Sabtu, 17 Januari 2009

FILSAFAT
Di antara para ilmuwan belum ada kesepakatan yang bersifat universal apa yang dimaksud metode ilmiah ini. Ilmu pengetahuan telah berkembang dari “common sense”, di mana perubahannya dari yang satu ke yang lain secara bertahap dan terus menerus. Suatu pengujian ilmu pendidikan yang cermat telah dilakukan seperti dalam fisika, astronomi dan psikologi, serta tidak hanya menggunakan satu macam metode saja. Ilmu pengetahuan seperti astronomi berangkat dengan mempergunakan metode observasi. Ilmu pengetahuan lainnya seperti fisika dan kimia menitikberatkan pada eksprimen. Pada ilmu pengetahuan yang lainnya dipergunakan metode “trial dan error, statistika dan metode sampling”. Kita perlu memperbincangkan metode-metode ilmiah (ilmu penghetahuan) daripada membicarakan metode ilmu pengetahuan itu sendiri. Metode ilmu pengetahuan dipakai /dipergunakan tergantung pada materi atau masalah yang akan dipelajarinya.













BAB II
PEMBAHASAN


1) Observasi
Beberapa ilmu seperti astronomi dan botani telah dikembangkan secara cermat dengan metode observasi. Di dalam metode observasi melingkupi pengamatan indrawi (sense perception) seperti : melihat, mendengar, menyentuh, meraba, membawa sesuatu, juga didalamnya termasuk bahwa kita sadar, berada dalam situasi yang bermakna dengan berbagai fakta yang saling berhubungan.
The method of agreement(metode persepakatan) merupakan salah satu metode induktif yang kadang -kadang disebut metode persepakatan (the observasional-method of agrement) melalui observasi. Prinsip-prinsip penalaranya dapat dinyatakan bahwa sesuatu keadaan bertautan dengan sesuatu gejala adalah merupakan hubungan kausal dengan gejala itu. Sebagai contoh : Beberapa tahun yang lalu beberapa tahun yang lalu delapan orang pemuka industri kayu yang dikenal di America serikat , sakit dan meninggal. Meskipun mereka hidup berjauhan pada daerah yang berbeda-beda , kematiannya hampir bersamaan waktunya, sehingga hal ini mengarahkan pada suatu kepercayaan kepadanya adanya sebab yang bersifat umum
Penelitian terhadap lingkungan yang menyebabkan segala peristiwa kematian itu menunujukkan bukan saja orang-orang itu mati karna amuba,tetapi juga mereka semuanyabersama-sama telah menghadiri konfrensi cabang Perusahaan kayu disuatu kota,beberapa minggu sebelumnya. Mereka bersama-sama tinggal dihotel yang sama dan telah mempergunakan air secara bersama-sama,diuhotel itu yang ternyata air itu telah tercemari oleh centuk-centik amuba disentri, sebagai akibat dari sistem selokan yang buruk. Air dari hotel yang telah tercemar bibit penyakit itu dibuktikan sebagai penyebab kematian..
Observasi yang cermat sangat diperlukan dalam penelitian ilmiah. Ada beberapa kondisi-kondisi yang sangat penting untuk diketahui dalam melakukan observasi, yaitu
a) Indra yang normal dan sehat
Semua indra diperlukan dalam melakukan observasi seperti: kejelasan penglihatan dan ketajaman pendengaran sangat diperlukan
b) Kematangan mental
Dalam hal ini bukan hanya kemampuan berfikir tetapi juga benar-benar paham tentang instrumen intelktual yang diperlukan seperti istilah-istilah, konsep-konsep, dan kemampuan menggunakan simbol-simbol secara umum.
c) Alat-alat bantu fisik:
Seperti teleskop, mikroskop dan alat-alat lain untuk mebgukur waktu yang tepat, luas, berat dan hal-hal lain yang diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan (hasil) yang cermat. Cerita atau sejarah beberapa ilmu pengetahuan merupakan sejarah tentang perbaikan atau peningkatan instrumen (alat-alat) tertentu. Sebagai contoh perkembangan astronomi berhubungan erat dengan perbaikan daripada telskop.
Kemajuan dalam bidang biologi secara bersamaan berhubungan erat dengan peningkatan dari pada mikroskop.
d) Cara mengatur posisi, tempat atau kondisi yang memungkinkan observasi dapat dilakukan dengan cermat.
Si peneliti melakukan pengamatan terus-menerus. Oleh karena itu diperlukan perhatiannya pada kondisi-kondisi yang cermat, memperhatikan faktor waktu, tempat, gerakkan, suhu, cahaya, keadaan cuaca dan gangguan- gangguan suara. Kesalahan atau kegagalan observasi mungkin disebabkan adanya kerusakan atau adanya gangguan pada faktor-faktor tersebut, yang dengan mudah menyesatkan kesimpulan yang kita buat.

e) Pengetahuan lapangan
Orang yang mengenal lapangan studi, sejarahnya, dan saling hubungannya dengan lapangan studi serta pengalaman lainnya akan lebih beruntung.
2) Trial and error
Metode trial and error (coba-salah) atau metode trial and success (coba-hasil) telah dikenal secara universal dan trial memerlukan penjelasan secara panjang lebar. Trial and Error ditemukan di antara hewan-hewan di mana mereka mencoba memecahkan masalahnya.
Teknik ini dipergunakan oleh ahli psikologi yang diterapkan pada penelitian tentang hewan dan manusia. Kita dapat melihat penggunaan metode ini, tikus mencoba keluar dari “taman sesat” ia mencoba-coba berputar-putar menghindari rintangan-rintangan yang ada pada lorong-lorong taman sesat itu. Kita juga dapat melihat teknik ini dipergunakan pada seekor simpanse yang mencoba berbagai cara untuk mendapatkan makanan yang tidak terjangkau oleh jangkauannya. Manusia seringkali menggunakan metode ini untuk mengetahui bagaimana suatu hal yang baru itu bekerja. Metode ini dipergunakan leh hewan tanpa sadar, secara sadar dipergunakan oleh tukang kunci yang mencoba membuka kunci yang anak kuncinya hilang, dan lebih sadar lagi dipergunakan oleh para ilmuan untuk mencoba beberapa hipotesis dan oleh orang-orang mempunyai pandangan filosofis dipergunakan untuk mentes ide (cita, konsep) dan sistem berfikir yang koheren dan menguji fakta serta kemantapan logika. Pemecahan yang menyenangkan akan memberikan kepuasan, dan hal itu merupakan bagian kepercayaan yang diterima.
Metode rial dan error cenderung disebut “learning by doing” daripada disebut “learning by thinking”’ semua itu dikemukakan dalam bentuk yang sederhana yangmengandung refleksi. Reflective thinking (berfikir reflektif) disebut juga “trial ang error by ideas”. Dalam berfikir reflektif pemecahannya diselesaikan dalam imajinasi. Dalam refleksi dan imajinasi mengecek mana yang cocok dan mana yang tidak, mana yang tepat dan mana yang tidak. Trial end error pada taraf idiologis dan imajinatif menghemat waktu, tenaga dan seringkali dalam kehidupan itu sendiri.
3) Metode eksperimen
Kegiatan eksperimen adalah berdasarkan pada prinsip metode penemuan sebab akibat dan pengujian hipotesis. Di dalam eksperimen di dalamnya termasuk masalah “manipulasi” dan pengawasan (kontrol) sekalipun observasi (pengamatan) dan “trial and error” telah banyak digunakan secara luas tetapi keduanya terbatas.
Perkembangan yang sangat besar dalam penelitian ilmiah adalah kemungkinan ditemukannya tehnik pengawasan (techniques of control), dan sekaligus digunakan dalam suatu percobaan, dimana si pengamat mengontrol kondisi-kondisi yang berhubungan dengan subyek yang sedang ia pelajari. Ia kemudian “memanipulasi” kondisi-kondisi ini, pada suatu saat ia mengubah satu faktor tertentu, kemudian ia mencatat akibat-akibatnya.
“The method of difference” (Metode Perbedaan) kadang-kadang disebut pula metode eksperimen perbedaan (experimental method of difference), dipergunakan secara luas di dalam ilmu pengetahuan. Peranan dari metode ini adalah hanya untuk membedakan satu faktor atau kondisi pada suatu waktu, sedangkan faktor-faktor yang lainnya diusahakan tidak berubah atau tetap. Peneliti membuat suatu perbedaan dalam pengamatannya dalam kesimpulan penelitiannya.
Sebagai contoh misalnya percobaan antara uang logam dan layang-layang di dalam fisika. Mengapa layang-layang itu jatuh lebih perlahan-lahan daripada uang logam? Suatu percobaan direncanakan tentang sebab daripada tekanan udara. Sebuah uang logam dan sebuah layang-layang dijatuhkan pada waktu yang sama ke dalam suatu ruang yang diperlengkapi dengan pompa udara di mana udara masih tetap ada. Uang logam jatuh dengan cepat danmlayang-layang itu baru kemudian. Dengan faktor yang lain dijaga supaya konstan, udara dikeluarkan dari ruangan itu, uang logam dan layang-layang dijatuhkan lagi pada kesempatan ini keduanya mencapai dasar ruang pada waktu yang sama: Kesimpulannya, dengan adanya udara, jatuhnya layang-layang itu menjadi lebih perlahan. Apabila udara dihampakan kedua benda itu jatuhnya bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan udara memperlambat jatuhnya layang-layang itu.
Metode lain ialah “conconitant variation” (konkonitan variasi-variasi), yang menunjuk pada hubungan antara dua fenomena yang berbeda sebagai hasil hubungan kausal (sebab akibat) yang mungkin terjadi pada kegiatan observasi dan eksperimen. Meode ini dua fenomena muncul atau hilang bersama-sama atau yang satu muncul dan yang lainnya menghilang. Metode ini digauanakan dalam percobaan dengan bel (lonceng) yang membuktikan bahwa udara menjadi perantara (medium) untuk mentransmisikan (menyampaikan) gelombang suara. Waktu bel dipukul dengan udara didalamya, maka terdengarlah suara. Apabila udara dikeluarkan suara berkurang sampai udara dan suara pada waktu yang sama.
4) Metode Statistik
Istilah statistik berarti pengetahuan tentang mengumpulkan , menganalisis dan menggolongkan bilangan/data sebagai dasar induksi. Metode statistik telah ada sejak lama, yaitu untuk membantu pemimpin dan penguasa mengumpulkan data tentang penduduk, kelakuan, kematian, kesehatan dan perpajakan. Metode ini telah berkembang dan lebih menarik minat lagi, sehinggga sampai saat ini metode statistik dipakai dalam pelbagai kehidupan sehari-hari, dalam perdagangan, perbedaan keuangan dan pelbagai ilmu pengetahuan, menghitung mengukur, merata-ratakan, mean, median dan pengukuran-pengukuran korelasi, memungkinkan bagi kita untuk membuat penjelasan yang cermat dan membawanya kita ke arah penjelasan yang lebih luas dan terperinci.
Dengan statistik memungkinkan kita melihat berbagai proses yang tidak mungkin dapat kita lihat hanya melalui penggunaan alat indra saja. Statistik memungkinkan kita untuk menjelaskan sebab dan akibat pengaruhnya, melukiskan tipe-tipe daripada fenomena-fenomena, dan kita dapat membuat perbandingan-perbandingan dengan menggunakan tabel-tabel dan grafik. Statistik juga dapat meramalkan kejadian-kejadian yang akan datang dengan tingkat ketepatan yang tinggi.
5) Metode Sampling (pengambilan sampel)
Terjadinya sampling, yaitu apabila kita mengambil beberapa anggota atau bilangan tertentu dari suatu kelas atau kelompok sebagai wakil dari keseluruhan kelompok tersebut, yaitu dengan tujuan bilamanakah satu sampel tersebut dapat mewakili secara keseluruhan atau tidak. Seandainya bahan yang akan kita uji itu menunjukkan kesamaan jenisnya melalui sebuah sampel dapatlah diperoleh hasil dengan ketepatan yang tinggi. Dalam hal ini sampel random yang wajar sudah mencukupi, sebab tidak ada kondisi-kondisi lainnya yang harus diperhatikan. Seandainya ketidakseragaman itu besar, maka sampelnya pun harus diperbanyak pula. Seandainya kaita ketahui bahwa pasir di pantai itu seragam maka kita mengambil sampel yang sederahana saja sudah mencukupi, tetapi seandainya kita mencurigai bahwa pasir itu seluruhnya tidak seragam maka kita akan mengambil sampel dari berbagai tempat yang berbeda-beda. Semuanya ini dapat kita campurkan dan kita akan memperoleh sampel dalam sampel.
Seandainya beberapa perbedaan itu harus kita perhatikan, misalnya dalam pendapat umum, si peneliti harus lebih hati-hati lagi melihat apakah sampel itu sudah cukup representatif atau belum. Ia harus memperhitungkan masak-masak dalam item-item seperti: usia, jenis kelamin, pekerjaan, status ekonomi, pendidikan, dan kadang-kadang soal agama, politik dan lain-lainnya yang mungkin nanti akan mempengaruhi hasilnya. Dalam kejadian ini, maka sampel yang telah disusun perlu disilang dalam populasi atau kelompok yang akan diselidikinya. Sebagai contoh misalnya air dalam kolam, bakteri-bakteri yang terdapat di dalamnya mungkin tersebar di berbagai tempat di kolam itu, dan air akan dipengaruhi oleh air yang dibuang dan air yang masuk, dipengaruhi pula oleh arus yang mengalir dengan derasnya atau oleh arus yang diam, oleh permukaan atau kedalaman, oleh tumbuh-tumbuhan air dan arah angin. Dalam situasi yang demikian, setiap sampel dari berbagai daerah-daerah itu memerlukan penelitian atau pengujian lagi.
6) Metode Berfikir Reflektif
Metode yang telah dikemukakan di atas sebenarnya tidak terpisah dan bertentangan, melainkan saling berhubungan dan saling isi-mengisi antara yang satu dengan yang lainnya. Kenyataannya kita tidak mungkin mempergunakan metode-metode secara tepisah satu sama lainnya. Pada umumnya kita dapat mengatakan bahwa metode ilmu merupakan suatu kumpulan terminologi yang menunjukkan berbagai proses dan langkah, di pelbagai pengetahuan itu disusun, Metode reflective thingking pada umumnya melalui enam tahap, yaitu:
a. Adanya kesadaran kepada sesuatu permasalahan
Biasanya berpikir itu mulai berjalan apabila ada sesuatu hambatan atau kesulitan. Dimulainya apabila kita mulai ingin tahu kepada sesuatu, atau apabila ada beberapa permasalahan yang pasti yang harus dipecahkan. Kesanggupan untuk menyatakan masalah secara jelas dan tepat sangatlah penting tanpa penjelasan masalah yang jelas, kita tidak akan tahu fakta apa yang harus dikumpulkan.
b. Data yang diperoleh dan relevan yang harus dikumpulkan
Untuk masalah yang sederhana, data mungkin mudah diperolehnya, namun untuk yang lainnya mungkin memerlukan waktu yang berbulan-bulan atau bertahun-tahun untuk menemukan data-data yang diperlukan. Fakta yang ingin kita peroleh kadang-kadang kita temukan melalui penelitian yang seksama .
c. Data yang terorganisir
Yaitu yang telah disusun/dihitung, dianalisis dan diklasifikasi. Perlu kiranya diadakan perbandingan dan perbedaannya, dan diusahakan agar data itu mempunyai arti. Perhitungan, analisis, dan klasifikasi merupakan dasar metode yang ilmiah.
d. Formulasi hipotesis
Berbagai permasalahan sementara mungkin akan terjadi kepada imuwan pada waktu memproses, menganalisis dan mengkalsifikasi. Saran-saran atau perkiraan yang mungkin timbul sewaktu si peneliti itu sedang menguji permasalahan atau pokok soal yang ia sedang kerjakan. Ia akan memilih dari sekumpulan data yang sedang ia kerjakan, suatu data yang sangat dekat probabilitasnya untuk diuji. Tidak ada pembatasan dalam jumlah hipotesis yang ia rencanakan. Sementara itu tidak ada peraturan yang kaku untuk memformulasikannya, sebuah hipotesis harus masuk di akal, harus menjadi sebuah deduksi untuk diuji, dan harus merupakan penuntun untuk penelitian berikutnya.
e. Deduksi harus berasal dari hipotesis
Dalam mengambil kesimpulan prinsip logika formal akan membantu kita. Matematik mungkin akan membantu kita untuk menemukan bentuk-bentuk perumusan dan hubungan-hubungannya, yang akan ditemukan dalam penelitian tersebut. Mempertimbangkan contoh pengungkapan deduksi yang berasal dari hipotesis, seperti berikut: “Seandainya A dan B itu benar, maka C pun harus benar”. Hal ini mengarah kepada langkah selanjutnya.
f. Pembuktian kebenaran verifikasi
Setelah ditentukan dengan cara analisis deduktif, apapun akan benar seandainya hipotesis itu benar, kemudian kita lihat apakah kondisi-kondisi lainnya sebagai suatu kenyataan itu benar pula. Seandainya itu menyatakn benar, maka hipotesis kita telah dibuktikan kebenarannya.
Proses pembuktian kebenaran ini dapat dilakukan dengan mempergunakan media observasi, eksperimen atau dengan mencek ketepatan dari hipotesis yang berhubungan dengan faktanya yang akan kita percayai kebenarannya. Seandainya sebuah hipotesis itu kita buang karena tidak benar, kita kembali pada permulaan lagi dan memilih kembali hipotesis lain dan diproses seperti semula lagi. Pengujian kebenaran/verifikasi hanya akan memberikan kepada pendekatan kebenaran saja atau hanya akan memberikan kepada kita derajat probabilitasnya saja. Dalam beberapa hal pengujian ini menunjukkan kemungkinan ketepatan yang tinggi, tetapi kita harus tepat memegang teguh kesimpulan kita secara sementara saja, dan siap untuk menukarnya seandainya ada hal-hal yang baru yang mengisyaratkan untuk mengadakn penyelidikan yang lebih lanjut lagi.
Keenam langkah itu dapat dilaksanakan, dimanapun reflective-thingking ini dijalankan. Seandainya metode ilmiah ini dapat dimengerti secara keseluruhannya, maka ia dapat diterapkan kepada setiap lapangan pengalaman manusia. Mereka yang mengklaim bahwa metode ilmiah itu sangat terbatas sifatnya, biasanya mereka menerapkannya dalam bidang yang terbatas, di mana bahan penelitiannya sangat obyektif dan mungkin hasilnya dinyatakan secara matematis atau dalam bentuk kuantitatif. Misalnya di mana seseorang bekerja dalam bidang ilmu alam menggunakan istilah ilmu pengetahuan dan metode ilmu pendidikan yang dipergunakan dalam bidang sosial.















DAFTAR PUSTAKA

M. Ed. Indar Djubneransyah, Drs. H. M. Filsafat Pendidikan. Karya Abditama. Surabaya. 1994.

Salam Burhanuddin, Drs. Pengantar Filsafat. Bumi Aksara. Jakarta. 2000.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda