mati, rezeki, dan jodoh
Tak usah ragu tak usah bimbang
Pada-Nyalah kita mohon ampunan
Bashir menangis histeris di tubuh kakaknya, yang terbaring di brankar. Allah ternyata punya kehendak lain! Hakim telah dipanggil pulang ke sisi-Nya! Innalillahi. Dari asal kembali ke asal. Para dokter di ruang gawat darurat tidak bisa menyelamatkan kakaknya! Mereka mundur dan membiarkan Bashir menangisi mayat kakaknya. Buat mereka, kematian adalah hal biasa. Tak ada yang aneh. Tapi bagi Bashir, kematian Hakim ini terlalu cepat dan sangat memukul hatinya!
"Kak," ratap Bashir. "Aku berdosa padamu, Hakim ...aku berdosa. Berdosa."
Pak Hasan dan Mang Japra meneteskan air mata. Mereka merasa sedih dengan kepergian Hakim. Juga merasa prihatin dan simpati dengan penderitaan yang dialami Bashir. Betapa bertubi-tubi cobaan dari Allah menimpa pada Bashir! Hikmah apa nanti yang akan diterima Bashir! Rahasia apa yang tersembunyi di balik semua cobaan Allah ini! Pak Hasan dan Mang Japra, hanya bisa mendoakan keselamatan bagi Bashir! Kehidupan selanjutnya jelas terletak pada yang ditinggal mati, yang masih hidup! Bukan pada Hakim, yang sudah tenang terbaring di sisi-Nya!
"Kak ...," Bashir meratapi nasibnya. "Kenapa semua ini harus terjadi? Kenapa Kakak tidak memberi kesempatan padaku untuk meminta maaf? Kenapa Kakak secepat itu pergi menyusul Bapak dan Emak? Kenapa Kakak membiarkan aku di sini? Bagaimana dengan perusahaan? Bagaimana dengan Anah, Namlok, dan Siti Aisyah? Apa yang harus aku lakukan? Ini terlalu berat buatku.”
Pak Hasan mendekati Bashir. Memegangi bahunya. Mencoba menyalurkan kekuatan pada tubuh Bashir. "Kuatkan hatimu, Bashir," kalimat pendek ini tersendat di tenggorokannya.
"Pak Hasan," Bashir berlinang air mata. "Apa salahku, sehingga aku harus kehilangan Hakim?" tanyanya hampa.
"Ini sudah kehendak Allah. Kamu sedang dicoba, Bashir," jawab Pak Hasan.
"Tapi, kenapa harus aku?"
"Karena kamu disayang oleh Allah."
"Kalau Allah sayang padaku, kenapa aku harus mengalami cobaan yang berat ini?" Bashir seolah protes kepada Allah, "Kenapa?"
"Apa itu artinya aku tidak bersalah?" tanyanya.
Pak Hasan menatapnya, "Itu rahasia Allah."
"Tidak, Pak Hasan. Aku tetap bersalah dalam hal ini. Akulah yang menyebabkan Hakim mati!" Bashir meratapi nasibnya. "Lantas apa yang harus aku katakan pada mereka?" Bashir tampak putus asa. Kepalanya seperti direjam berbagai persoalan.Pada saat yang bersamaan, Diana juga di rawat di rumah sakit ini. Betapa masalah tak pernah kunjung selesai?
HP-nya berdering. Dia melihat di monitor. Jantungnya berdegup kencang! Dia menyerahkan HP-nya kepada Pak Hasan. "Dari Anah, Pak! Jawablah!" katanya seraya pergi. "Aku tidak mampu mengatakannya saat ini. Bapak saja. Tolonglah….."
Pak Hasan menerima HP-nya. "Kamu mau ke mana, Bashir?" tanyanya keheranan.
"Aku harus menengok Diana, Pak! Dia juga dirawat di sini! Tabrakan," jawabnya seperti orang linglung.
"Diana kecelakaan?" Pak Hasan kaget. “Innalillahi….”
"Cepat jawab teleponnya, Pak!" Bashir mengingatkan.
Pak Hasan tampak berpikir sejenak. Sedangkan Bashir terus bergegas meninggalkan ruang gawat darurat diiringi pandangan mata Pak Hasan dan Mang Japra!
Bashir sebetulnya hanya ingin menghindar dari tanggung jawab. Dia ingin lari dari kenyataan hidup, yang mencengkramnya bagai kawat berduri! Yang membuat seluruh tubuhnya sakit! Dia merasa takut jika harus bertemu dengan Anah, Namlok, dan Siti Aisyah! Mereka pasti akan menyalahkannya! Akan membencinya! Kenyataannya memang seperti itu! Hakim meninggal terkena serangan jantung karena kecerobohannya!
Bashir terus bergegas menyusuri koridor rumah sakit. Dia panik dan bingung. Pikirannya gelap! Dia tidak tahu kalau Mang Japra mengikutinya! Dia juga tidak sadar kalau dari arah depan, Pak Hari Natadingingrat dan Natalia sedang menujunya.
Bashir menabrak mereka! Dia terhuyung-huyung. Hari Natadiningrat terjengkang. Ketika sadar yang ditabraknya adalah ayah kandung Siti Nurkhasanah, dia makin panik dan takut. Dia berlari keluar dari rumah sakit.
"Bashir!" panggil Pak Hari Natadiningrat.
"Kenapa dial" Natalia merasa heran.
"Jangan-jangan Diana ..., “ Pak Hari merasa cemas.
"Diana, kenapa?" Natalia berlari-lari menuju ruangan paviliun.
"Apakah Diana. ..ah, tidak mungkin," Pak Hari mengikutinya. Dia mendapat kabar dari pihak rumah sakit, Diana mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia hampir saja bertabrakan lagi. dengan Mang Japra, yang berlari mengejar Bashir.
Bashir terus berlari. Dia menuju mobilnya. Dia menendang Mang Japra yang hendak menghalanginya. "Pergi, pergi, Mang! Biarkan aku sendiri!" teriaknya pada Mang Japra, sambil memacu mobilnya.
Mang Japra bangkit dan berusaha mengejar mobil Bashir, tapi sia-sia!
Bashir dengan kesetanan menjalankan mobilnya. Dia menuju Selat Sunda! Dia berterik-teriak di pantai! Dia memprotes Tuhan, kenapa semua cobaan ini ditimpakan padanya seorang? Kenapa dia harus menjadi penyebab segala petaka ini!
Episode 41
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Tanah subur tanah kehidupan
Bersemilah pucuk-pucuk padi
Harumnya sampai ke surgawi
Pertanda kita mendapat ridha-Nya!
Iring-iringan itu berjalan menuju pemakaman umum di Cilegon Selatan. Daun-daun yang berserakan di jalanan beterbangan tersapu kaki-kaki para pengantar. Jenazah yang akan dikuburkan berada di barisan terdepan, diusung beberapa orang yang bekerja di perusahaan milik almarhum Pak Haji Budiman. Di dalam hati mereka terselip pertanyaan, kenapa kematian ini begitu beruntun? Rasanya seperti baru kemarin mengantar jenazah ayahnya! Kini anaknya!
Anah, Namlok, dan Siti Aisyah melepas kepergian jasad orang yang mereka cintai di pagar rumah. Wajah mereka mendung. Namlok menangis histeris dan hendak berlari menyusul suaminya. Untung Anah berhasil memegangi tubuhnya.
"Hakim! Please, jangan tinggalkan aku!" teriak Namlok histeris. "Bagaimana dengan hidup kami nanti!? Bagaimana dengan Aisyah!?" Namlok histeris. Kalau saja Anah tidak kuat memegangi tubuhnya, mungkin Namlok akan ikut masuk ke liang lahat.
"Istighfar, Namlok, istighfar," Anah mengingatkan. "Ini sudah suratan Allah. Kita harus sabar."
Namlok tersedu-sedu. Dia merasa pengorbanannya menunggu suaminya selama empat tahun sia-sia. Semuanya hanya karena ulah si Bashir! Perasaan benci terhadap Bashir membuncah di kepalanya!
"Mama," Siti Aisyah menarik-narik ujung pakaian Namlok. "Kenapa Papa dibungkus kain? Kenapa Papa tidak bangun-bangun?" tanyanya sambil menangis.
Namlok merasa tenggorokannya tersumbat. Bibirnya kelu.
"Papa sedang pergi ke surga, Aisyah," Anah yang menjawab.
"Surga?" Aisyah tertarik. "Kata Mama, surga itu indah. Ada kolam dari susu, apel, anggur, dan angsa…."
"Iya, surga itu indah. Papa untuk sementara tinggal di sana."
"Kasihan Papa, tidak ada temannya," polos sekali suara Aisyah.
Anah merasa matanya hangat. Dia menatap iring-iringan jenazah, yang mengantar kepergian suaminya untuk yang terakhir kali. Tapi, Anah sangat kecewa! Bashir tak ada di dalam iring-iringan itu.
Ternyata Bashir sedang dalam perjalanan pulang dari Selat Sunda. Dia semalaman berada di sana. Semalaman pula dia hanya memprotes Tuhan atas kematian kakaknya. Dia berlari-lari seperti orang gila di pantai! Kadang dia berenang sampai kelelahan. Lalu tergeletak di pasir sambil menatap bintang-bintang di langit!
Ketika azan subuh menggema, ada sesuatu yang masuk ke relung hatinya. Dia sadar kalau apa yang dilakukannya ini salah. Dia sudah jadi lelaki pengecut. Dia sudah meninggalkan tanggung jawab. Apa pun resikonya, dia harus menghadapinya. Kasihan Anah, Namlok, dan Siti Aisyah! Aku harus datang pada mereka untuk meminta maaf! Bukan malah memprotes pada Allah! Bukankah mati itu rahasia Allah!? Bukankah semua akan kembali pada-Nya? Semua sudah ada waktunya. Jika mati datang menjemput, tidak akan ada yang sanggup menolaknya! Semua harus dihadapi!
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Bashir gelisah. Dia merasa khawatir tidak akan bisa melepas kepergian kakaknya untuk yang terakhir kali, seperti ketika dia tidak menghadiri pemakaman ayahnya! Dia juga merasa menyesal karena terlalu mengikuti perasaannya! Dia sadar, kalau ternyata dalam menyikapi kematian kakaknya dengan menyalahkan Allah adalah salah! Seharusnya dia tabah dan tawakal karena ini termasuk cobaan Allah terhadap dirinya. Jika berhasil lepas dari cobaan ini, berarti dia sudah termasuk hamba yang sabar. Begitu janji Allah di dalam Al-Quran.
Bashir memarkir mobilnya di depan rumah. Anah, Namlok, dan Siti Aisyah masih berdiri di pintu pagar. Bashir menguatkan hatinya untuk turun dari mobil. Dia belum berani menatap mereka satu persatu.
"You!" Namlok memburunya! "Kenapa kamu ke sini!" Namlok memukuli tubuh Bashir. "Gara-gara kamu, semua jadi berantakan!!"
Bashir membiarkan tubuhnya dipukuli Namlok. Dia layak menerimanya. Begitu juga ketika Siti Aisyah memukuli kakinya.
"Om kejam! Om nakal! Papa Aisyah tidak bangun-bangun!" cecar Aisyah dengan lugu.
Bashir terpaku. "Maafkan aku," suaranya bergetar.
Hanya Anah yang tidak memberikan reaksi berlebihan. Dia tampaknya berusaha untuk tetap tegar. "Kakakmu baru saja dibawa ke pemakaman. Sebaiknya kamu cepat menyusul ke sana, kalau tidak ingin terlewat seperti pemakaman Bapak dulu," Anah mengingatkan.
Bashir mengangguk. Dia dengan perasaan bersalah meninggalkan mereka menaiki mobil. Dia langsung memacu mobilnya. Sepanjang perjalanan perasaannya makin was-was. Peristiwa tadi seperti sedang menyergapnya. Berjuta kenangan masa kecil bersama kakaknya terbayang lagi. Saat main layangan, mandi di pantai Selat Sunda yang masih asri, saat mengaji di masjid, dan saat di mana mereka sering melewati hari bersama-sama dengan tawa dan canda! Masa-masa indah itu kini terbang sudah! Semua karena kebodohannya yang begitu mudah terbujuk rayuan setan jahanam!
Di pemakaman, Bashir hampir saja tidak bisa ikut mengantarkan kakaknya. Saat itu jenazah kakaknya hendak diturunkan ke liang lahat. Langkahnya pasti dan bergegas menuju pemakaman. Dia melihat orang-orang sedang menurunkan jasad Hakim ke liang lahat.
Lalu Bashir berlari untuk ikut membantu menurunkan jasad kakaknya ke liang lahat. Orang-orang melihatnya! Orang-orang merasa pilu ketika melihat Bashir menurunkan jasad kakaknya dengan air mata terburai!
Episode 42
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Air hujan jatuh ke bumi
Bagi petani itu anugerah ilahi
Tapi sebagian ada yang membenci
Karena kadang jadi bencana
Belajarlah pada rahasia-Nya!
Daun-daun kering pohon Kamboja sudah berguguran ke pusara Hakim. Angin menerbangkannya, sehingga daun-daun itu bergulingan. Para pengantar pun sudah meninggalkan pemakamam. Tinggal tiga perkara saja yang dimiliki Hakim; yaitu anak yang saleh, amal jariyah, dan ilmu yang diamalkan. Semoga dia mendapat tempat di sisi Allah. Amin.
Bashir masih duduk menunduk. Dia seperti seorang pesakitan. Di depannya Anah, Namlok, Siti Aisyah, dan Pak Hasan. Mereka hanyut dalam arus ketegangan yang maha dahsyat. Semua sedang menanti, kepada siapa kesalahan harus ditumpahkan, walaupun pada dasarnya semua merasa kehilangan dengan wafatnya Hakim.
"Aku yang salah," Bashir mengangkat kepalanya. Ditatapnya mereka satu persatu. "Ya, aku yang menyebabkan Hakim meninggalkan kita. Hukumlah aku ...," katanya pasrah. Air matanya sudah kerontang.
"Kamu memang bersalah! Seharusnya aku mengadukan kamu ke polisi karena sudah membunuh suamiku!" hati Namlok masih terbalut emosi.
"Sungguh, aku tidak bermaksud membunuh Hakim. Mana mungkin. Dia kakakku. Aku mencintainya, seperti kalian juga mencintainya. Maafkan aku," air matanya menetes. Emosinya menggelegak-gelegak.
Namlok menatap Bashir. Ada perasaan tidak tega terhadap adik iparnya ini. Dia hanya bisa menumpahkannya lewat tangisan. "Kenapa kamu sampai sebodoh ini, Bashir….."
Anah dan Pak Hasan saling pandang. Mereka bisa memahami perasaan Namlok, yang dengan sabar menunggu kedatangan Hakim untuk menjemput dan membawanya ke Cilegon, memperkenalkan dirinya kepada Bashir, serta almarhum ayah Hakim! Tapi, semuanya musnah karena ulah Bashir yang bodoh!
"Empat tahun aku menunggu kakakmu datang, untuk mengenalkan aku dan Siti Aisyah kepada kalian. Tapi, sesampainya di sini, aku malah harus kehilangan dia," Namlok menangis. "Itu semua karena kebodohan kamu, Bashir ...," tambahnya sedih sambil memeluk Siti Aisyah.
"Kita semua kehilangan Hakim," nada Anah seperti menegaskan.
"Ya, kita semua," kali ini Pak Hasan menimpali.
"Tapi, rasa kehilangan kalian tidak separah aku. Kalian setiap hari bersama Hakim. Tapi, aku dan Aisyah selama empat tahun bermimpi supaya bisa bersama-sama, hidup dalam kebahagiaan. Kami tidak tahu kapan hal itu akan terjadi. Sekarang…., semuanya musnah….”
"Ini cobaan buat kamu, juga buat aku," Anah mengingatkan. "Insya Allah, ada hikmah di balik kejadian ini. Begitulah memang kehendak Allah."
"Hikmah apa yang akan aku dapat?" Namlok merasa tidak yakin.
"Itu rahasia Allah," jawab Anah.
"Insya Allah, hikmah itu pasti ada," Pak Hasan menambahkan dengan yakin. "Yang terpenting, kamu harus bisa mengatasi cobaan ini. Sabar dan tawakal. Insya Allah, kamu akan mendapatkan kebahagiaan."
"Sekarang, apa yang harus aku lakukan?" Namlok sangat putus asa.
"Kak ..., aku sangat senang jika Kakak dan Aisyah tinggal bersamaku di sini. Kita bisa sama-sama meneruskan perusahaan. Kalian adalah saudaraku," Bashir sangat serius. "Kalian adalah tanggung jawabku."
"Lebih baik aku pulang ke Bangkok. Terlalu banyak kesedihan yang aku dapatkan di sini," Namlok mengambil keputusan.
"Sebaiknya Kakak tinggal di sini. Kakak juga punya hak atas segala kekayaan atau warisan milik Hakim. Bicarakanlah dengan Anah."
"Tidak," Namlok tidak bergeming.
"Mama? Kita pulang ke Bangkok?" Aisyah tersedu-sedu.
"Iya, sayang. Kita pulang ...," Namlok mengusap air mata anaknya.
"Sebaiknya jangan tergesa-gesa mengambil keputusan, Namlok. Istirahatlah dulu di sini. Anggap saja kalian sedang cuti," Anah menyarankan.
"Tidak," Namlok tetap pada pendiriannya, "Sudah tidak ada yang bisa diharapkan lagi di sini. Semakin cepat meninggalkan kota ini, semakin cepat pula proses penyembuhan lukaku ini. Terutama bagi Aisyah," Namlok menatap Bashir. "Berdoalah, Bashir, semoga Aisyah tidak membencimu selamanya."
Bashir hanya bisa pasrah mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan Namlok. Memang betul. Ketika Bashir memberanikan diri menatap Aisyah, tampak sorot mata kebencian terpancar jelas dari bola mata anak kecil itu. Bahkan masih terbayang di bola matanya peristiwa pemukulan terhadap ayahnya oleh dirinya!
Episode 43
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Bintang dan bulan adalah penerang hati
Walau kecil, cahaya bintang miliknya sendiri
Sedangkan bulan, meminjam dari matahari
Tapi semua benderang dalam sanubari
Itulah nikmat dari karunia-Nya!
Bashir tidak ingin tersiksa lama-lama. Juga tidak ingin tatapan Aisyah membelenggu jiwanya sepanjang masa. Dengan kepasrahan yang tulus, dia mendekati Aisyah, yang langsung meronta-ronta minta diturunkan dari gendongan Pak Hasan. Bashir tergoncang lagi jiwanya, tapi dia sudah bertekad ingin menyelesaikan masalah dengan keponakannya ini.
"Aisyah, Om minta maaf, ya ...," Bashir menyeisali perbuatannya.
"Pergi- pergi!" Aisyah mengusirnya.
"Om memang salah, Aisyah. Om sedang khilaf," Bashir bermaksud mengusap rambutnya. "Maafkan Om, ya….”
Aisyah bereaksi. "Om jangan dekat-dekat Aisyah! Jangan!" Aisyah histeris dan menangis, "Om jahat! Aisyah benci sama Om!"
Bashir mencoba sabar dan tawakal. Dicobanya untuk memangku Aisyah, tapi anak kecil itu melawan. Bahkan menendang. Bashir mundur dan menatap Anah untuk minta dukungan.
"Jangan dipaksakan," saran Anah. "Semuanya butuh waktu. Juga butuh kesabaran. Dan mintalah petunjuk kepada Allah…."
Kali ini Bashir menatap Anah, meminta saran. Namlok merasa iba pada adik iparnya ini. Dia bangkit. "Aisyah," Namlok mendekati anaknya. "Ingat pesan Mama, tidak?"
Aisyah menatap mamanya. Dia seperti bingung harus menjawab apa.
"Kita tidak boleh memelihara rasa dendam pada seseorang. Walaupun orang itu menyakiti hati kita. Itu dilarang oleh Allah. Kita justru harus memaafkan orang yang meminta maaf pada kita," Namlok mengusap rambut Aisyah dan memangkunya.
Aisyah menangis dan memeluk erat-erat mamanya. Tapi, dia tidak menanggapi pernyataan mamanya. Justru dia masih menatap Bashir dengan perasaan benci. Sukar sekali untuk menghilangkan perasaan benci itu!
Ya, Allah! Berilah hamba-Mu ini petunjuk! Bashir berdoa. Dia merasa serba salah dengan tatapan mata Aisyah. Dia berada pada puncak persoalan, yang belum pernah dialaminya. Lebih mudah baginya dilemparkan ke medan peperangan untuk membuat suatu laporan, daripada harus menghadapi anak kecil yang masih suci seperti Aisyah! Ya Allah, kini aku sudah merusak kesucian masa depan Aisyah dengan membunuh ayahnya!
Tiba.tiba, "Assalamu'alaikum," terdengar suara salam.
Semua orang melihat ke pintu depan. Ketegangan pun mencair ketika Pak Hari Natadiningrat dan Natalia muncul. Kehadiran mereka mengalihkan suasana. Setidak.tidaknya menjadi dewa penyelamat bagi Bashir.
"Saya baru tahu dari orang.orang di rumah sakit, kalau Hakim meninggal dunia," Pak Hari mendekati Anah. Lalu dia memeluknya. "Tabahkan hati kamu, Anah. Allah sedang menguji kamu."
"Kenapa kebahagiaan begitu cepat berlalu pada diri Anah, Pak?" Anah menangis.
"Begitulah, orang baik selalu cepat dipanggil Allah."
Anah merasa pedih mendengarnya.
"Maafkan kami, tidak hadir di pemakaman," Pak Hari meminta maaf sambil melepaskan pelukannya serta mendorong Anah kepada Natalia.
Anah dengan ragu-ragu berjalan mendekati Natalia, ibu kandungnya sendiri. Tapi, ada kekuatan yang entah datang dari mana, yang mengharuskannya untuk datang pada ibu kandungnya. Kenyataan pahit, bahwa mereka pernah membuang dirinya di stasiun kereta api ketika dirinya masih bayi, harus dibuangnya jauh-jauh! Allah Maha Pemurah! Kenapa dirinya tidak? Tak terasa, dia kini sudah berdiri di depan Natalia.
“Anah, kemarilah," Natalia memeluknya. "Sabar ya, Nak," Natalia terisak. "Kita semua memang sedang dicoba. Ini mungkin akibat dosa-dosa yang pemah Mama lakukan ketika muda. Termasuk kecelakaan yang menimpa Diana."
"Diana? Kecelakaan?" Anah kaget dan melihat Bashir.
"Diana dirawat di rumah sakit sini. Kamu tidak tahu? Bashir tidak cerita?" Natalia juga menatap Bashir.
"Maafkan aku, Anah. Aku belum sempat cerita tentang Diana," Bashir minta dimaklumi.
"Ya, kami semua maklum dengan kondisi Nak Bashir," Pak Hari tersenyum. "Kepergian Hakim, setidak-tidaknya sangat menyita perhatian kalian semua."
"Mama dan papamu sampai-sampai mengundurkan hari pernikahan," Natalia tersenyum pada Pak Hari Natadiningrat.
"Harusnya kan Minggu besok," Pak Hari memberitahu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana bulan madunya di Malaysia?" Natalia tersenyum. "Pasti seru, dong!"
Anah terdiam. Andai saja semua orang tahu, bahwa sebetulnya dirinya masih suci. Bahwa Hakim sekalipun tidak pernah menyentuhnya! Apalagi menggaulinya seperti layaknya suami-istri.
"Kenapa, Anah?" Natalia heran.
"Kamu seperti menyembunyikan sesuatu! " kali ini Pak Hari yang heran.
Anah masih diam. Dia berjalan dan duduk di sebelah Namlok. Pak Hari dan Natalia baru sadar, kalau di ruangan ini ada dua orang yang belum dikenalnya. Seorang wanita berjilbab dan anak kecil yang berada dipangkuannya!
Anah dan Bashir saling tatap. Mereka seperti berlomba untuk memutuskan, bagaimana cara terbaik menjelaskan tentang siapa Namlok dan Aisyah kepada mereka. Apakah harus menutupi atau membeberkan apa adanya?
"Saya Namlok Sarachipat dan ini Siti Aisyah, anak saya,” tanpa diduga, Namlok bicara.
"Kalian ...,” Pak hari bingung harus mengatakan apa.
"Hakim adalah suami saya,” Namlok mengakui keberadaannya. "Kami menikah empat tahun lalu di Mesir,” cerita Namlok.
Pak Hari dan Natalia saling tatap. Mereka seperti mendengar bunyi halilintar di siang bolong. Mereka merasa, Anah sedang berada di bibir jurang kehancuran. Dalam hati dia terus berdoa.
Episode 44
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Bashir Melamar Anah Sedangkan Dicky Bebas
Hujan deras di siang hari
Tuhan mengubahnya jadi pelangi
Seekor ulat menjadi kepompong
Tuhan mengubahnya jadi kupu-kupu
Sementara kita tak pemah menghargai
Bahwa keindahan itu berasal dari-Nya!
Empat bulan sepuluh hari telah lewat….
Hidup terus bergulir, bermetamorfosa seperti ulat menjadi kupu-kupu, telur menjadi anak ayam, daun yang segar lantas kering berguguran, mata air mengalir ke sungai terus menuju muara, roda pedati yang berputar seiring ringkik kuda, serta karang yang makin terkikis ombak lautan! Manusia pun begitu dengan segala rencananya, tapi Allah jualah yang berkehendak.
Seperti halnya kehidupan Namlok dan Siti Aisyah, yang sudah sangat begitu bahagia berkumpul bersama Hakim. Tapi, kenyataan pahit harus mereka terima, Hakim dipanggil ke rumah Allah! Mereka kini sudah kembali ke Bangkok dengan hati terluka. Terutama Siti Aisyah, karena di depan matanyalah ayahnya meregang nyawa.Namlok masih berusaha untuk bisa memaafkan keteledoran Bashir. Anah sendiri sudah mengikhlaskan kematian suaminya, yang dirasakannya sangat tiba-tiba. Mau apa lagi? Soal mati, rezeki, dan jodoh itu urusan Allah!
Kepergian Namlok dan Siti Aisyah memang terkesan terburu-buru. Itu pun persis dengan kedatangannya bersama Hakim ke Cilegon. Bashir sebetulnya masih berusaha menahan kepulangan mereka. Dia sangat menginginkan mereka tinggal di sini untuk mengurus perusahaan warisan keluarganya. Tapi, Namlok tetap bersikukuh. Akhirnya, Bashir tidak bisa menghalangi niat Namlok untuk kembali ke Bangkok bersama Siti Aisyah. Dia memutuskan, warisan Hakim akan dibagi dua dengan Namlok dan Anah. Ternyata Namlok memilih, perusahaan warisan keluarga ini terus dijalankan oleh Bashir dan Anah. Jika ada keuntungan dari perusahaan, Namlok berharap Bashir akan langsung mendepositokannya untuk bekal Siti Aisyah nanti. Sedangkan untuk biaya keseharian mereka di Bangkok, Namlok masih bisa mengandalkan dari gajinya sebagai pegawai KBRI di Bangkok.
Hidup Diana juga berubah total! Dia masih di Amerika dalam rangka penyembuhan luka parutnya yang melintang dari mulai kelopak matanya sampai ke rahangnya! Beberapa kali Diana melakukan operasi plastik, tapi masih saja dirasakannya belum sempurna! Luka jahitan yang melintang di pipinya memang menghancurkan karir modelnya! Beberapa kontraknya dengan produk kecantikan dibatalkan!
Sedangkan Pak Hari Natadiningrat dan Natalia sesekali pernah menemani Diana ke Amerika sekalian berbulan madu. Mereka menikah di masjid Sunda Kelapa, tanpa dihadiri Anah, Diana, dan Bashir! Suasananya memang sedang tidak mendukung saat itu. Sekarang mereka kerjanya hanya keliling dunia menikmati sisa hidup! Bahkan bulan kemarin, mereka mengirim kartu pos dari Makkah! Mereka menulis di kartu pos itu, mereka sedang dalam rangka menyusuri jejak rasul!
Dan Siti Nurkhasanah sedang menghabiskan masa iddah-nya di rumah peristirahatan Hakim di pinggir pantai. Hari-hari berkabung bagi suaminya terlewati sudah.
Terbukti malam ini, Bashir mengunjunginya dan mengutarakan isi hatinya. "Kemarin, surat pengunduran diriku sebagai wartawan sudah disetujui perusahaan. Mulai hari ini aku sudah bisa konsentrasi bekerja secara penuh di sini."
"Alhamdulillah," Anah mengucap puji syukur.
"Apa pun yang akan terjadi, aku akan tetap mempertahankan perusahaan warisan Bapak dan Hakim. Terutama dari cengkraman Tuan Marabunta!"
"Aku yakin, kamu bisa melakukannya. Tapi, tidak sendirian."
"Iya. Aku hanya punya kemauan. Selebihnya, aku mempercayakannya pada Pak Hasan. Beliau lebih banyak tahu tentang perusahaan ketimbang aku. Insya Allah, atas kehendak Allah, semuanya akan kembali lancar."
"Kamu bisa belajar banyak dari Pak Hasan."
"Iya," Bashir menatapnya.
"Aku senang, kamu kembali optimis seperti dulu."
"Itu karena kamu, Anah!" Bashir masih saja menatapnya.
Anah menunduk. Dia tidak berani menatap Bashir lama-lama. Bagaimanapun, perasaan cinta itu masih abadi di hatinya.
"Rencana kamu bagaimana, Anah! Masa iddah-mu selesai hari ini," tiba-tiba Bashir menohoknya dengan pertanyaan ini.
Anah merasa dadanya berdebar-debar.
"Anah!" desak Bashir.
Anah memberanikan diri menatap Bashir. "Apa maksud kamu, Bashir!"
"Tidak baik buat Muslimah yang salehah seperti kamu menjanda," Bashir tampak serius sekali.
"Aku ..., aku ...," Anah merasa gugup. "Mungkin aku akan kembali bekerja sebagai dokter di klinik perusahaan Pak Hari Natadiningrat."
"Beliau adalah ayah kandungmu," Bashir mengingatkan.
"Ya, ya, beliau ayahku. Aku akan kembali bekerja di perusahaan ayahku. Aku yakin, ayahku bisa mengusahakannya," tiba-tiba terlintas di pikirannya tentang profesinya sebagai dokter.
"Kenapa harus di Jakarta?" Bashir keberatan.
"Aku ...," Anah tergugu. Bibirnya langsung kelu.
"Kamu dulu bercita-cita jadi dokter karena ingin membantu orang-orang miskin yang tidak mampu berobat ke dokter kan?" Bashir mengingatkannya. "Kamu kan bisa bikin klinik di Anyer sini? Ingat, Anah, tenaga dan pikiranmu lebih dibutuhkan masyarakat di sepanjang Selat Sunda ini ketimbang di Jakarta!"
"Bagaimana caranya?" Anah tertarik.
"Kita akan mewujudkannya!"
"Kita?"
"Ya! Aku dan kamu!"
Anah makin tergugu.
"Aku melamarmu, Anah! "
Anah tergoncang jiwanya! Dia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"ku mencintai kamu, Anah! Sejak dulu! Dan kamu tahu itu!"
"Bashir! Aku ini istri kakakmu!"
"Itu sudah lewat, Anah! Masa iddah-mu selesai hari ini! Kamu bisa menikah lagi dengan aku! Kita saling mencintai! Aku tahu, kamu. juga masih mencintaiku! Itu tidak bisa kamu pungkiri, Anah!"
Anah merasa kedua matanya hangat!
Episode 45
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Petani membajak sawah dengan ikhlas
Keringatnya adalah doa-doa pada Allah
Ditaburkannya benih di tanah yang subur
Hujan menyiraminya dengan tulus
Tumbuh, berbunga, dan berbuahlah
Insya Allah, rezeki akan datang!
Air mata itu jatuh perlahan menelusuri pipi Siti Nurkhasanah. Entah apa yang ada di hatinya. Bahagiakah? Sedihkah? Ya Allah! Inikah takdir-Mu padaku? Kau berikan aku kebahagiaan dengan menjadi istri Bashir? Sampai hari ini, Hakim belum pernah menyentuhku seperti layaknya seorang suami terhadap istrinya. Bahkan ketika berbulan madu pun, Hakim secara tegas mengatakan tidak mencintai dirinya. Dia menikahi dirinya semata-mata hanya tidak ingin melihat ayahnya menderita ketika digenggam sakaratul maut!
Sekarang Bashir datang melamar padanya! Ya, Allah! Biarkanlah aku jadi milik-Mu, di mana segala yang terjadi padaku adalah atas kehendak-Mu! Biarkanlah aku jadi hamba-Mu, yang menuruti segala perintah-Mu! Peluklah aku dengan cahaya agung-Mu! Berilah aku petunjuk-Mu! Aku pasrahkan semuanya pada-Mu! Begitu Anah memohon petunjuk Allah!
Anah masih tergugu di depan Bashir. Bibirnya seperti dikunci oleh gembok yang besar. Hatinya kacau! Dia sedang mencari-cari pegangan. Dia berzikir untuk menenangkan hatinya, yang bagai dilanda badai tsunami! Memporak-porandakan segala macam organ yang ada di dalam tubuhnya!
"Anah? Bagaimana? Apakah kamu menerima lamaranku?" Bashir terus mendesak.
"Aku tidak tahu, Bashir," Anah terisak.
"Kamu tidak mencintaiku?"
"Bashir, jangan mendesakku!"
"Aku tidak mendesak! Aku hanya ingin jawaban!"
"Astaghfirullah! Kita tidak boleh melakukan ini, Bashir! Kita masih dalam suasana berkabung!"
"Masa berkabung kita sudah lewat, Anah!"
"Tapi, kita harus memikirkan masyarakat di sini!"
"Mereka dari dulu sudah tahu, bahwa kita saling mencintai. Bahkan sejak kita masih sekolah!"
Anah menangis.
"Kamu masih mencintaiku, Anah?" Bashir mengulangi lagi pertanyaan.
Anah terisak.
"Jawablah!"
"Bashir……"
"Atau aku pergi sekarang juga!"
"Sampai kapan pun aku mencintai kamu, Bashir ...," akhirnya Anah menjawab. "Puas kamu dengan jawabanku?"
"Nah! Tunggu apa lagi?” Bashir memegangi bahu Anah.
Anah menepisnya dan menggeser duduknya. "Sebaiknya kamu pulang, Bashir,” saran Anah. "Sudah malam. Tidak baik buat kita.”
"Aku akan pulang, tapi kamu harus menjawab lamaranku dulu.”
"Beri aku waktu untuk berpikir, Bashir. Tidak semudah itu kita menikah.”
"Apa lagi? Kita saling mencintai, Anah!”
"Cinta saja tidak cukup. Banyak hal yang harus kita pertimbangkan dan kita pikirkan.”
"Aku berniat baik, Anah! Terlepas dari kamu sebagai janda kakakku, aku menikahi kamu dengan landasan ibadah. Aku ingin menebus dosa-dosaku!”
"Kondisinya sudah berbeda, Bashir. Mengertilah.”
"Dengan cinta dan ibadah, kita bisa mengubah kondisi itu lagi pada sedia kala.”
"Insya Allah, Bashir, kalau kita jodoh, pasti kita akan bersama-sama selamanya,” Anah mencoba menenangkan. "Sekarang, pulanglah. Berdoalah kepada Allah. Minta petunjuk-Nya,” tambahnya sambil berjalan ke pintu.
Bashir melangkah ke luar. Bayangan tragis itu berkelebatan lagi! Di teras inilah, dia pernah memukul Hakim hingga terjengkang ke tanah berumput itu! Hatinya terasa pilu.
"Jangan terlalu menyalahkan diri kamu, Bashir," Anah bisa menebak jalan pikiran Bashir. "Kalau ingat peristiwa itu, rasanya aku memang lelaki biadab! Membunuh kakakku sendiri!"
"Kamu tidak membunuh Hakim. Dan kamu bukan lelaki biadab. Hidup memang rahasia Allah."
Bashir mengangguk. "Aku pulang," katanya.
"Iya. Pulanglah," Anah mendekap dadanya. Angin pantai menerpa tubuhnya.
Bashir berjalan dengan gon.tai ke mobilnya. Ketika dia menjalankan mobilnya, dia masih melihat Anah, yang berdiri di teras.
Anah melepas kepergian Bashir dengan hati tak menentu. Perjalanan hidup manusia memang rahasia Allah. Dia sama sekali tidak menduga, kalau Bashir melamarnya tadi. Bashir masih mencintainya! Dia sebetulnya ingin sekali menerima lamaran Bashir, karena masa iddah-nya sudah selesai. Dia juga tahu bahwa melanjutkan keturunan, membentuk keluarga adalah sebagai cara untuk membentuk keluarga Islam yang sakinah. Itu sudah dengan sangat gamblang dikatakan Allah dalam surat An-Nahl ayat 72!
Alhamdulillah, ya Allah! Ternyata penantianku selama masa iddah di rumah Hakim di pinggir pantai tidak sia-sia. Rumah peristirahatan yang sengaja dibangun Hakim untuk tempat tinggal Namlok dan Siti Aisyah ternyata juga membawa ketenangan bagi jiwanya! Kini, dia ingin segera meninggalkan rumah ini karena tidak ingin selamanya hidup dengan bayangan peristiwa tragis, ketika Bashir memukul Hakim di teras rumah ini! Ketika dia bersama Namlok saling mencurahkan isi hati, walaupun hanya sekejap! Biarlah itu menjadi sejarah hidupnya saja!
Episode 47
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Hitam dan putih bagai sehelai benang
Keduanya sukar dipisahkan
Hanya doa dan keyakinan pada-Nya
Semua bisa menjadi benderang
Yakinlah keadilan ada di tangan-Nya!
Jakarta. 4 Oktober 2000.
Langitnya tidak begitu garang. Bahkan sesekali angin bertiup mengusir gerah. Ribuan orang luber sampai ke halaman gedung MPR/DPR untuk mendengarkan pengesahan UU Nomor 28 tentang otonomi daerah. Hari ini. Banten resmi jadi provinsi. Hal yang sudah ditunggu sejak tahun 1955!
Kabar gembira ini bagai hujan deras, yang menuntaskan dahaga masyarakat di saat dilanda paceklik. Kini kodok pun riang menembang memanggili hujan, kerbau menarik bajak, dan para petani menanami sawah-sawahnya lagi. Permadani hijau yang bernama padi itu akan terbentang lagi di bumi Serang, yang kini porak-poranda oleh cerobong pabrik dan limbah industri!
Banten jadi provinsi. Berita ini seperti membangunkan orang yang sedang tidur panjang. Di setiap sudut jalan orang menggeliat meneriakkan kegembiraannya. Di setiap sudut kota, spanduk-spanduk berkibar. Orang akan membaca tulisannya dengan lantang: "Selamat Datang di Provinsi Sultan Banten”.
Ya, Banten jadi provinsi. Ini ibarat "ada gula ada semut". Semuanya bergulir dan menggelinding. Di setiap sektor berbenah untuk bisa mengejar target. Bukit-bukit di Bojonegoro, yang secara alamiah sebagai benteng alam untuk menahan pasang dari teluk Banten, secara perlahan mulai di pangkas habis! Batu-batunya diolah untuk pembangunan jalan. Bekas bukit yang kosong itu akan di bangun pabrik. Berarti lapangan kerja akan terbuka. Berarti para pengangguran akan terserap ke sana! Berarti para pendatang akan punya peluang. Dan sebentar lagi, Insya Allah, masyarakat Banten akan hidup dalam gemah ripah loh jinawi, aman tentrem kertaraharja. Begitulah kira-kira hitungan di atas kertasnya. Amin. Semoga Allah meridhainya!
Dan horeee, Banten jadi provinsi! Kegembiraan itu masih berlarut-larut. Semua media massa lokal dan nasional menyiarkannya. Ada yang memuji atas strategi dari para politikus dan tokoh masyarakat Banten, yang elegan dan santun dalam menggolkan impiannya memisahkan diri dari Jawa Barat. Tapi, kata "memisahkan" itu saja langsung diralat oleh mereka yang berjasa dengan kelahiran provinsi yang ke-30 ini. Menurut mereka, kata “memisahkan" terlalu kasar. Mungkin yang terbaik dan santun adalah “pemekaran". Itu namanya santun dalam etika politik. Insya Allah, tidak akan ada yang tersinggung. Termasuk gubernur Jawa Barat serta masyarakatnya!
Apa pun, Banten jadi provinsi! Itu tak terbantahkan lagi. Wilayahnya yang luas, meliputi Serang, Cilegon, Pandeglang, Ujung Kulon, Lebak, Baduy, dan Tangerang, serta populasi penduduknya yang mencapai 8 juta, memungkinkan para investor membuka bisnisnya. Memungkinkan produk-produk dipasarkan. Prediksi itu membuat semua orang yang punya duit bergegas untuk menanamkan modal! Dengan berbagai cara!
Tapi, Banten jadi provinsi tidak bisa dinikmati oleh orang-orang yang hari ini persis sedang memenuhi ruang sidang Pengadilan Negeri untuk mendengar vonis bebas Pak Hakim. Di ruangan itu Hakim Ketua sedang mengetukkan palunya! "Dicky terbukti tidak bersalah atas meninggalnya korban bernama Haji Budiman, akibat korban tabrak lari ...," begitu kata Hakim Ketua lantang.
Bapak Hakim yang terhormat memang beralasan memvonis begitu karena semua saksi mencabut segala pengakuannya di BAP di persidangan awal. Mereka beralasan, pada saat itu pihak aparat melakukan penyiksaan. Mereka tidak tahan dan memilih mengiyakan semua pertanyaan aparat. Buat mereka, yang penting tidak mengalami penyiksaan lagi. Toh, semuanya nanti akan dibuktikan lewat pengadilan. Di sanalah mereka bisa memperoleh keadilan.
Bashir hanya bisa tersenyum sinis ketika mendengar Pak Hakim mengucapkan vonis bebas bagi Dicky. Dia memang sangat kecewa. Tapi, harus bagaimana lagi?! Di dalam pengadilan, kadang hitam bisa jadi putih dan putih secara tak terduga berubah jadi hitam! Mengenaskan memang! Tapi, itulah intinya hukum, bukan untuk menegakkan kebenaran, tapi justru untuk membuktikan siapa yang salah dan yang benar. Pembuktiannya, silahkan dicari sendiri. Caranya, juga silahkan berusaha sendiri. Dengan cara apa, terserah.
Anah yang sengaja datang untuk melihat persidangan terakhir ini, hanya bisa menguatkan hati Bashir lewat sinar matanya yang biru. Dia seperti sedang mengalirkan kehangatan hatinya, agar Bashir merasa tenang.
Sedangkan Pak Hasan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Astaghfirullah, " katanya pasrah.
"Kita kalah, Pak," Bashir menatap Pak Hasan dengan putus asa.
"Kamu sudah berusaha, Bashir," Pak Hasan tersenyum menguatkan Bashir, walaupun senyumnya terasa hambar.
"Iya, Bashir. Kamu sudah berusaha," kata Anah. "Jangan berkecil hati."
"Aku tidak mengerti, kenapa Allah memperlakukan aku seperti ini," Bashir kecewa.
"Yakinlah, Allah punya cara lain untuk menghukum mereka," Anah menatap Bashir dengan tatapan penuh rasa sayang. "Tidak di dunia, pasti di akhirat."
"Aku sudah mengecewakan almarhum Bapak," Bashir menunduk dengan sedih." Juga almarhum Hakim."
"Tidak, tidak begitu, Bashir. Kamu salah punya anggapan seperti itu. Kamu justru sudah berusaha keras. Anah yakin, jika almarhum Pak Haji sekarang bisa melihat, beliau pasti merasa puas karena kamu sudah bekerja dengan keras."
Bashir berusaha menyimak kalimat-kalimat Anah. Allah memang selalu punya kehendak lain, yang sulit dijangkau oleh akal manusia. Kini Bashir pasrah dan menyerahkan segalanya pada kehendak Allah.
Sementara itu Dicky menatap pada mereka dengan senyum kemenangan. Ayahnya, Tuan Marabunta, berdiri dan menghampiri Dicky. Mereka berpelukan.
"Dicky bebas, Papa!" bisiknya di telinga ayahnya.
"Kita akan menghancurkan mereka, Dicky!" Tuan Marabunta menatap Bashir dengan tatapan bengis. Pengusaha licik itu seolah memastikan lagi pada Bashir, bahwa dirinya tidak akan pernah bisa dikalahkan! Apalagi oleh anak bau kencur seperti Bashir.
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Matahari tak pernah meminta bayaran
Atas cahaya yang diberikannya apda kita
Air dan tanah tak perah berkeluh kesah
Setiap kita meracuninya dengan limbah
Malah diberikannya pada kita harta melimpah
Syukurilah karunia ilahi ini!
Kini Bashir dengan wajah tegak meninggalkan ruang sidang. Orang-orang memperhatikannya dengan perasaan simpati dan sinis. Selalu ada dua kubu yang berseberangan. Kubu pertama bersimpati padanya, kubu kedua bersimpati pada Tuan Marabunta dan anaknya. Begitu juga kubu yang sinis.
Anah dan Pak Hasan mengapit Bashir. Mereka mencoba memberikan kekuatan pada Bashir lewat getaran hati. Mereka dengan perasaan yakin menyerahkan segala jawaban kepada Allah, bahwa balasan bagi yang zalim itu akan selalu ada.
Mereka pun menuju tempat parkir.
Tapi Beberapa wartawan mendekati mereka. "Bagaimana, akan naik banding?" Tanya seorang wartawan.
"Tidak perlu," jawab Bashir. "Hanya buang-buang waktu saja."
"Kenapa?"
"Bukankah keadilan harus ditegakkan?"
"Manusia hanya berencana, tapi Allah yang berkehendak," Bashir mencoba tenang. "Kalau kita tidak mendapatkan keadilan di muka bumi ini, Insya Allah, kita akan mendapatkannya di akhirat nanti. Itu janji Allah pada kita, hamba-hamba-Nya yang tertindas."
"Berarti Anda membiarkan orang semacam Dicky gentayangan mencari korban lagi?"
"Itu asumsi Anda! Awas, jangan memutarbalikkannya, sehingga seolah-olah statement itu keluar dari mulutku. Ingat, aku ini mantan wartawan! " Bashir tertawa, seolah-olah lupa pada peristiwa menyakitkan ini.
"Anda punya pendapat tentang Dicky yang diputus bebas?" tanya seorang wartawan pada Anah.
Anah menatap Bashir, seolah meminta restu untuk menjawab pertanyaan si Wartawan. Bashir mengangguk mengiyakan.
"Biarkan saja Dicky menikmati kebebasannya. Kasihan dia. Hampir delapan tahun hidupnya di ruangan berukuran 3 kali 2 meter. Dengan mengikhlaskan dia bebas, anggap saja ini ibadah dari kami. Siapa tahu dengan kejadian ini, Allah memberikan hidayah pada Dicky."
"Maksudnya?" tanya Wartawan yang lain.
"Semoga Dicky menjadi orang yang saleh. Orang yang menjauhi larangan Allah," Anah tersenyum. "Itulah hikmah dari peristiwa hari ini."
Para wartawan tertegun. Mereka seolah mendapatkan pelajaran berharga dari tanya jawab ini. Lalu perhatian mereka langsung beralih pada Tuan Marabunta dan anaknya, yang muncul di lobi. Mereka menyerbu untuk mendapatkan konfirmasi.
"Bagaimana, puas dengan putusan pengadilan?"
"Puas, puas!" Tuan Marabunta dengan bersemangat menjawab. "Ini adalah persidangan terbaik yang pernah ada di bumi Banten! Anggap saja ini sebagai kado dari kami untuk Banten, yang baru saja disahkan sebagai provinsi ke-30!" tambahnya lagi seperti seorang pahlawan, yang berjasa pada kemajuan daerahnya.
"Apakah akan menggugat balik mereka?"
"Menggugat balik?" Tuan Marabunta tertawa sinis. "Untuk apa? Mereka itu bukan lawan saya! Tidak sepadanlah!" tangannya menepis ke udara. “Masa Tuan Marabunta, pengusaha daerah berskala internasional, melawan anak ingusan macam si Bashir?" Cibirnya. "Kasihan si Bashir, yang secara beruntun harus kehilangan ayah dan kakaknya!" katanya sedih. Tepatnya pura-pura bersedih. "Buat saya, anggap saja ini adalah ibadah. Bukankah kita harus mengasihi anak-anak yatim piatu?"
"Pendapat Anda?" seorang Wartawan bertanya pada Dicky.
Tuan Marabunta melihat ke Dicky.Dicky menatap Bashir dan Anah, yang sudah masuk ke dalam mobil. "Mereka salah jika menganggap saya dan ayah saya sebagai musuh. Harusnya mereka sadar, kami ini partner bisnis!"
"Bisnis?" si Wartawan bingung.
"Maksudnya?" Wartawan yang lain penasaran.
"Apakah ini ada kaitannya dengan Marabunta Company, bisnis ayah Anda?"
"Oh, sudah jelas!" Dicky mengangkat wajahnya dengan sombong. "Dari dulu, mereka itu menganggap Marabunta Company sebagai saingan. Terutama Pak Haji Budiman, yang sekarang sudah berada di alam baka!"
Para Wartawan serius mendengarkan.
"Marabunta Company ini termasuk baru di Cilegon. Tapi sudah sanggup menyaingi PT. Abadi Jaya milik mereka, yang manajemennya sangat kampungan. Nah, dengan beragam cara, mereka berusaha mempermalukan ayah saya, supaya perusahaan ayah saya image-nya buruk di depan para relasi! Bahkan dengan mengait-ngaitkan ayah saya dengan kematian Pak Haji Budiman!"
Tuan Marabunta menarik Dicky agar masuk ke mobil.
"Satu pertanyaan lagi!"
"Iya, terakhir, Tuan!"
Tuan Marabunta menatap mereka.
"Rencana Tuan pada Dicky?"
Tuan Marabunta tersenyum. "Saya akan mengirim Dicky sekolah bisnis ke Amerika! Ingat, 2003 nanti pasar bebas! Dan Banten akan menjadi pemain baru yang disegani di dunia bisnis! Bahkan ditakuti! Tulis!" dia sesumbar.
“Tuan yakin?"
"Sudah, sudah! Wawancaranya diteruskan nanti malam saja! Kalian, para wartawan, saya undang! Sekalian syukuran atas kebebasan anak saya! Jangan khawatir, kalian nanti akan kebagian amplop seorang satu!" katanya masuk ke dalam mobil sambil menyeret Dicky .
Para wartawan tampak menatap Tuan Marabunta dan Dicky dengan beragam perasaan. Ada yang senang mendengar undangan syukuran itu, ada juga yang menanggapinya dengan perasaan sebal! Selalu ada dua kubu. Selalu ada kontradiksi. Sebuah paradoks kehidupan memang seperti itu.
Sementara itu di mobil yang lain, Anah membisikkan sesuatu di telinga Bashir yang sedang menyetir. "Aku menerima lamaran kamu, Bashir."
Bashir menoleh dan menatapnya dengan perasaan sangat bahagia!
Episode 49
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Suka duka biasa bagi hamba beriman
Dijadikannya suka karunia ilahi
Sedangkan duka cobaan sementara
Suka duka selalu ada di dalam kehidupan
Dengan doa pada-Nya bahagia kan tiba!
Bashir masih memegangi koran Harian Banten, yang memuat wawancara Tuan Marabunta yang terhormat bersama Dicky, sang pewaris tunggal Marabunta Company. Berita headline itu menikam mata dan hatinya: "Tuan Marabunta Tidak Akan Menggugat Balik". Di sana tertulis pula, bahwa Tuan yang terhormat itu merasa tidak pantas meladeni Bashir yang masih anak bau kencur. Bahkan dengan bijaksananya, dia mengingatkan pada semua orang kalau Bashir anak yatim piatu yang harus dibelaskasihani!
Sedangkan Dicky mengeluarkan pernyataan pertamanya di media massa setelah menghirup udara kebebasan, bahwa almarhum Pak Haji Budiman dan Hakim menganggap Marabunta Company sebagai saingan bisnis. "Marabunta Company ini termasuk baru di Cilegon. Tapi sudah sanggup menyaingi PT. Abadi Jaya milik mereka, yang manajemennya sangat kampungan. Nah, dengan beragam cara, mereka berusaha mempermalukan ayah saya, supaya perusahaan ayah saya image-nya buruk di mata para relasi dan masyarakat! Bahkan dengan mengait-ngaitkan ayah saya dengan kematian Pak Haji Budiman!" begitu si wartawan mengutip pemyataan Dicky.
Tiba-tiba, "Kriiing!"
Bashir langsung menyambar telepon di meja kerjanya. "Assalamu'alaikum!" sapanya bergegas.
"Wa'alaikum salam," terdengar suara Anah di seberang.
"Anah! " Bashir gembira.
"Ya, aku!" Anah juga gembira. "Sudah baca Harian Banten hari ini?" tanya Anah.
"Sudah," Bashir merasa hatinya ada ganjalan. "Biarkan mereka bicara apa saja. Aku nggak peduli!"
"Alhamdulillah, aku senang mendengar kamu bicara seperti itu. Memang nggak ada gunanya meladeni mereka. Lupakan saja mereka. Sekarang, kita buka lembaran baru hidup kita."
"Iya! Yang aku pedulikan adalah hari pernikahan kita, Anah."
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan Papa Hari dan Mama Natalia. Mereka kelihatannya senang sekali."
"Pasti senang dong, dapat menantu yang ganteng kayak aku!"
"Alah, gombal!"
Bashir tertawa bahagia. Rasanya sudah lama dia tidak pernah tertawa selepas ini. "Bagaimana? Kapan aku datang melamar pada orangtuamu?"
"Malam Minggu besok, ditunggu di Jakarta. Ajak juga Pak Hasan. Beliau kan pengganti orang tua kamu."
"Insya Allah, besok malam aku datang."
"Awas! Jangan sampai lupa!"
"Iya!"
"Satu lagi, kamu harus memotong rambut!"
"Apa?"
"Itu semacam syarat!" Anah tertawa.
"Potong rambut?"
"Kenapa? Kalau nggak mau, ya sudah! Nggak jadi kawin! Masa sih, direktur PT. Abadi Jaya gondrong!"
"Oke! Siapa takut?" Bashir tertawa.
"Nah, gitu dong! Udah, ya! Sampai ketemu! Wassalamu' alaikum!"
"Wa'alaikum salam!"
Klik!
Tapi Bashir masih menggenggam gagang telepon. Rasanya seperti mimpi, dia akan dating melamar Anah! Hal yang diimpi-impikannya sejak lama! Andai saja dahulu almarhum ayahnya tidak menjodohkan Anah dengan Hakim, pasti kebahagiaan ini akan terasa komplit. Ayah, Hakim, Namlok, dan Siti Aisyah akan mengiringinya ke kursi pengantin. Tapi, Allah memang berkehendak lain! Orang-orang yang dicintainya pergi meninggalkannya! Pergi menyusul Emak, yang sudah terlebih dahulu pergi! Kebahagiaannya memang harus didapat lewat jalan berkelok dan berbatu.
Bashir masih saja melamunkan pernikahannya kelak bersama Anah. Dia merasakan ini adalah hikmah dari semua peritiwa pahit yang menimpanya. Allah memang Mahaadil dan Maha Mendengar! Diberi-Nya aku nikmat dan karunia yang tiada taranya ini, calon istri yang cantik dan salehah! Juga perusahaannya yang secara perlahan menggeliat bangun.
Kemudian Bashir teringat, bahwa kebahagiaanya ini belum diketahui oleh orang lain. Pak Hasan pasti akan merasa surprise mendengar rencananya ini, melamar Anah! Dia memang masih merahasiakannya! Dia sengaja menyimpannya sebelum semuanya pasti.
Bashir dengan cepat mengangkat gagang telepon. Memencet nomor pesawat telepon Pak Hasan. Tapi belum lagi dia bicara, terdengar suara orang di depan pintu ruangannya. Bahkan Bashir langsung bangkit dari duduknya, ketika pintu ruangannya terbuka dengan paksa. Tampak Dicky menerobos penjagaan Pak Hasan! Dia memaksa masuk ke ruangan Bashir.
Episode 50
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Pohon-pohon berbuah pada musimnya
Ini karunia dan rezeki bagi semua
Setelah itu daun berguguran
Kumbang dan kupu-kupu membawa serbuk
Bagi musim yang akan datang
Hidup selalu berputar menurut kehendak-Nya!
Bashir tidak suka melihat Dicky datang ke ruangannya dengan menerobos! Pak Hasan tampak merasa bersalah.
"Selamat siang, Pak Direktur!" sapa Dicky sinis.
"Maafkan Bapak, Nak Bashir," Pak Hasan merasa tidak enak. "Dia tetap memaksa untuk masuk….”
"Tidak apa-apa, Pak," Bashir tersenyum. "Biarkan saja, Pak."
Pak Hasan mengangguk dan kembali ke ruangannya.
"Pak Hasan!" Bashir memanggilnya.
"Iya?" Pak Hasan menatapnya dari balik pintu.
"Nanti siang, ada sesuatu yang harus kita bicarakan ...," kata Bashir.
Pak Hasan mengangguk dan pergi sambil menutup pintu.
"Hebat, hebat!” tiba-tiba Dicky memberi applaus. "Orang seperti Pak Hasan ternyata takut sama kamu!" Dicky tertawa dan tanpa disuruh duduk dengan seenaknya di sofa.
Bashir sebetulnya ingin sekali menghajar Dicky, tapi dia teringat omongan Anah di telepon tadi. Tidak ada gunanya melayani orang seperti Dicky. Hanya buang-buang energi dan waktu saja! Pasrahkan saja semuanya pada Allah! Insya Allah, balasan setimpal akan datang!
“Jadi, Hakim mati, ya?" cecar Dicky. “Kemudian Anah jadi janda, dan kamu direktur PT. Abadi Jaya! Hebat! " katanya sinis sambil bertepuk tangan. “Terus, apa lagi? Jangan-jangan…."
“Ada perlu apa kamu kemari?" Bashir memotong dengan tidak suka.
“Silaturahimlah! Apa nggak boleh? Sumpek aku! Bayangkan, hampir delapan tahun hidupku cuma di seputar penjara!"
“Aku sedang sibuk!"
"Aku dengar, Anah sudah ketemu sama orangtua kandungnya, ya?"
“Itu bukan urusan kamu!"
“Jelas jadi urusanku! Kamu tahu kan, kalau aku suka ngatain Anah sebagai anak jadah!"
“Tutup mulutmu, Dick!"
Dicky tertawa saja. Tindak-tanduknya makin pongah. Ternyata penjara tidak membuatnya jera, malah makin membentuknya sebagai penjahat. “Sekarang, setelah orangtua kandungnya ketemu, aku harus minta maaf sama Anah! Boleh kan!"
“Aku rasa, Anah sudah memaafkan kamu sejak dahulu.”
“Kayaknya kamu keberatan ya, kalau aku nemuin Anah?!” Dciky meledek. “Kenapa? Kok, kayaknya kamu sekarang ngerasa punya hak ngelarang aku! Ingat, Anah janda, lho! Semua orang juga berhak nemuin dia!” Dicky tertawa. “Atau….!”
“Atau apa?”
“Apa kamu ada rencana menikahi Anah?”
“Itu bukan urusan kamu!”
“Ayolah! Kita ini berkawan sejak kecil. Jangan menganggapku sebagai penjahatlah. Aku kan sudah menebus dosa-dosaku di penjara! Masa sih, itu belum cukup buat kamu!”
Bashir tertegun. Perkataan Dicky tadi menusuk jiwanya. Apa yang harus aku lakukan? Hatinya jadi gamang. Padahal, ada yang masih mengganjal di dalam hatinya tentang kematian ayahnya, yang menurutnya dengan jelas mengarah ke Dicky!
“Bashir,” Dicky kelihatan serius. “Bagaimana kalau kita melupakan masa lalu kita?” tanyanya seperti memutuskan. “Banten sekarang sudah menjadi provinsi. Kita bisa sama-sama mengisinya dengan orientasi bisnis! Kita masih muda! Jalan hidup kita mash panjang. Kalau kita berantem terus, nanti malah orang luar akan merebut porsi kita! Kan malah bahaya! Periuk kita di ambil orang!”
“Oke, Dicky! Begini saja! Untuk urusan maaf memaafkan aku bisa terima! Soal masa lalu juga, fine, kita lupakan! Tapi, sorry! Untuk urusan bisnis, kita nggak sejalan! Visi dan misi kita berbeda! Malah yang aku baca di Koran, katanya kamu akan keluar negeri untuk mengejar gelar MBA! Tentu aku makin nggak layak menjadi partner bisnis kamu! Apalah aku! Cuma mantan wartawan!”
“Jangan sinis begitu!” Dicky merayu. Nadanya ada udang di balik batu. “Aku ini merasa prihatin melihat kondisi perusahaan kamu. Ingat, Bashir! Sebentar lagi kita memasuki era pasar bebas. Kamu harus mengubah manajemen perusahaanmu!”
“Aku akan mengubah manajemen perusahaan warisan bapakku!”
“Tapi itu hanya akan berhasil kalau kita bekerja sama!”
“Tidak mesti begitu!”
“Bayangkan pewaris tunggal Marabunta Company dan PT. Abadi Jaya melakukan merger! Kita akan kuat! Banten akan berada dalam genggaman kita!” Dicky tersenyum puas dan cenderung rakus.
“Tapi, itu bukan berarti harus dengan bantuan kamu, Dicky! Kalau kamu beranggapan begitu, itu salahmu!”
Dicky bangkit. “Kamu memang bodoh seperti ayah dan kakakmu!” hardiknya marah.
Bashir masih duduk dengan tenang. “Ini kantorku. Kalau kamu berbuat yang tidak-tidak, aku akan memperkarakannya. Jangan pikir aku takut sama kamu, Dicky! Juga sama ayahmu! Atau kalau terpaksa, aku akan melakukan dengan caraku sendiri di sini! Bagaimana?” katanya tidak merasa gentar.
Dicky bergegas ke pintu. Dia menoleh dan menuding Bashir. "Camkan ini, Bashir! Aku adalah pewaris tunggal Marabunta Company! Kalau dengan cara halus seperti ini kamu tetap tidak mau bekerja sama, jangan salahkan aku kalau pada akhimya perusahaan kamu menjadi milikku!"
"Satu hal lagi, Dicky! Aku akan menikah dengan Anah!!" Bashir malah tidak menggubris ancaman Dicky.
"Apa? Kamu akan menikah dengan Anah?” Dicky tampak kaget.
"Iya! Menikah! Kenapa?”
'Hah! Betul kataku kan! Itu memang tujuan akhir kamu! Menikahi Anah!" Dicky tertawa sinis.
"Datang, ya! Nanti undangannya aku kirimkan! Mungkin saat itu kamu bisa dating sekalian minta maaf pada Anah!” tantang Bashir.
"Datang atau tidak, itu urusanku! Tapi yang harus kamu ingat, aku akan selalu membayangi hidup kalian!" Dicky tertawa sinis sambil membanting pintu ruangan! Bum!
Tinggal Bashir yang tertegun sendirian!
Episode 51
Biarkan Aku Jadi Milik-Mu
Sepasang merpati menatap bulan
Cahaya-Nya menyelimuti mereka
Mengabarkan tentang rumah idaman
Dan suara anak-anak mengaji
Di musala di belakang rumah
Allah pasti akan memberkahi!
Masjid Sunda Kelapa lagi-lagi menjadi saksi bahagia bagi pernikahan sepasang manusia hari ini. Sudah ratusan, bahkan ribuan kali pernikahan agung dilaksanakan di sini. Mulai dari pasangan kaya raya hingga pasangan dhuafa. Semuanya merasakan kebahagiaan yang tiada terkira di rumah Allah ini!
Bashir dan Siti Nurkhasanah pun merasakan hal yang sama pagi ini. Mereka berjalan menuju masjid dengan diiringi orang-orang yang mencintai dan dicintai mereka. Suasana agung dan suci ini membuat dada mereka seperti berguncang hebat, antara berbahagia dan penuh rasa haru! Allah pada akhirnya mempertemukan mereka! Menyatukan mereka! Mati, rezeki, dan jodoh memang rahasia Allah. Dan hari ini Allah membuktikan rasa sayang dan kasih-Nya pada Anah dan Bashir.
Anah duduk di depan Bashir dengan wajah menunduk. Di mata Bashir, betapa cantiknya Anah dalam busana Muslimah. Jauh lebih cantik, ketika Anah berdiri di pelaminan bersama almarhum kakaknya. Di mata Anah, Bashir juga tampan. Apalagi rambutnya yang gondrong sudah dipangkas habis! Alhamdulillah, ya Allah, Engkau kabulkan doaku! Engkau berikan padaku suami yang aku inginkan.
Naib pun mulai melakukan tugasnya dengan menikahkah Bashir dengan Siti Nurkhasanah, janda tanpa anak karena ditinggal mati suaminya. Proses ijab kabul berjalan dengan lancar. Mas kawin berupa seperangkat alat shalat; sajadah dan mukena sudah diserahkan Bashir pada Anah. Mas kawin itu pertanda niatnya bersama Anah untuk selalu hidup di jalan Allah, dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya!
"Saya nikahkan Muhammad Al-Bashir bin Haji Budiman dengan Siti Nurkhasanah binti Hari Natadiningrat dengan mas kawin seperangkat alat shalat, tunai!" petugas KUA itu memegang erat tangan Bashir.
"Saya terima nikahnya, Siti Nurkhasanah binti Hari Natadiningrat dengan mas kawin seperangkat alat shalat, tunai!" suara Bashir bergetar.
"Bagaimana, diterima?" tanya petugas KUA pada para tamu yang menjadi saksi ijab Kabul tersebut.
"Alhamdulillah," hadirin dengan serempak dan rasa syukur menerimanya.
Pak Hari Natadiningrat dan Natalia mengusap air matanya berkali-kali. Mereka sangat bahagia. Sungguh tidak terlukiskan dengan kata-kata. Mereka hanya bisa mengucap syukur kepada Allah lewat air mata. Sedangkan Diana hanya duduk merenungi nasibnya. Luka parut di pipinya sudah agak lumayan setelah di operasi di Amerika. Tapi, baginya itu seperti sia-sia saja karena Bashir kini bersanding dengan Anah!
Kemudian ada isak dan tangis dari kerabat Bashir, yang menyayangkan kebahagiaan Bashir dan Anah tidak disaksikan oleh almarhum Pak Haji Budiman. Juga almarhum Hakim!
Bahkan Bashir sendiri menangis ketika bersimpuh di kaki Pak Hasan selaku wali hakim dirinya. Begitu juga ketika Bashir berada di pelukan Pak Hari Natadiningrat serta Natalia! Pada siapa lagi kebahagiaan ini harus ditumpahkan? Kebahagiaan bagi hamba-hamba yang tahan terhadap ujian-Nya!
"Selamat berbahagia, Bashir, Anah," begitu Natalia melepas mereka.
"Betul kalian tidak mau berbulan madu ke Eropa?" Pak Hari kembali bertanya.
"Terima kasih, Papa," Anah tetap menolak. "Kelihatannya, akan berat bagi Bashir jika terlalu lama meninggalkan perusahaannya."
"Waktunya sedang nggak tepat. Kalau lengah, bisa-bisa Tuan Marabunta keenakan!" Bashir menjelaskan.
"Tapi, kalian harus berbulan madu!" Natalia merasa prihatin.
"Bulan madu sambil kerja!" Bashir tertawa.
"Ya, sudah! Pergi sana! Kelamaan di sini, ntar nggak tahan lagi! " Diana nimbrung sambil memeluk Anah. "Hati-hati ya, Kak!" dia sedang belajar mengikhlaskan peristiwa ini. "Jaga Bashir, ya. Dia laki-laki yang baik," katanya di telinga Anah.
Anah mengangguk bahagia. "Iya, dia lelaki yang baik. Begitu juga kakaknya," kata Anah bahagia.
Diana melepaskan pelukannya.
"Ayo, jangan lama-lama! Sudah nggak tahan, nih!" Bashir menarik Anah ke dalam mobil.
Anah tersipu-sipu.
Semua orang tertawa.
"Thank's, Diana!" Bashir tersenyum padanya.
"Kalau lagi suntuk, main ke Anyer, ya!" tambahnya.
Diana mengangguk sambil melambaikan tangan.
Bashir dan Anah sudah berada di dalam mobil. Mereka melambaikan tangan lagi. Semua orang meneteskan air mata! Air mata bahagia saat melepas kepergian dua sejoli, yang sedang mendapatkan karunia Allah ini.
Bashir menjalankan mobilnya dengan perlahan. Tangan kirinya menggenggam jemari Anah. Mereka dibalut rasa suka-cita yang dalam, setelah Allah menguji mereka dengan beragam cobaan!
"Alhamdulillah, aku bahagia, Anah! " Bashir meliriknya.
"Aku juga!" Anah tersenyum.
"Aku pingin punya anak lima! Kamu?"
"Terserah Allah."
Bashir meremas jemari Anah lagi dengan bahagia. Anah juga melakukan hal yang sama. Yang ada di benak mereka sekarang adalah, rumah idaman dan suara anak-anak mengaji!

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda